Teladan dan Pengorbanan dalam Perjuangan


 
Sejarah perjuangan Islam dipenuhi dengan teladan dan pengorbanan. Para pendahulu umat ini telah memberikan contoh mengagumkan  bagaimana mereka berjuang. Semua yang mereka punya baik harta dan jiwa sekalipun tak ragu untuk dipersembahkan demi tegaknya syariat Allah.

Semangat yang mereka miliki melebihi kelompok manapun juga. Ketika orang-orang berjuang untuk meraih kenikmatan dunia, maka para penolong dienulah berjuang untuk meraih kehidupan akhirat. Kematian bukanlah momok yang menakutkan, justru menjadi momen yang dinantikan. Lepasnya ruh dari jiwa raga ketika membela Rabbnya adalah cita-cita dan harapan termulia.

Tentu sudah tak asing lagi bagi kita kisah-kisah Rasulullah SAW beserta para sahabatnya mendakwahkan Islam. Betapa heroiknya generasi terbaik umat ini mendampingi Rasulullah SAW dalam berdakwah. Tidak mengherankan sebab mereka adalah kelompok manusia yang langsung berada di bawah tarbiyah Rasulullah.

Teladan dan Pengorbanan Generasi Terbaik Umat Ini

Adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, generasi assabiqunal awwalun yang paling dekat dengan Rasulullah. Dengan resiko kehilangan nyawa, dirinya menemani Nabi hijrah ke Madinah. Padahal pada saat itu orang-orang kafir Quraisy sedang memburu mereka berdua dengan pedang-pedang yang siap diayunkan.

Namun, hal itu tidak menyurutkan tekad Abu Bakar untuk menyertai Rasul.
Pengorbanan harta? Abu Bakar adalah sosok yang tidak pernah berpikir panjang dalam soal harta. Mungkin kita mengenal sosok-sosok saudagar kaya dari kalangan sahabat seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan lainnya. Memang dalam soal jumlah harta Abu Bakar bukanlah yang terbanyak. Namun, tatkala ada seruan Rasulullah untuk memerangi pasukan Romawi, maka semua sahabat berlomba mengeluarkan harta.
Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarokfuri dalam Sirah Nabawiyahnya menyebutkan bahwa Abu Bakar adalah sahabat yang pertama kali datang kepada Nabi dan menyerahkan seluruh hartanya. Ungkapan yang masyhur sampai saat ini adalah jawaban Abu Bakar ketika ditanya Nabi apa yang ia tinggalkan untuk keluarganya. Maka ia menjawab,”Aku telah meninggalkan dua hal yang lebih baik dari dunia dan seisinya, yaitu Allah dan Rasul-Nya.”

Keteladanan lainnya adalah saat sahabat mulia ini diangkat menjadi khalifah yang pertama. Ia adalah sosok yang tegas memerangi siapa saja yang mencoba mengubah syariat Islam dengan meninggalkan kewajiban zakat dan para nabi palsu.

Sosok sahabat lainnya adalah Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Ghifari yang rela menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan hidayah Allah. Di saat Islam dalam fase dakwah secara sembunyi-sembunyi, Abu Dzar dengan keberaniannya mengungkapkan keimanannya di Masjidil Haram.

Khalid Muhammad Khalid dalam Rijalun Haula Rasul menyebutkan ini adalah teriakan pertama tentang dien Islam yang menentang kesombongan kafir Quraisy dan memekakkan telinga mereka. Tanpa ada pelindung dan kerabat Abu Dzar berani melakukan hal itu dan ia ulangi untuk kedua kalinya di hari berikutnya. Sungguh teladan keberanian yang mengagumkan.

Satu lagi, sahabat yang dikenal dengan sangat benci kemunafikan, yaitu kakak dari khalifah kedua, Zaid bin Khattab. Ketika mendengar Rajjal bin Unfuwah murtad dan membelot pada Musailamah, ia sosok yang paling murka  dan terbakar kemarahannya untuk menjumpai Rajjal.

Pada akhirnya ketika pecah pertempuran di Yamamah, Zaid berhasil menebas leher sang pengkhianat yang menyebabkan pasukan nabi palsu kocar-kacir. Zaid pun menjemput syahid pada peperangan ini hingga Amirul Mukminin Umar bin Khattab berujar, ” Rahmat Allah bagi Zaid. Ia mendahuluiku dengan dua kebaikan. Ia masuk Islam lebih dahulu dan gugur sebagai syahid lebih dahulu pula.”

Teladan dan Pengorbanan Para Mujahidin Nusantara

Ketika Portugis dengan misi zendingnya memasuki bumi Nusantara, khususnya Maluku. Selain untuk berdagang ternyata Portugis berhasrat menguasai wilayah Ternate. Bahkan mereka memiliki misi kristenisasi. Maka, Sultan Baabullah yang diangkat menggantikan Khairun secara tegas menyerukan jihad pada seluruh rakyat Ternate dan negeri-negeri di sekitarnya untuk menghancurkan dan mengusir Portugis dari Maluku.

Ketegasan sultan Baabulah ini patut diteladani. Akhirnya, rakyat dan negeri-negeri sekitar Ternate menyambut seruan jihad Sultan Baabullah. Serangan terhadap Portugis dilakukan secara serentak dengan dukungan tersebut. Dimulai dengan markasnya di Ambon untuk mencegah bala bantuan masuk. Dilanjutkan dengan membersihkan seluruh Kepulauan Maluku dari orang-orang Portugis. Markas Portugis di Benteng Gamalama pun mulai dikepung. Orang-orang Portugis yang menyerah semua dimasukkan ke dalam benteng tersebut. Pengepungan berlangsung sampai lima tahun tanpa aksi militer. Pasokan bahan makanan yang semakin lama semakin dibatasi membuat orang-orang Portugis seakan di dalam Penjara yang besar.

Pada tahun kelima tepatnya 28 Desember 1575, bertepatan dengan Saint Stephen’s Day (Hari Suci Santo Stefanus), Portugis menyerah tanpa syarat setelah diultimatum oleh Sultan Baabullah. Gubernur dan Pasukan Portugis keluar dari benteng dengan menunduk dan dengan kondisi tubuh yang kurus kering dan sangat lemah karena kekurangan gizi dan serangan penyakit. Dari semula 900 orang yang terkepung dalam Benteng tinggal 400 orang saja yang keluar saat menyerah pada Sultan Baabullah. Portugis menyerah dan keluar dari Maluku dengan hina setelah berkuasa dan berjaya mengeruk keuntungan dengan zalim di Maluku selama 53 tahun (1522-1575). (Syamina Edisi 10 / Juli 2016)

Beralih ke pulau Jawa, ada seorang pangeran begitu merakyat dan terbiasa bergaul dengan para petani. Menyamar sebagai orang biasa dengan berpakaian wulung. Ya, ia adalah Raden Mas Ontowiryo atau lebih dikenal dengan nama Pangeran Diponegoro. Keteladanan yang dapat diambil dari sosoknya adalah keuletannya dalam belajar. Meski darah ningrat mengalir di dalam dirinya tak menyurutkan untuk belajar khususnya Ilmu agama dengan serius.

Louw dalam De Java Oorlog Van 1825 – 1830, menulis: “Sebagai seorang yang berjiwa Islam, ia sangat rajin dan taqwa sekali hingga mendekati keterlaluan.” Tak heran Diponegoro dikenal dengan  sosok yang istimewa. Dekat dengan rakyat sebagaimana Rasulullah berbaur dengan para sahabatnya. Sangat berhati-hati dalam menggunakan uang, benci pada keangkuhan, dekat dengan alam dan bersifat penyayang bahkan pada hewan peliharaan.
Karena kedekatannya dengan para santri dan ulama, Diponegoro banyak mendapatkan simpati dan legitimasi para ulama ketika Belanda mulai mengacaukan tatanan di pulau Jawa.

Terjadilah perang Jawa pada tahun 1825-1830. Itulah masa dimana untuk pertama kali sebuah pemerintah kolonial Eropa menghadapi pemberontakan sosial yang berkobar di sebagian besar Pulau Jawa. Hampir seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta banyak daerah lain di sepanjang pantai utara Jawa terkena dampak pergolakan itu.

Diponegoro berhasil menyatukan perlawanan dengan dilandasi jihad fi sabilillah. Ia rela meninggalkan gelar kesultanan karena tahu bahwa untuk menjadi Raja yang mengangkat adalah orang Belanda. Diponegoro tidak ingin dimasukkan kepada golongan orang-orang murtad.

Pengembaraannya di kalangan komunitas santri disertai pendalamannya atas sejarah Nabi Muhammad SAW telah mengubah sikap dan gagasannya tentang masyarakatnya. Situasi dan kondisi masyarakat Jawa masa itu dipersepsikannya identik dengan masyarakat Arab jaman pra Islam.  Sehingga ia merasa berkewajiban mengubahnya menjadi masyarakat Islami yang berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW.

Gagasannya itu hanya dapat dicapai melalui perang Sabil terhadap orang kafir. Pendirian Pangeran Diponegoro semakin teguh dan secara simbolik untuk menegaskan idealisme sikapnya itu ia mulai menanggalkan pakaian Jawa dan menggantinya dengan pakaian jubah dan surban yang serba putih.

Diponegoro bertekad untuk membentuk negara Islam dan menjadi khalifah di tanah Jawa. Namun niat itu gagal bukan karena tujuan dan metodenya yang salah, tetapi karena kekuatan yang tak seimbang, baik manpower, persenjataan, perlengkapan dan pengkianatan bangsa sendiri yang sebagian besar membantu Belanda yang kafir; di samping tipu muslihat yang licik dan keji yang dilakukan oleh penguasa kolonial Belanda. (Syamina, EDISI XII / JUNI 2014)

Teladan dan Pengorbanan Mujahidin Masa Kini

Pasca runtuhnya supremasi Islam pada Senin, 3 Maret 1924, umat Islam terombang-ambing tanpa pemerintahan yang berlandaskan syariat Islam. Akhirnya, bermunculan gerakan atau harakah yang bertujuan mengembalikan kejayaan Islam.

Muncullah tokoh-tokoh perjuangan yang banyak memberikan teladan dan pengorbanan untuk Islam. Dimulai dengan berdirinya Ikhwanul Muslimin, induk dari gerakan-gerakan sekarang ini oleh syaikh Hasan Al-Banna. Disusul dengan harakah lainnya yang mewarnai pergerakan Islam.

Pada akhirnya umat Islam terkotak-kotak dengan garis batas negara dan mulai teracuni virus nasionalisme. Umat Islam tertindas di berbagai belahan dunia. Kaum muslimin pun tidak tinggal diam dan melahirkan pahlawan-pahlawan Islam.

Dari daratan Chehcnya kita mengenal Jenderal Khattab. Ketika kesenangan duniawi begitu menggejala pada saat itu, sampai-sampai Khattab diterima kerja di Serikat Aramco Petrol di provinsi Zahran, sebelah timur Su’udiyah di bawah organisasi CBC. Inilah impian setiap pemuda yang menginginkan penghasilan tinggi saat itu. Khattab menerima gaji sevesar 2500 real.

Bahkan, Khattab sempat bercita-cita ingin membangun sebuah istana seluas 3500 meter persegi. Istana tersebut direncanakan memiliki sebuah garasi yang dapat memuat lima buah mobil. Salah satunya sebuah mobil keluarga dan lainnya mobil pribadi yang digunakan untuk melakukan perjalanan di padang sahara.

Khattab juga menginginkan 20 bidang tanah untuk keluarganya dan semua fasilitas untuk kemudahan hidup, transportasi dan impian-impian lainnya. Hidayah Allah pun menghampiri Khattab, ia menanggalkan semua kesenangan dunia. Khattab lebih memilih hidup bergumul dengan debu-debu jihad di Afghanistan.
Khattab dikenal sebagai mujahid pemberani yang tidak pernah duduk diam berlindung saat dihujani tembakan musuh. Ia selalu aktif mencari celah untuk balas menyerang. Khattab juga dikenal sebagai seorang yang tak pernah memperlihatkan rasa sakit akibat luka yang dideritanya di medan pertempuran.
Singkat cerita, Khattab dikenal sebagai pemimpin yang disegani. Rusia kewalahan menghadapi jenderal Khattab di Chechnya. Pada akhirnya ia syahid karena pengkhianatan dari orang kepercayaannya sendiri.

Banyak sekali sebenarnya teladan dan pengorbanan umat Islam khususnya mujahidin abad ini. Rerata mereka adalah orang-orang yang memandang dunia ini hanya sebelah mata. Kita sebut saja syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah, syaikh Abdullah Al-Muhaisini hafidzahullah dan lainnya. Seandainya mereka ingin mendapatkan kesenangan dunia, cukup mereka bertahan di negara petro dollar saja. Tidak perlu repot-repot menghibahkan diri dalam jihad Islam.
Namun, hal itu tidak dilakukan karena keyakinan dalam diri bahwa di atas pundak mereka bertumpuk beban perjuangan. Jiwa mereka terpanggil untuk mengembalikan kedigdayaan Islam yang dirobek-robek oleh musuh Allah.

Keyakinan dan kesadaran ini tidak sembarangan dimiliki setiap muslim. Berbahagialah bagi setiap jiwa yang disadarkan Allah akan pentingnya perjuangan. Bukan hanya melulu soal dunia tetapi lebih berorientasi pada akhirat semata. Dengan keteladanan dan pengorbanan yang telah dipertontonkan generasi sebelumnya dan masih berjalan saat ini, setidaknya membuat kita tercambuk untuk mencontoh dan ikut serta dalam jihad demi terwujudnya izzatul Islam wa muslimin. Wallahu a’lam bi shawab.



Sumber : disini

Related

Artikel Kajian Islam 7771666703823700345

Post a Comment

Channel Dakwah di Facebook

Channel Dakwah di Facebook
Jendela Menuju Ilmu Syar'i

Channel Dakwah Telegram

Channel Dakwah Telegram
Jendela Menuju Ilmu Syar'i

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Folow Me on Google Plus

FOLLOW ME ON FANSPAGE

Translate

item