Ramadhan dan Pendidikan Jihad



Ramadhan. Selain dinamakan dengan bulan puasa (syahrus siyam), ia juga disebut sebagai bulan jihad (syahrul jihad). Sebutan tersebut tidak lain karena banyaknya sisi yang selaras antara Ramadhan dan jihad fi sabilillah. Kedua syariat ini memang memiliki ikatan penghubung yang sangat erat. Di antara contoh yang paling tampak misalnya, Ramadhan adalah bulan untuk melatih kesabaran atas segala bentuk kesulitan. Demikian juga dengan jihad, ia juga merupakan perintah yang dituntut untuk selalu bersabar atas setiap himpitan musuh.

Selain itu, kesamaan lainnya juga adalah puasa Ramadhan merupakan syariat yang berlaku hingga hari kiamat. Sama halnya dengan jihad, ia juga syariat yang terus berlangsung hingga hari kiamat. Tujuannya, untuk menjaga akidah, kehormatan, harta, jiwa dan wilayah kaum muslimin. Keterangan ini telah ditegaskan dalam banyak hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya riwayat dari Anas bin Malik radhiyallhu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالْجِهَادُ مَاضٍ مُنْذُ بَعَثَنِيَ اللهُ إِلَى أَنْ يُقَاتِلَ آخِرُ أُمَّتِيْ الدَّجَّالَ لاَ يُبْطِلُهُ جُوْرُ جَائِرٍ وَلاَ عَدْلُ عَادِلٍ

“Jihad akan senantiasa berlangsung sejak Allah mengutusku hingga umatku yang terakhir memerangi Dajjal, ia tidak akan dihentikan oleh kezaliman orang zalim ataupun keadilan orang adil,” (HR. Abu Dawud)
Besarnya pengaruh puasa bagi tegaknya syariat jihad bisa ditandai dengan banyaknya capaian kemengangan yang diperoleh kaum muslimin di bulan Ramadhan. Sejarah telah mengingatkan kita tentang peristiwa kemenangan-kemenangan besar yang menjadi titik awal perubahan Islam.

Di antara catatan sejarah kemenangan umat Islam di bulan Ramadhan yang paling fenomenal adalah Perang Badar, Penaklukan Mekah, Perang Buwaib, Perang Qodisiah, Pertempuran Hittin, Pertempuran ‘Ain Jalut, Penaklukan kota Andalus, Penaklukan India dan Pakistan, Penaklukan kota Amuriyah, Penaklukan kota Sirakusa dari tangan Romawi, Pertempuran Manzikert atau Malazgirt dan sejumlah perang lainnya. Semua kemenangan dalam perang tersebut diraih pada saat kaum muslimin diwajibkan untuk berpuasa. Ini artinya bulan Ramadhan adalah bulan jihad, kemenangan serta kemuliaan bagi umat Islam.

Ramadhan, Ajang Persiapan Membentuk Generasi Tangguh

Salah satu hikmah terpenting Ramadhan adalah Allah Ta’ala hendak melahirkan generasi baru dari umat ini yang siap bangkit membangun kejayaan Islam. Dalam kitab, Ramadhan wa Bina’ al-Ummah, DR. Raghib As-Shirjani menjelaskan bahwa Ramadhan adalah salah satu bentuk pendidikan Rabbani dalam menyiapkan generasi tangguh yang siap bertempur meninggikan kalimatullah.

Menurut beliau, agar bisa memahami masalah ini dari akarnya, kita harus mengulang sekelumit sejarah tentang kapan diwajibkannya puasa Ramadhan?
Dalam banyak riwayat, perintah puasa di bulan Ramadhan diturunkan oleh Allah pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriyah. Tepatnya pada tanggal 2 Sya’ban. Ternyata ketika mengkaji lebih jauh tentang peristiwa yang terjadi pada bulan Sya’ban, maka akan kita dapati empat peristiwa penting yang Allah turunkan pada bulan tersebut, yaitu:
  • Pertama: Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan.
  • Kedua: Kewajiban jihad bagi kaum muslimin setelah sebelumnya hanya diizinkan saja. Berperang menjadi wajib ketika turun firman Allah ‘azza wa jalla:
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيْلِ اللهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas,” (Al-Baqarah: 190)
  • Ketiga: Perubahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 2 Hijriah
  • Keempat: Kewajiban berzakat. Sebenarnya zakat telah diwajibkan di Makkah, namun tanpa batasan nishab. Lalu ditentukanlah batasan nishab pada bulan Sya’ban tahun ke-2 H.
Inilah empat peristiwa yang sangat penting dalam Islam. Keempat-empatnya terjadi pada bulan yang sama, yaitu bulan Sya’ban Tahun 2 Hijriah. Mengapa demikian? Sebab, di bulan berikutnya, Allah hendak mempertemukan kaum muslimin dengan sebuah peristiwa penting yang membutuhkan persiapan serta tarbiyah (pendidikan) yang matang.

Iya, sebuah peristiwa penting, yaitu akan terjadinya perang Badar Kubra pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah. Perang yang diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an dengan sebutan yaumul furqon (Hari Pembeda). Sebab, waktu itu Allah hendak membedakan antara yang haq dan yang batil. Perang penentuan terhadap masing-masing golongan, serta pembuktian atas benar dan tidaknya perjuangan. Sangatlah wajar jika pertempuran tersebut membutuhkan sebuah persiapan yang cukup matang.
Sejarah mencatat, tidak banyak dari kaum muslimin yang ikut perang penentuan tersebut. Jumlah mereka hanya 313 orang. Sementara dari pihak musuh, jumlahnya mencapai 1000 personil dengan persenjataan lengkap. Kondisi ini menyebabkan Nabi SAW berulangkali berdoa kepada Allah:

اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ

“Ya Allah, jika pasukan yang kecil ini (Umat Islam) Engkau binasakan pada hari ini, Engkau tidak akan disembah,’ (HR. Muslim)

Dengan doa yang dilafazkan oleh Nabi, kemudian diiringi dengan keteguhan iman dan ketangguhan para sahabat dalam melawan musuh, Allah ta’ala pun menurunkan kemenangan kepada kaum muslimin. Dan akhirnya, ajaran Islam tegak serta tersebar ke seluruh Jazirah Arab.

Peristiwa di atas memberi satu perlajaran penting buat kita, yaitu musuh yang berjumlah tiga kali lipat bukan hal yang mustahil untuk dikalahkan. Tapi pertanyaannya,  Apa yang harus dipersiapkan untuk memenangkan pertempuran seperti itu?

Hikmah dibalik turunnya empat peristiwa besar yang disebutkan di atas, menjadi jawaban atas semua pertanyaan tersebut. Di balik kesuksesan para sahabat, menyimpan sejuta pelajaran bagi umat berikutnya. Salah satunya adalah pendidikan Rabbani yang mereka tempuh dengan sempurna.  Sebelum terjadinya perang Badar, yaitu bulan Sya’ban tahun 2 Hijriah. Allah menurunkan perintah puasa guna mendidik mereka agar mampu bertahan dalam pertempuran tersebut.

Ramadhan adalah bulan pendidikan untuk membangun jiwa yang selalu taat serta tunduk kepada Allah. Sehingga dari jiwa yang taat, muncullah pribadi-pribadi yang selalu bertaqwa kepada Allah. Semua hikmah yang disebutkan di atas menduduki peran penting bagi para mujahidin agar siap menghadapi pertempuran.

Dan hikmah yang didapatkan dari puasa adalah mampu membangun karakter yang siap mengalami berbagai kesulitan, siap menahan diri dari lapar dan dahaga serta siap menghadapi segala bentuk resiko dalam perperangan, atau bahkan mati sekalipun. Wallahu a’lam bis shawab!




Sumber : disini

Related

Artikel Kajian Islam 1879020409370552142

Post a Comment

Channel Dakwah di Facebook

Channel Dakwah di Facebook
Jendela Menuju Ilmu Syar'i

Channel Dakwah Telegram

Channel Dakwah Telegram
Jendela Menuju Ilmu Syar'i

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Folow Me on Google Plus

FOLLOW ME ON FANSPAGE

Translate

item