Islam Kaffah VS Islam Separo


 
Wahai para aktifis, syariat yang mana lagi yang ingin anda tegakkan? Bukankah anda sudah diperbolehkan sholat, difasilitasi haji, pengajian-pun tidak diganggu, anda bisa puasa dengan aman dan tenang, pernikahan sesuai syariat-pun difasilitasi, bahkan sudah disediakan kantor urusan agama, anda lihat bahwa sebagian besar syariat sudah dilaksanakan. Syariat yang belum paling syariat hudud (hukum pidana Islam). Adapun 75% syariat Islam sudah di laksanakan, apalagi yang anda inginkan?

Syariat Islam adalah sebuah kata general yang disepakati oleh umat Islam. Namun, kita perlu  memperjelas cakupan syariat Islam. Karena para ulama berkata, “Vonis terhadap sesuatu adalah gambaran seseorang terhadap objek vonis.” Sederhananya begini, saat orang buta diminta untuk mengenali gajah, maka jika dia memegang belalainya, si buta akan mengatakan bahwa gajah itu panjang dan bulat seperti paralon.

Nah, untuk memiliki tashowwur (pandangan) yang jelas dan akurat tentang persentase tegaknya syariat Islam di Indonesia, kita harus paham dan mengerti apa itu syariat Islam dan apa saja yang menjadi cakupannya.
Al Kholil bin Ahmad berkata :

  الشَّريعة والشّرائع : ما شرع الله للعباد من أمر الدين، وأمرهم بالتمسك به من الصلاة والصوم والحج وشبهه

Artinya, “Syariah dan syara’i (bentuk jamak dari syariah) adalah segala urusan agama yang Allah syariatkan kepada hamba-Nya dan apa yang Allah perintahkan untuk berpegang teguh dengannya seperti sholat, puasa, haji dan hal yang serupa.” (Al Ain 1/253)

Ibnu Taimiyah berkata :

وَحَقِيقَةُ الشَّرِيعَةِ اتِّبَاعُ الرُّسُلِ وَالدُّخُولُ تَحْتَ طَاعَتِهِمْ كَمَا أَنَّ الْخُرُوجَ عَنْهَا خُرُوجٌ عَنْ طَاعَةِ الرُّسُلِ وَطَاعَةُ الرُّسُلِ هِيَ دِينُ اللَّهِ

Artinya, “Hakikat syariat itu adalah mengikuti para rasul dan taat kepada mereka. Sebagaimana tidak taat kepada syariat sama halnya tidak taat kepada para rasul. Dan taat pada para rasul itu adalah inti agama Allah.(Majmu’ Fatawa 19/309)

Syaikh Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya “Al-Muhadhoroh fi Asy-Syariah Al islamiyah wa Fiqhuha wa Mashodiruha” berkata :

هي كل ماجاء به محمد صلى الله عليه وسلم عن الله عز وجل سواء كان مايتعلق بإصلاح العقيدة لتحرير العقل البشري من رق الوثنية و الخرافات..وما يتعلق بإصلاح الأخلاق لتحرير الإنسان من زيغ الأهواء وفتنة الشهوات ومايتعلق بإصلاح المجتمع لتحرير الأمة من الظلم والفوضى والاستبداد

Artinya, “Syariat Islam adalah segala sesuatu dari Allah yang dibawa oleh Muhammad SAW, baik berupa urusan akidah guna membebaskan akal manusia dari perbudakan berhala dan khurafat dan yang berupa akhlak, guna membebaskan manusia dari sesatnya hawa nafsu dan fitnah syahwat dan berupa hal yang mengatur perbaikan masyarakat guna membebaskan manusia dari kezaliman, kekacauan dan kediktatoran.” (Al-Muhadhoroh fi Asy-Syariah Al islamiyah wa Fiqhuha wa Mashodiruha, hal 6)

Dari tiga pengertian di atas, nampak sekali bahwa syariat Islam itu mencakup hal yang sangat luas sekali, walaupun oleh Syaikh Abdullah Nashih Ulwan disimpulkan kepada tiga pondasi pokok, yaitu Akidah, ibadah ruhiyah dan sistem perundang-undangan dan peradilan.

Salah satu dari sifat syariat islam adalah syumul (komprehensif), hal ini terlihat bagaimana teks-teks keagamaan Islam memberikan solusi dan panduan dalam seluruh aspek kehidupan. Sebagai contoh, terkait hubungan antar warga sipil, Islam memerintahkan untuk menepati setiap akad, Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ لَكُم بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagi kalian hewan ternak kecuali apa-apa yang dibacakan kepadamu, dengan tidak menghalalkan buruan sedangkan kalian dalam kondisi ihram. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.” (QS Al-Maidah : 1)

Dalam masalah ekonomi, Islam melarang umatnya memakan harta orang lain secara batil, Allah SWT berirman :

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya, “Dan Janganlah kalian memakan harta sesame kalian secara batil. Dan janganlah kalian membawa urusan harta itu kepada hakim supaya kalian dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain dengan (jalan) dosa. Padahal kalian mengetahui.” (QS Al Baqoroh : 188)

Dalam dasar mengambil keputusan bagi khalifah dan para ulil amri, Islam memerintahkan syuro. Allah SWT berfirman :
وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

Artinya, “Dan orang-orang yang menerima (panggilan) Rabb mereka, mendirikan sholat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka dan mereka menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan.” (QS Asy Syuro : 38)

Dalam masalah memutuskan sengketa, Islam memiliki prinsip adil, Allah SWT berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Artinya, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. Jika kalian memtuskan perkara hendaklah kalian memutuskannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS An Nisa’ : 58)

Islam juga memberlakukan hukuman atas tindak kriminal, di antaranya dosa membunuh dihukum dengan qishos, Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى ۖ الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنثَىٰ بِالْأُنثَىٰ ۚ فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ۗ ذَٰلِكَ تَخْفِيفٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ ۗ فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabb kamu dan suatu rabmat. Barangsiapa yang melampui batas sesudah itu maka baginya siksa yang sangat pedih.” (QS Al-Baqoroh : 178)

Dalam rangka membela agama, Islam memerintahkan untuk I’dad (melakukan persiapan perang), Allah SWT berfirman :

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

Artinya, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS Al-Anfal : 60)


Dari pemaparan tentang sifat syariat Islam yang komprehensif, sudah berapa persenkah yang terwujud? Sudahkah 75%? Toh kalau seandainya kita anggap pembolehan sholat, fasilitasi haji, pegaturan pernikahan sebagai 75% dari 100 persen, kita masih dihadapkan pada ayat berikutnya. Yaitu firman Allah SWT :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam agama Islam secara kaffah (menyeluruh). Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh kalian yang nyata.” (QS Al-Baqoroh : 208)

Mengomentari ayat ini, Imam Al-Baidhowi berkata :

والمعنى استسلموا لله وأطيعوه جملة ظاهرا وباطنا والخطاب للمنافقين أو ادخلوا في الإسلام بكليتكم ولا تخلطوا به غيره والخطاب لمؤمني أهل الكتاب فإنهم بعد إسلامهم عظموا السبت وحرموا الإبل وألبانها أو في شرائع الله كلها بالإيمان بالأنبياء والكتب جميعا والخطاب لأهل الكتاب أو في شعب الإسلام وأحكامه كلها فلا تخلوا بشيء والخطاب للمسلمين {ولا تتبعوا خطوات الشيطان} بالتفرق والتفريق {إنه لكم عدو مبين} ظاهر العداوة

Artinya, “Maknanya adalah menyerahlah kepada Allah dan taatilah diri-Nya secara total baik secara lahir maupun batin, jika mukhotob (lawan bicara) orang munafik. Masuklah kalian ke dalam agama Islam secara totalitas, jangan kalian mencampurkan keislaman dengan yang lain, jika mukhotobnya mukmin bekas ahlul kitab karena mereka setelah masuk Islam masih mengagungkan hari sabtu, mengharamkan unta dan susunya. Masuklah kalian ke dalam syariat Allah secara total dengan beriman kepada para nabi dan kitab-kitab,  jika objek ayat ini ahlul kitab. Masuklah kalian ke dalam cabang-cabang keislaman dan hukum-hukumnya, jika mukhotobnya kaum muslimin. Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan, yaitu dengan membeda-bedakan dan memisahkan, karena sesungguhnya setan itu amat nampak permusuhannya.(Tafsir Al-Baidhowi 1/492)

Di dalam tafsiran ini imam Baidhowi membagi mukhotob dari ayat ini, ada munafik, muslim yang dulunya Yahudi, ahlul kitab dan umat Islam, dan makna kaffah di dalam ayat akan berbeda porsi dan ukurannya sesuai kelompok mukhotob.

Menarik, pada bagian akhir dari tafsirannya Imam Al-Baidhowi menyebutkan bahwa di antara langkah setan dalam menghalangi manusia masuk ke dalam Islam secara kaffah, yaitu dengan membeda-bedakan dan memisahkan satu syariat dengan syariat lainnya. Memisahkan antara sholat dan jihad, membedakan antara shoum dan qishosh padahal sama-sama menggunakan lafaz kutiba (diwajibkan), mengotak-ngotakkan perintah haji dan perintah memotong tangan para pencuri. Padahal Rabb yang memerintahkan untuk sholat adalah Rabb yang menyuruh hambanya berjihad. Dzat yang mewajibkan shoum, adalah Dzat yag sama mewajibkan qishosh.

Sebab turunnya ayat ini adalah adanya sekelompok dari para sahabat yang mantan Yahudi ingin memasukkan unsur agama Yahudi ke dalam Islam. Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Jarir Ath-Thobari di dalam tafsirnya, beliau berkata :

عن عكرمة قوله:” ادخلوا في السلم كافة” ، قال: نزلت في ثعلبة، وعبد الله بن سلام وابن يامين وأسد وأسَيْد ابني كعب وسَعْيَة بن عمرو وقيس بن زيد- كلهم من يهود- قالوا: يا رسول الله، يوم السبت يومٌ كنا نعظمه، فدعنا فلنُسبِت فيه! وإن التوراة كتاب الله، فدعنا فلنقم بها بالليل ! فنزلت:” يا أيها الذين آمنوا ادخلوا في السلم كافة ولا تتبعوا خطوات الشيطان”

Artinya, “Dari Ikrimah berkata bahwa ayat “Masuklah kalian ke dalam Islam secara sempurna” turun kepada Tsa’labah, Abdullah bin Salam, Ibnu Yamin, Asad bin Ka’ab, Usaid bin Ka’ab, Sa’yah bin Amru dan Qais bin Zaid (semua mereka dulunya Yahudi), mereka berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu hari Sabtu adalah hari yang kami agungkan, tolong biarkan kami mengagungkannya lagi, sesungguhnya Taurat adalah kitabullah dan biarkan kami menghidupkannya di malam hari. Kemudian turun ayat ini.” (Tafsir Ath-Thobari 4/255)
Sementara Imam Mujahid menanggapi ayat ini beliau berkata :

في أحكام أهل الإسلام وأعمالهم {كَافَّة} أي جميعا

Artinya “Masuklah kalian ke dalam hukum-hukum Islam dan amalan-amalan keislaman secara kaffah atau komprehensif.” (Tafsir Al-Baghowi 1/240)
Mengomentari ayat ini syaikh Abdul Azis bin Baz berkata :

وهذا يدل على أن العبادة تقتضي: الانقياد التام لله تعالى، أمرا ونهيا واعتقادا وقولا وعملا، وأن تكون حياة المرء قائمة على شريعة الله، يحل ما أحل الله ويحرم ما حرم الله، ويخضع في سلوكه وأعماله وتصرفاته كلها لشرع الله، متجردا من حظوظ نفسه ونوازع هواه

Artinya, “Pegertian Ibadah ini menunjukkan bahwa ibadah menuntut adanya ketundukan paripurna kepada Allah baik itu perintah atau larangan, keyakinan, perkataan dan amalan. Dan seharusnya hidup seseorang berjalan di atas syariat Allah, menghalalkan apa yang dihalalkan Allah, mengharamkan apa yang diharamkan Allah, prilakunya, amalanya dan tindak-tanduknya tunduk kepada syariat Allah, terlepas dari kepentingan diri dan hawa nafsu.” (Syaikh Abdul Azis bin Baz dalam atikel “Wujubu Tahkiimi Syar’illah wa nabdzi ma kholafahu” )

Di dalam ayat ini ada perintah untuk menegakkan seluruh syariat Islam pada seluruh lini kehidupan tanpa membeda-bedakan satu syariat dengan yang lainnya tanpa terkecuali.

Gambaran Kaffah ini akan terpotret secara lebih sempurna jika kita melihat gambaran tugas Khalifah yang disebutkan oleh para ulama. Sebagaimana kita ketahui bahwa tugas utama khalifah adalah memastikan tegaknya syariat Islam di seluruh lini kehidupan. Di dalam kitab Al-Ahkam Sulthoniyah Imam Al-Mawardi menyebutkan beberapa tugas khalifah, di antaranya Imam Al Mawardi –rahimahullah– berkata bahwa kewajiban seorang khalifah itu ada 10, secara ringkas yaitu, menjaga akidah, menyelesaikan perselisihan, menebar keamanan, menerapkan hudud, menjaga perbatasan, memerangi musuh, menarik fai’ dan sedekah (zakat), menentukan jumlah santunan dan mendistribusikannya, mengangkat wali (gubernur, menteri, pegawai) yang amanah, terlibat langsung mengurusi negara.

Dari tugas-tugas yang disebutkan di atas, sudahkah, kira-kira sudahkan syariat Islam yang terwujud dalam tugas khalifah itu terimplementasi dalam kehidupan kita bernegara?

Hukum Islam adalah Pondasi Penting Syariat Islam

Wacana penegakkan syariat Islam yang dikampanyekan oleh para aktifis juga mencakup penerapan hukum Islam. Penerapan hukum Islam ini bahkan menjadi indikator utama tegak dan tidaknya syariat Islam dalam sebuah negara. Karena, dengan dengan hadirnya hukum Islam sebagai panglima maka otomatis lini-lini keIslaman lainnya akan terbawa.

Penerapan hukum Islam inilah yang menjadi kewajiban bagi umat Islam. Amat sangat banyak sekali perintah dalam Al-Quran terkait hal ini.
Allah SWT berfirman

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya, “Maka demi Rabb-mu, mereka tidak beriman sebelum menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka selisihkan. (Sehingga) tidak ada rasa keberatan di dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An-Nisa’ : 65)

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالًا بَعِيدًا

Artinya, “Tidakkah kamu (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu. Tetapi mereka masih mengiginkan berhukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk kufur terhadap thaghut itu. Dan setan bermaksud enyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS An-Nisa : 60)

وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللّهُ إِلَيْكَ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللّهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ * أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Artinya, “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdaya kamu terhadap sebagian yang Allah turunkan kepadamu. Jika mereka berpaling dari hukum Allah, maka ketahuilah sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan sungguh kebanyakan mereka berbuat fasik. Apkah hukum jahiiyah yang mereka inginkan? (hukum) siapakah yang lebih baik dari pada hukum Allah bagi orang-orang yang meyakini agamanya.” (QS Al-Maidah 49-50)

Di dalam ayat ini syaikh Abdul Azis bin Baz mengatakan bahwa Allah menegaskan wajibnya berhukum dengan hukum Allah dengan delapan penegasan.
  1. Perintah untuk behukum dengan hukum Allah pada firman Allah (وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ اللّهُ)
  2. Janganlah keinginan manusia dan kehendak mereka menjadi penghalang untuk tidak berhukum dengan hukum Allah dalam kondisi apapun (وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ)
  3. Peringatan bagi yang tidak menerapkan hukum Allah, baik pada hal yang sedikit maupun banyak, hal yang besar maupun kecil. (وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللّهُ إِلَيْكَ)
  4. Berpaling dari hukum Allah dan tidak menerimanya adalah dosa yang besar yang berakibat pada azab yang pedih (فَإِن تَوَلَّوْاْ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللّهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ)
  5. Allah memperingatkan jangan tertipu dengan banyaknya orang yang menentang hukum Allah (وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ)
  6. Allah mensifati selain hukum Allah dengan sebutan hukum jahiliyah (أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ)
  7. Allah menegaskan hukum Allah adalah yang paling baik dan paling adil (وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا)
  8. Konsekuensi dari keyakinan bahwa hukum Allah yang paling adil, sempurna dan sempurna adalah ketundukan dan kepatuhan disertai penerimaan terhadap hukum Allah (وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ)
وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya, “Dan Kami telah tetapkan di dalamnya (Taurat) bahwa nyawa (dibalas) nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi dan luka-luka-pun ada qishashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishas)nya maka itu menjadi penebus dosa baginya. Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang zalim.” (QS Al-Maidah : 45)

وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الْإِنْجِيلِ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya, “Dan hendaklah pengikut Injil memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka mereka itu adalah orang-orang fasik.” (QS Al-Maidah : 46)

Segudang ayat yang memerintahkan kepada umat islam untuk menegakkan hukum Islam, bisa menjadi bukti pentingnya penegakkan syariat bagi kaum muslimin. Kalau tidak penting bagaimana mungkin Allah mengulang-ulangnya dengan redaksi berbeda dan bermacam-macam?

Di atas penulis mengatakan bahwa penerapan hukum Islam menjadi indikator utama tegaknya syariat Islam di suatu negeri. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW :

عن أبي أمامة الباهلي رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : لتنقضن عرى الإسلام عروة عروة ، فكلما انتقضت عروة تشبث الناس بالتي تليها ، وأولهن نقضاً الحكم وآخرهن الصلاة

Artinya, Dari Abu Umamah Al-Bahili –radhiyallahu anhu- dari Rasulullah SAW bersabda “Ikatan Islam itu akan lepas satu per satu. Dan yang pertama kali lepas adalah penerapan hukum Islam. Jika satu ikatan lepas maka manusia akan berpegangan dengan yang lainnya.”
Syaikh Abdul Azis bin Baz berkata,

معناه ظاهر وهو عدم الحكم بشرع الله وهذا هو الواقع اليوم في غالب الدول المنتسبة للإسلام . ومعلوم أن الواجب على الجميع هو الحكم بشريعة الله في كل شيء والحذر من الحكم بالقوانين والأعراف المخالفة للشرع المطهر

Artinya, “Makna hadits ini cukup nampak. Yaitu tidak berhukum dengan hukum Allah, dan inilah yang hari ini terjadi kepada negara-negara yang menisbatkan diri kepada Islam. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa merupakan sebuah kewajiban kepada seluruh muslim untuk berhukum dengan syariat Allah dalam setiap masalah dan berhatai-hati dari berhukum dengan undang-undang positif dan adat istiadat yang bertentangan dengan syariat yang suci.” (sumber)

Hadits di atas mengindikasikan bahwa, jika penerapan hukum Islam tercabut, maka batas-batas Islam di semua lini akan kendor sehingga sedikit demi sedikit syariat Islam mulai ditinggalkan.

Penerapan hukum Islam ibarat rantai penghubung seluruh elemen syariat. Jika bagian itu putus, maka bagian lainnya akan sangat mudah sekali lepas dan tercerai berai. Sebagai contoh, kita bisa lihat hari ini, bagaimana umat begitu jauh dari pemahaman dan pengamalan Islam di kehidupan sehari-hari.

Kealpaan hukum Islam membuat satu per satu syariat Islam ditinggalkan. Sebut saja hijab, berapa banyak muslimah kita hari ini yang tidak berhijab? Berapa banyak hari ini kaum muslimin yang meninggalkan sholat? Berapa banyak kaum muslimin tidak sadar akan kewajiban zakat? Berapa banyak umat Islam yang abai dengan puasa? Realitas ini merupakan gambaran yang hadir di hadapan mata kita karena alpanya hukum Islam mengawal batasan-batasan Allah.

Agaknya kandungan hadits ini dipahami betul oleh musuh-musuh Islam, sehingga yang menjadi prioritas mereka adalah meleyapkan penerapan hukum Islam dari negeri kaum muslimin.

Mantan perdana menteri Inggris Gladstone berkata, Selama Al-Quran ini ada pada (kehidupan) kaum muslimin maka Eropa tidak akan mampu menguasai Timur dan Eropa sendiri tidak akan merasa aman. (Asy Syari’ah Islamiyah Lal Qawanin Al Wadh’iyah  87)

Salah seorang Presiden Perancis juga berkata, “Kami tidak akan mampu mengalahkan Al-Jazair selama mereka masih membaca Al-Quran dan berbicara dengan bahasa Arab. Maka kita harus mencabut Al-Quran dari kehidupan mereka dan melenyapkan bahasa Arab.” (Ibid)

Pada prakteknya, sadar ataupun tidak musuh-musuh Islam senantiasa menghalang-halangi tegaknya syariat Islam di negeri kaum muslimin. Sebut saja tragedi Aljazair, di mana partai Islam menang mutlak dalam pemilu, namun yang terjadi berikutnya adalah kudeta yang dilakukan militer.

Yang terbaru adalah kemenangan Muhammad Mursi di Mesir yang kemudian dikudeta oleh Abdul Fattah As-Sisi. Ini semakin menguatkan indikasi bahwa musuh-usuh Islam tidak membiarkan hukum Islam mengatur umat Islam.




Sumber : disini

Related

Artikel Kajian Islam 8286806784878153855

Post a Comment

Channel Dakwah di Facebook

Channel Dakwah di Facebook
Jendela Menuju Ilmu Syar'i

Channel Dakwah Telegram

Channel Dakwah Telegram
Jendela Menuju Ilmu Syar'i

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Folow Me on Google Plus

FOLLOW ME ON FANSPAGE

Translate

item