Bertahap (Tadarruj) Dalam Menegakkan Syariat Islam


Islam adalah agama yang sempurna. Syariatnya menyeluruh, mengatur seluruh sisi kehidupan manusia. Sebagai konsekuensi iman, setiap muslim dituntut untuk mengamalkan syariatnya secara kaffah (totalitas). Kesempurnaannya wajib diterima secara utuh. Tidak boleh ada satu pun yang ditinggalkan, diabaikan, bahkan ditolak. Allah Ta’ala berfirman:

 “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Perihal ayat di atas, Imam Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Allah ta’ala berfirman menyeru para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya serta membenarkan rasul-Nya untuk mengambil seluruh ajaran dan syari’at; melaksanakan seluruh perintah dan meninggalkan seluruh larangan sesuai dengan kemampuan mereka.” (Tafsir Ibn Katsir, 1/335)
Kemudian dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)

Kewajiban menegakkan syariat sudah disepakati oleh setiap muslim. Siapa pun tidak dianggap beriman jika tidak mau tunduk dengan hukum Allah dan Rasul-Nya. Namun kemudian sebuah pertanyaan muncul, bagaimana jika kaum muslimin di suatu daerah lama terbelenggu dengan sistem hukum jahiliyah. Sehingga banyak di antara mereka yang tidak lagi memahami syariat Islam dengan benar. Lalu bagaimana jika daerah tersebut berhasil dipimpin kembali oleh kelompok umat Islam, apakah harus diterapkan syariat secara utuh atau dilakukan secara bertahap?
Penegakkan Syariat, haruskan bertahap (tadarruj)?

Tadarruj adalah melakukan sesuatu secara bertahap, perlahan dan tidak sekaligus. Maksud tadarruj di sini adalah tahapan dalam menegakkan syariat Islam di tengah-tengah masyarakat disebabkan kondisi mereka yang belum memahami hakikat syariat dengan baik. Dengan catatan, pada saat yang sama tetap ada upaya serius untuk menerapkannya secara sempurna.
Secara global, tadarruj dapat dipahami sebagai tahapan dalam menegakkan syariat. Kaitannya dengan hal ini tadarruj di sini bisa bermakna dua macam, yaitu:

Pertama; Menjelaskan hakikat syariat kepada manusia secara perlahan. Setahap demi setahap sehinga bisa dipahami dengan baik secara menyeluruh. Menjelaskan dimulai dari yang mudah sampai kepada yang sulit dipahami, dari yang ringan sampai yang berat dan sebagainya. tadarruj seperti ini adalah wajib ditegakkan oleh para ulama.

Kedua: tadarruj dengan maksud tahapan dalam menyadarkan umat untuk meninggalkan undang-undang kufur dan menggantikannya dengan undang-undang syar’i. Tidak langsung menerapkan semua syariat dengan cara sekaligus. Dan ini adalah kewajiban yang harus dipahami oleh para penuntut ilmu dan penguasa (ulil amri).

Sebagian orang ada yang menganggap bahwa tadarruj itu bermakna tahapan waktu diturunkannya syariat. Artinya, dia mengamalkan Islam sesuai dengan zaman yang ditafsirkannya sendiri. Misalnya, ada yang menganggap bahwa saat ini masih berada di periode mekah, lalu dia mamahami jika seluruh syariat yang diturunkan di Madinah belum wajib untuk dijalankan. Pemahaman ini jelas bertolak belakang dengan maksud yang terdapat dalam kajian para ulama. sebab, ajaran Islam telah diturunkan secara sempurna dan mengamalkannya merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Sebuah kaidah fikih menyebutkan:

الميسور لايسقط بالمعسور
“Sesuatu yang mudah dilaksanakan tidak gugur/ditinggalkan karena adanya yang sulit dilaksanakan.”
Karena itu, perlu ditekankan bahwa makna tadarruj di sini bukan mengamalkan sebagian ajaran Islam dimana kita mampu mengamalkannya secara menyeluruh. Dan bukan juga bermakna menerapkan syariat secara bertahap dengan maksud mengingkari sebagian syariat yang lain.

Jadi, sebelum memastikan hukumnya penting bagi kita memperhatikan perbedaan antara mereka yang berusaha menerapkan syariat pada fase penyadaran masyarakat (upaya merubah sistem) dengan mereka yang menolak dan tidak mau menerima hukum syariat.

Lalu pertanyaan berikutnya adalah bagaimana penerapan syariat ketika kaum muslimin berhasil menguasai suatu daerah? Apakah harus dilaksanakan secara bertahap atau harus diterapkan sekaligus.
Para ulama berbeda pendapat ketika menyimpulkan masalah ini. Sebagian menguatkan pendapat harus adanya tahapan dalam menegakkan syariat. Sebab, semuanya tidak boleh lepas dari maslahat atau mafsadah yang muncul setelahnya.

Sementara sebagian yang lain berpendapat  bahwa tadarruj tidak diperbolehkan dalam menegakkan syariat. Sebab, syariat Islam telah turun dengan sempurna sebagai pedoman hidup umat Islam. Namun untuk mengurai hukum dalam permasalahan ini, perlu kiranya kita memahami hakikat tadarruj beserta macam-macamnya dengan tepat.

Dalam kitab Syariah Islamiyah Wa Fiqqhut Tathbiq, Syaikh Abul Hasan Al-Bulaidi menerangkan, “Makna tadarruj yang tepat dalam persoalan ini adalah menerapkan apa yang mungkin diterapkan dari hukum-hukum syariat. Dalam penerapannya, benar-benar menghasilkan maslahat serta terhindar dari mafsadah. Atau dalam makna lain; ketika menerapkan hukum syariat dalam sebuah realitas wajib memerhatikan seluruh syarat dan penghalangnya.”
Secara global, perlu dipahami bahwa tadarruj terbagi menjadi tiga macam. Masing-masing dari tadarruj tersebut memiliki hukum yang berbeda, ke-tiga bentuk tadarruj tersebut adalah:


Pertama: Tadarruj Tasyri’ (Proses Terbentuknya Syariat)

Tadarruj Tasyri’ adalah sebuah ketetapan hukum yang diinginkan Allah, namun prosesnya dilakukan secara bertahap, dimulai dengan menetapkan sebagian dari hukum yang diinginkan, hingga akhirnya hukum berjalan dengan sempurna. Misalnya, proses turunnya hukum khamr yang diturunkan dalam empat kali tahapan. Tadarruj dalam kontek ini terbagi menjadi tiga macam:
  1. Tadarruj Zamani (tahapan waktu)
Hukum-hukum syariat diturunkan secara bertahap sepanjang masa kenabian. Selama diutusnya Nabi, hukum tidak diturunkan dengan sekaligus. Misalnya, Allah mensyariatkan shalat kemudian baru menurunkan perintah puasa dan lain-lain sebagainya.

  2. Tadarruj nau’i (tahapan jenis hukum)
Syariat tidak membebani kaum muslimin dengan sebuah hukum dengan cara ditetapkan sekaligus. Namun ditetapkan secara bertahap. Seperti larangan minum khamr yang diturunkan dalam empat kali tahapan.

 3. Tadarruj bayani (tahapan dalam penjelasan)
Maksudnya hukum-hukum diturunkan secara global, sebagiannya masih membutuhkan perincian agar lebih mudah diterima dan bisa dipahami secara bertahap.

Tahapan turunnya hukum dalam konteks ini (Tadarruj tasyri’) semuanya adalah hak preogratifnya Allah semata. Tidak boleh seorang pun mengamalkan hukum syariat secara bertahap sesuai dengan keinginannya. Maka menjadi keliru ketika kaidah tadarruj dalam tasyri (penetapan hukum) di atas digunakan atau disamakan dengan tadarruj dalam hal tathbiq (penegakkan). Sebagaimana menggunakan dalil tadarruj (tahapan) turunnya larangan khamr dalam upaya menegakkan syariat tersebut.

Tadarrujj tasyri’—hukum halal, haram, wajib— sifatnya adalah tauqifi yaitu ditentukan sesuai ketetapan wahyu semata. Dr. Wahbah az-Zuhaili menerangkan, “Sesungguhnya perkara haram itu ditentukan secara qat’i yang bersumber dari nash. Seperti hukum zina, riba, khamr. Tidak mungkin menyakininya secara bertahap dan membolehkannya terlebih dahulu lalu secara bertahap dia mengingkarinya (meyakini keharamannya). Sebab, perkara ini masuk dalam hukum yang harus diketahui secara pasti (ma’lum minad din bis dharurah). Sehingga wajib baginya meyakini keharaman tersebut secara jelas. Walaupun dalam penerapan hukuman terhadap pelakunya bisa diundur hingga tegaknya daulah atau pengadilan Islam.”

Kedua: Tadarruj dalam penyampain hukum syariat

Maksudnya adalah bertahap dalam menjelaskan sebagian hukum Islam dan mendiamkan sebagian yang lain hingga datangnya waktu yang tepat untuk menjelaskannya.

Di antara dalil yang paling masyhur menjelaskan tadarruj dalam bentuk ini adalah hadis dari Muadz bin Jabal, yaitu ketika Rasulllah mengutusnya ke Negeri Yaman.

“Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), maka hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat La Ilaha Illallah – dalam riwayat yang lain disebutkan “Supaya mereka mentauhidkan Allah”-, jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam, jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka dan diberikan pada orang-orang yang fakir…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Taimiyah berkata:

فالعالم قد يؤخر البيان والبلاغ لأشياء إلى وقت التمكن كما أخر الله سبحانه إنزال آيات وبيان أحكام إلى وقت تمكن رسول الله صلى الله عليه وسلم تسليما إلى بيانها

“Seorang alim terkadang mengakhirkan sebuah penjelasan atau menyampaikan sesuatu hingga sampai pada waktunya. Sebagaimana Allah mengakhirkan turunnya ayat dan hukum-hukumnya sampai waktu yang tepat bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjelaskannya.”

Beliau juga  berkata, “Seandainya orang yang diperintahkan atau yang dilarang itu tidak mampu menerimanya, baik karena kebodohannya atau karena kezalimannya yang tidak mungkin dihilangkan. Maka yang paling tepat ketika itu adalah menahan diri untuk tidak memerintahkan atau melarangnya. Sebagaimana dikatakan, sesungguhnya ada persoalan yang jawabannya adalah diam. Sebagaimana di awal risalah Allah mendiamkan sebagian perbuatan, baik dengan perintah maupun larangan, hinnga Islam benar-benar menang. Maka demikian juga dengan seorang alim dalam menjelaskan atau menyampaikan sesuatu terkadang dia harus mengakhirkan penjelasan hingga datangya waktu yang memungkinkan… (Majmu’ fatawa, 20/57-61)

Ketiga: Tadarruj dalam penegakkan syariat

Ada dua kondisi yang harus dipahami dengan baik.

pertama: kondisi ketika syariat berkuasa, yaitu saat kaum muslimin merdeka dalam menegakkan syariat Islam. dalam konteks ini ada dua hal yang perlu diperhatikan juga, yaitu ketika masyarakat Islam sadar menerima seluruh hukum Islam tanpa ada yang keberatan. Maka kondisi seperti ini wajib menerapkan syariat Islam secara kaffah. Semuanya ditegakkan sesuai dengan petunjuk Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dan dijelaskan oleh para fuqoha’. Sebab, sudah adanya istitho’ah (mampu) dan penerapan syariat secara kaaffah terhindar dari mafsadah.
Kemudian ketika kaum muslimin mengalami masa yang asing (ghurbah). Masyarakat Islam banyak yang tidak memahami syariat dan sulit rasanya jika syariat diterapkan secara sempurna sekaligus. Maka dalam kondisi seperti ini, penerapan syariat wajib memerhatikan maslahat adan mafsadat yang ditimbulkan dalam masa penegakkannya.

Kedua: kondisi ketika kaum muslimin lemah. Pada kondisi seperti ini, kaum muslimin wajib mengamalkan syariat sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Mungkin bisa jadi secara pemahaman sudah dimengerti dengan jelas oleh kaum muslimin, namun penerapannya tidak bisa dilakukan sekaligus karena kondisinya yang tidak mampu.

Dr. Muhammad Asy-Syarif dalam salah satu tulisannya, Tadarruj Fi Ahkamis Syariah menjelaskan, “Ketika kondisinya lemah, tidak bisa menerapkan syariat secara kaffah, karena alasan tertentu, maka tidak mengapa menerapkan syariat sebagiannya saja. Mengamalkannya secara bertahap, dengan terus berupaya hingga suatu saat nanti bisa diterapkan secara kaffah.” (Link sumber)

Jadi secara global tadarruj dalam menyampaikan serta menerapkan syariat adalah masyru’.  Kedua-duanya ada dalil yang menjelaskan. Namun perlu diperhatikan bahwa konteksnya adalah tahapan dalam rangka memaklumi atau mendiamkan bukan dalam rangka menghalalkan atau membuat hukum terhadap sesuatu (tasyri’).

Mengapa Harus Tadarruj?

Dalam penerapan syariat wajib dilaksanakan secara bertahap. Tidak boleh sekaligus. Sebab:
  1. Ketidakmampuan menerapkan seluruh syariat serta mengawalnya
  2. Adanya kemampuan menegakkan syariat namun diiringi dengan efek mafsadah yang lebih besar daripada maslahat yang didapatkan
  3. Mampu dan bisa meminimalisir mafsadah tapi yang memegang kekuasaan hendak menaklukkan hati rakyatnya dengan kebijakan yang tidak memberatkan.
Ada beberapa faktor yang menjadikan syariat sulit untuk  ditegakkan. Dari internal misalnya; Banyak umat Islam yang tidak mengerti lagi hakikat penerapan syariat Islam. mereka tidak paham jika syariat sangat berkaitan dengan iman seorang hamba. Kondisi ini menuntut para ulama untuk memberi penjelasan kepada mereka tentang syariat yang harus ditegakkan oleh seorang mukmin.

Selain itu,  penyebab berikutnya juga adalah karena panjangnya fase kekosongan hukum syariat di tengah-tengah umat. Ditambah lagi dengan gencarnya usaha musuh dalam menyebarluaskan sistem hukum jahiliyah di negara-negara kaum muslimin.

Karena itu, untuk mengembalikan tegaknya syariat, kiranya siapapun dari umat Islam perlu memahami konsep tadarruj. Pentingnya menegakkan syariat secara bertahap dapat dipahami dalam nash-nash syar’i serta contoh dari ulama salaf.
Terdapat banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan tentang adanya tadarruj dalam proses turunnya syariat. Misalnya larangan khamr yang turun secara bertahap. Perlu disadari bahwa syariat Islam bukanlah paket yang diturunkan dengan cara sekaligus. Namun ia turun secara bertahap, hikmahnya agar syariat mudah diterima oleh manusia. Sebuah riwayat dari Yusuf bin Mahiq dari Aisyah radhiyallahuanha, beliau menuturkan:

إنما نزل أول ما نزل منه سورة من المفصل فيها ذكر الجنة والنار، حتى إذا ثاب الناس إلى الإسلام نزل الحلال والحرام، ولو نزل أول شيء: لا تشربوا الخمر. لقالوا: لا ندع الخمر أبداً. ولو نزل: لا تزنوا. لقالوا: لا ندع الزنا أبداً.

“Sesungguhnya surat yang pertama kali turun ialah dari kelompok mufashshal (Surat yang pendek-pendek), di dalamnya terdapat sebutan tentang surga dan neraka, sehingga ketika Islam telah diterima oleh banyak orang maka turunlah halal dan haram. Seandainya ayat yang pertama turun larangan minum khamr, maka mereka pasti akan berkata, ‘kami tidak akan meninggalkan khamr selamanya,’ demikian juga seandainya ayat yang pertama turun tentang larangan zina, maka mereka akan merespon, ‘kami tidak akan meninggalkan zina selamanya’,” (HR. Bukhari)

Atsar di atas menunjukkan hikmah ilahiyah dalam menurunkan hukum syariat. Hal pertama yang diturunkan dalam al-Qur’an adalah seruan kepada tauhid, kemudian kabar gembira berupa jannah kepada mereka yang menerima seruan tersebut serta ancaman neraka bagi yang menolaknya. Tadarruj dalam konteks ini juga menunjukkan anjuran memerhatikan tahapan dalam menegakkan syariat. Setidaknya demikianlah yang dipahami oleh Umar bin Abdul Aziz. Ketika anaknya, Abdul Malik menghendaki agar syariat diterapkan secara sempurna, Umar pun menegurnya:

لا تعجل يا بني. فإن الله ذم الخمر في القرآن مرتين وحرمها في الثالثة. وإني أخاف أن أحمل الحق على الناس جملة، فيدفعوه جملة، ويكون من ذا فتنة”

“Jangan tergesa-gesa, putraku. Sesungguhnya Allah mencela khamr dua kali dalam al-Quran dan baru mengharamkannya pada kali yang ketiga. Aku khawatir jika aku menerapkan al-haq kepada masyarakat dengan cara sekaligus, mereka akan menolaknya dengan spontan juga, sehingga hal itu berujung kepada fitnah.” (Al-Muwafaqot, 2/94, Al-Aqdu Al-Farid, 1/30)

Kemudian dalil lain juga adalah hadis Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Ibnu Rajab berkata, “Hadits yang menerangkan tentang ini, semuanya menunjukkan kewajiban mengingkari kemungkaran sesuai dengan kamampuan yang dimilikinya. Sementara mengingkarinya dengan hati adalah konsekuensi iman yang harus dimiliki oleh semua orang mukmin. Sebab, ketika ia tidak mengingkarinya maka imannya pun akan hilang dari hatinya.” (Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam, 1/245)

Keterangan tersebut sesuai dengan firman Allah Ta’ala, ”Dan bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu…” (QS. At-Taghabun: 16)
Kemudian Allah Ta’ala juga berfirman, “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah: 185).
Syaikh Ibnu Taimiyah menjelaskan:

فمن استقرأ ما جاء به الكتاب والسنة تبين له أن التكليف مشروط بالقدرة على العلم والعمل، فمن كان عاجزًا عن أحدهما سقط عنه ما يعجزه، ولا يكلف الله نفسًا إلا وسعها

“Siapa saja yang mengkaji keterangan dalam al-Quran dan As-sunnah, maka akan jelas baginya bahwa taklif (pembebanan hukum) selalu terikat dengan kemampuan (hamba), baik ilmu maupun amal. Siapa saja yang tidak memiliki salah satu di antara keduanya (ilmu atau amal) maka dia tidak dibebani atas apa yang tidak dia sanggupi. Sebab, Allah tidaklah membebani seseorang di luar batas kemampuannya.” (Majmu Fatawa, Ibnu Taimiyah, 21/634)

Dalil berikutnya hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal Radhiallahuanhu, ia berkata: “Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam mengutusku, beliau bersabda: “Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), maka hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat La Ilaha Illallah. Jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam, jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Alloh telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka dan diberikan pada orang-orang yang fakir…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Riwayat di atas merupakan dalil yang cukup jelas tentang bolehnya menerapkan syariat secara bertahap. Terlebih dalam menyampaikannya kepada umat yang belum mengenal syariat Islam yang sesungguhnya. Sebab, penegakkan syariat Islam benar-benar harus berujung kepada rasa kemaslahatan yang dirasakan oleh manusia. Baik di dunia maupun di akhirat.

Namun demikian perlu diperhatikan juga bahwa penerapan konsep tadarruj di sini benar-benar terukur sesuai dengan realitas masyarakat setempat. Tadarruj dilakukan memang butuh masa untuk melakukan edukasi kepada masyarakat, bukan karena ingin menghindar tegaknya syariat, apalagi dalam rangka membenarkan hukum jahiliyah. Sebab, menolak syariat jelas-jelas perbuatan yang membatalkan iman.

Karena itu, dalam risalah Tadarruj Fi Ahkamis Syariah, Syaikh Muhammad Asy-Syarif menjelaskan, dalam menerapkan konsep tadarruj ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan bersama, yaitu:

Pertama; Meyakini bahwa menegakkan syariat dengan kaffah setelah memiliki kemampuan adalah wajib.

Kedua: Contoh tadarruj yang salah dalam penegakkan syariat adalah meninggalkan penegakkan sebagian syariat padahal mampu untuk dilaksanakan. Sebab, sikap seperti ini sama seperti sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah manakala ada orang yang terpandang (terhormat) dari mereka mencuri, maka merekapun membiarkannya. Namun jika ada orang yang lemah dan hina di antara mereka ketahuan mencuri, maka dengan segera mereka melaksanakan hukuman atasnya.” (HR. Bukhari Muslim)

Ketiga: Tidak boleh ber-tadarruj dalam perkara akidah, terlebih dalam masalah yang harus diketahui secara pasti oleh setiap muslim (ma’lum minad din bidhururah), seperti kewajiban shalat, zakat,haji dan puasa. Sebab, ia merupakan perkara mendasar yang harus diyakini oleh setiap muslim.
Ibnu Taimiyah menjelaskan:

إن الأحكام الشرعية التي نصبت عليها أدلة قطعية معلومة، مثل الكتاب والسنة المتواترة والإجماع الظاهر؛ كوجوب الصلاة والزكاة والحج والصيام،وتحريما لزنا والخمر والربا، إذا بلغت هذه الأدلة للمكلف بلاغا يمكنه إتباعها، فخالفها تفريطا في جنب الله،وتديا لحدود الله ، فلا ريب أنه مخطئ آثم، وأن هذا الفعل سبب لعقوبة الله في الدنيا والآخرة.

“Sungguh hukum-hukum syariat yang ditetapkan dengan dalil yang qat’i (al-Qur’an, hadis dan ijma’ yang dhahir), seperti kewajiban shalat, zakat, haji, puasa, keharaman hukum zina, khamer dan riba, jika telah sampai dalil-dalilnya kepada seorang mukallaf (yang dibebani hukum) dan mampu dia kerjakan, maka jika ia menyelisihinya karena menentang atau melampaui batas-batas ketentuan Allah, sungguh dia telah berdosa dan perbuatannya tersebut menjasi salah satu sebab turunnya hukuman Allah, baik di dunia maupun di akhirat.” (Ar-Rasail Al-Munirah, 2/158)

Jadi, dapat disimpulkan bahwa tadarruj dalam menegakkan atau menjelaskan permasalahan syariat kepada umat adalah sesuatu yang dibolehkan. Bahkan dalam tingkatan tertentu dia menjadi sebuah keharusan. Namun demikian, dalam penerapannya tidak boleh lepas kendali ketentuan syariat. Semuanya dilakukan tidak lain karena pertimbangan maslahat dan mudharat. Dan ini merupakan asas dari ajaran Islam itu sendiri, yaitu menghendaki kemudahan bagi para hambanya serta kemaslahatan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu a’lam  bis shawab!



Sumber : disini

Related

Artikel Kajian Islam 7928762256443339808

Post a Comment

Channel Dakwah di Facebook

Channel Dakwah di Facebook
Jendela Menuju Ilmu Syar'i

Channel Dakwah Telegram

Channel Dakwah Telegram
Jendela Menuju Ilmu Syar'i

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Folow Me on Google Plus

FOLLOW ME ON FANSPAGE

Translate

item