Menjaga Marwah Ulama





Akhir-akhir ini marak terjadi pelecehan terhadap para ulama oleh oknum-oknum yang tidak berakhlak, mulai dari pejabat sampai tukang lawak. Yang lebih menyayat hati, pelaku pelecehan berasal dari kalangan umat Islam sendiri. Banyak dari kaum muslimin tidak menyadari akan hal tersebut, bahkan mereka merasa hal semacam itu bukan merupakan kesalahan. Mereka asik dengan hiburan dari tukang lawak walaupun mengandung penghinaan terhadap ulama. 


Kewajiban Menghormati Ulama

Sesungguhnya para ulama memiliki kedudukan yang agung dalam agama Islam. Mereka adalah pewaris para nabi, pembawa wahyu, serta pelindung syari’at dari penakwilan orang-orang yang jahil. Maka memuliakan mereka adalah kewajiban dan merupakan bagian dari Sunnah. Memusuhi mereka adalah pengumuman perang terhadap Allah Ta’ala, sebagaimana dalam sebuah hadits, “Barangsiapa yang memusuhi waliku, maka Aku umumkan perang kepadanya.” (HR. Bukhari).

Generasi awal umat ini sudah jauh-jauh hari membuatkan SOP untuk kita dalam menghormati para ulama. Seorang Tabi’i Thawus bin Kaisan berkata, “Termasuk bagian dari Sunnah adalah memuliakan empat orang; ulama (orang yang berilmu), orang yang sudah tua, sulthan (pemimpin yang adil) dan orang tua (bapak-ibu).” (al-Baghawi, Syarhu Sunnah,13/ 41).

Dari Abu Musa al-Asy’ari dari Nabi shalallahu ‘alahi wasallam beliau bersabda, “Sesungguhnya termasuk dari pengagungan kepada Allah adalah memuliakan orang muslim yang sudah tua, para penghafal Al-Qur’an dan pemimpin yang adil.” (HR. Abu Daud, no. 4843).
Al-Qarie berkata, “Maksudnya adalah menghormati pembacanya (Al-Quran), penghafalnya dan orang yang menafsirkannya (ulama ahli tafsir).” (Muhammad Syamsu al-Haq al-Azhim Abadi, Aunu al-Ma’bud, 13/ 132).
Abdullah bin Mubarak berkata, “Kewajiban atas orang berakal adalah tidak merendahkan tiga golongan; para ulama, para pemimpin yang adil dan saudara-saudaranya. Barang siapa yang merendahkan para ulama, maka hilang akhiratnya. Barang siapa merendahkan para pemimpin (yang adil), maka hilanglah dunianya. Dan barang siapa merendahkan saudaranya, maka hilanglah muru’ahnya.” (adz-Dzahabi, Siyaru al-A’lam wa an-Nubala, 17/ 251).


Teladan Salaf Dalam Memuliakan Ulama

Teladan yang tak kalah apiknya diajarkan oleh Ibnu Abbas. Beliau  merupakan hibrul ummah (tintanya umat, karena keilmuan beliau) sekaligus keponakan Rasulullah, suatu ketika pernah menuntun kendaraan Zaid bin Tsabit al-Anshari (sedangkan Zaid berada diatasnya). Kemudian Ibnu Abbas berujar, “Sesungguhnya beginilah kami memperlakukan (memuliakan) pembesar-pembesar dan ulama kami.” (HR. Hakim, no. 5785).

Beliau juga berkata, “Saya telah menetap selama dua tahun dan saya ingin bertanya kepada Umar bin Khattab tentang suatu hadits. Tidak ada yang menahanku darinya melainkan kewibawaannnya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar, Jami’u Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/ 456).

Imam Ahmad bin Hambal pernah berkata kepada salah seorang guru beliau, “Kami diperintahkan untuk tawadu’ kepada siapa saja yang kami belajar darinya.” (Ibnu Jama’ah, Tazkiratu as-Sami’ wal Mutakallim, hlm. 87-88).

Ibnu ‘Asakir ad-Dimsyaqi juga pernah berkata, “Sesungguhnya daging para ulama adalah beracun (haram berkata buruk kepada mereka).”(Tabyiinu Kazibi al-Muftari, hlm. 29).

Lihatlah, betapa takutnya para pendahulu kita dalam urusan mencela dan menggibah para ulama. Teladan yang nyaris hilang pada zaman ini. Dimana bukan hanya mencela para ulama, tindak aniaya pun mereka lakukan kepada pewaris para nabi. Sebagaimana kasus penganiayaan ulama yang dilakukan oleh GMBI beberapa pekan silam. Tentu fenomena tersebut sangat menyayat hati kita sebagai seorang mukmin. Penerang dan penunjuk jalan bagi umat, kini sudah tak lagi dihormati.


Konsekuensi Mencela Ulama

Melecehkan para ahlu ilmi dan orang-orang yang memiliki keutamaan merupakan dosa besar, bahkan terkadang menyebabkan pelakunya terjerumus kepada kekafiran. Sebagaimana seorang laki-laki berkata selepas perang Tabuk, “Saya tidak melihat seorang pun seperti para penghafal Al-Qur’an, yang paling besar perutnya dan paling dusta lisannya dan paling pengecut ketika bertemu musuh.”

Maka datanglah Al-Qur’an menjelaskan kejahatan tukang fitnah tersebut dan mereka yang bersamanya, bahwa itu merupakan pelecehan terhadap Allah, ayat-Nya  dan rasul-Nya. Allah berfirman,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ (66)

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau.’ Katakanlah, ‘Mengapa kepada Allah, ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu berolok-olok?’ Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman.” (QS. at-Taubah: 65-66).

Allah telah menjelaskan bahwa istihza (pelecehan) terhadap rasul dan para sahabatnya merupakan istihza terhadap Allah. Dan itu juga merupakan penjelasan akan bahayanya istihza terhadap para ulama, karena ulama adalah pewaris nabi. Maka berhati-hatilah dari mengolok-olok dan menggunjing mereka. Karena hal tersebut haram dan termasuk dosa besar.

Ulama merinci perbuatan mengolok-olok ulama ke dalam dua keadaan:

Pertama, mengejek ilmu dan agamanya sekaligus, tidak hanya sekendar mengejek pribadi ulama. Perbuatan seperti ini merupakan kufur akbar.
Syaikh Ali al-Qarie menukil perkataan al-Ustadz Najmuddin al-Kindi, “Barang siapa mengejek para pengajar Al-Qur’an maka ia kafir. Karena pengajar Al-Qur’an bagian dari para ulama syari’ah, maka iztihza’ dengan ulama serta ilmunya menyebabkan kekafiran.” Begitupula istihza’ kepada para pemberi penasehat juga dihukumi kafir. Sebab penasehat dan pemberi peringatan adalah bagian dari para ulama dan khalifah para nabi.” (Syarhu Alfazhi al-Kufri, hlm. 57-58).

Syaikh Muhammad bin Ibrahim berkata, “Orang-orang yang kebiasaanya mengolok-olok para ahlu agama, terkadang bisa sampai kepada kekufuran. Perbuatan tersebut tidak dilakukan kecuali oleh orang munafik.” Oleh sebab itu Syaikh Abdurrahman bin Hasan di hasyiah (catatan kaki) kitab Fathul Majid mengatakan bahwa beliau kawatir orang tersebut (penghina ulama) murtad disebabkan istihza.” (Fatawa wa Rasail Samahatu asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 1/ 175-176).

Syaikh al-Allamah Hamd bin Athiq ditanya tentang makna perkaaan fuqoha, “Barang siapa berkata wahai fuqoih dengan tasghir (untuk meremehkan ahli fikih), maka ia kafir.” Beliau menjawab, “Ketahuilah bahwa para ulama bersepakat, bahwa barang siapa yang beristihza kepada Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya atau agama-Nya, maka ia kafir. Adapun orang yang mengatakan, ‘Wahai fuqoih (bertujuan menghina ahli fikih), atau ‘uwailim (menghina orang alim), atau muthoiwi’ (menghina oang yang taat kepada Allah) dan yang sejenisnya, jika ia bermaksud untuk menghina atau melecehkan fikih, ilmu dien atau ketaatan seorang hamba maka ini merupakan kekufuran. Hendaklah ia diminta untuk bertaubat, kalau enggan maka dibunuh karena telah murtad.” (Ad-Duror as-Sunniyah, 8/ 242).

Syaikh Shalih Fauzan berkata, “Istihza terhadap ilmu dan ahlul ilmi serta tidak menghormati mereka, atau memfitnah mereka karena ilmu yang mereka bawa, maka orang tersubut telah kafir, walaupun ia tidak bermaksud untuk betul-betul  beristihza’.” (Al-Irsyad Ila Shahih al-I’tiqad, hlm. 71-72).

Mencela agama dan memperolok-olok sesuatu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta mengolok-olok orang yang berpegang teguh dengan keduanya (seperti memelihara jenggot dan berhijabnya seorang muslimah) ini merupakan kekufarn jika yang melakukan hal tersebut adalah mukallaf.(Fatwa al-Lajnah ad-Daimah, 2/ 13-14).


Kedua, jika istihza’ hanya terhadap pribadi ahlul ilmi bukan ilmu atau agama mereka, maka tidak sampai tingkat kufur, akan tetapi hal tersebut merupakan perbuatan yang haram dan dosa. Allah berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan siapa saja yang menyakiti orang-orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS.Al-Ahzab: 58). Ibnu Jarir ath-Thabari mengatakan, “Mereka telah memikul kebohongan serta fitnah yang keji dan buhtan  merupakan sekeji-kejinya kebohongan.” (al-Jaami’ al-Bayan, 10/ 331).


Kesimpulan


Pelecehan kepada para ulama, apapun bentuknya bukanlah perkara sepele. Bahkan bisa sampai kepada jurang kekafiran. Akan tetapi pembahasan di atas adalah berkenaan dengan ulama rabbani, yaitu ulama yang menyeru kepada agama Allah serta mengadakan perbaikan di tengah masyarakat. Bukan ulama penjilat penguasa, bukan pula ulama yang rela menjual agama hanya untuk kesenangan duniawi semata. Wallahu a’lam.

Diringkas dari kitab al-Iztihza’ bi ad-Dien Ahkaamu wa Atsaruhu, oleh Syaik Ahmad bin Muhammad al-Qorosyi, hlm. 455-462.  Darul Ibnu Jauzi, cet. 1, 2005 M.


Sumber : disini

Related

Artikel Kajian Islam 1598775122932973160

Post a Comment

Channel Dakwah di Facebook

Channel Dakwah di Facebook
Jendela Menuju Ilmu Syar'i

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Folow Me on Google Plus

FOLLOW ME ON FANSPAGE

Translate

item