Jadi Taat Tanpa Tegak Syariat, Mungkinkah?




Secara bahasa makna kata al-Islam adalah tunduk dan patuh. Artinya ketika seseorang memeluk agama Islam maka secara otomatis dia siap tunduk dan patuh terhadap seluruh syariatnya. Tidak hanya syariat yang mengatur sisi ubudiyah saja, seperti sholat, puasa, haji, dzikir, zakat dan sebagainya. Islam juga tidak hanya terbatas pada isbal, jenggot dan cadar, Tapi mencakup seluruh perintah Allah yang mengatur kehidupan manusia dalam segala aspek, politik, ekonomi, budaya, hukum, pendidikan dan seterusnya.

Tunduk kepada syariat Islam secara totalitas, atau yang biasa disebut kaffah (menyeluruh) merupakan tuntutan iman seorang mukmin. Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara Kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)

Di antara asbabun nuzul yang melatarbelakangi turunnya ayat ini, ditulis oleh Ibnu Katsir adalah disebabkan oleh sekelompok orang yahudi, Abdullah bin Salam dan sahabat-sahabatnya yang telah menyatakan keislamannya, namun tetap mengamalkan sebagian petunjuk Kitab Taurat, seperti mengagungkan hari Sabtu dan sebagainya. karena itu, ayat ini turun menegur mereka yang setengah-setengah dalam beriman.

Makna kaffah di sini, menurut Ibnu Katsir adalah, “Lakukan seluruh ajaran Islam, yaitu berbagai cabang iman dan berbagai macam syariat Islam. lalu beliau mengutip perkakataan Ibnu Abbas, ‘Masuklah dalam syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, jangan tinggalkan ajarannya sedikit pun, maka itu sudah mencukupkan kalian dari Taurat dan ajaran di dalamnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/566)

Perintah Allah yang bersifat ubudhiyah mungkin mampu kita lakukan tanpa ada halangan yang berarti. Namun bagaimana dengan perintah Allah yang berhubungan dengan permasalahan hudud, politik, amar makruf nahi munkar, jihad dan sebagainya. Mampukah kita menjalankan perintah tersebut tanpa hadirnya sebuah institusi? Atau pertanyaan yang lain, bisakah kita menjadi muslim yang taat secara kaffah tanpa tegaknya syariat?

Sebagai contoh adalah larangan mendekati riba. Secara personal mungkin seorang muslim bisa membatasi diri dari riba. Akan tetapi, untuk suatu keperluan terpaksa dia bermuamalah dengan riba, menerima gaji dari bank ribawi, membayar tagihan listrik an telepon lewat bank ribawi. Dan berbagai aspek lainnya yang membuat seorang muslim bersentuhan dengan riba. Hal ini mengindikasikan bahwa seorang muslim tidak akan bisa kaffah Islamnya kecuali tegaknya syariat Islam pada seluruh aspek kehidupan.


Ilyasiq, Syariat Gado-gado

Upaya penegakkan Syariat Islam agar bisa diamalkan secara kaffah bukanlah perkara yang mudah. Gelombang perlawanan musuh seakan tidak pernah berhenti. Tudingan miring, seperti tuduhan  kelompok radikal, fundamental, anti pluralitas kerap disematkan kepada siapa pun yang menyuarakan penegakkan syariat.

Selain itu, perang narasi dengan menyebarkan syubhat atau opini negatif tentang syariat Islam juga tidak kalah gencar mereka lakukan. Bagi mereka, apa pun bentuk usahanya pasti akan ditempuh, asalkan syariat Islam tidak bisa tegak kembali sebagai asas dalam mengatur negara. Pemikiran sekuler yang ingin menyingkirkan peran agama dalam bernegara mungkin sulit untuk diterima oleh masyarakat Islam. Anggapan bahwa agama harus dipisahkan dari ranah politik jelas bertentangan dengan ajaran Islam.

Namun ketika pemikiran sekuler sulit diterima oleh umat Islam, maka langkah selanjutnya untuk menghadang tegaknya syariat pun berganti, yaitu mengakomodir beberapa nilai-nilai agama sebagai alat untuk meredam reaksi umat Islam. Namun prinsipnya tetap; syariat Islam tidak boleh menjadi sumber hukum utama dalam menentukan kebijakan. Ruang bagi aturan Islam cukup hanya sebatas kebebasan dalam menjalankan ritual-ritual ibadah yang bersifat indivual.

Hukum Islam yang diatur dalam undang-undang hanya sebatas pada hukum perdata keluarga (Al-ahwalu Syaksiyah) saja. Sementara dalam skala yang lebih besar, hukum Islam tidak bisa menjadi dasar dalam menentukan kebijakan. Walhasil, syariat Islam tetap tidak bisa ditegakkan secara kaffah.

Ilyasiq adalah salah satu bentuk pedoman hukum yang disusun dengan merujuk kepada semua keyakinan dalam beragama. Ajaran Islam atau hukum Allah bukanlah dasar yang menjadi pedoman dalam menyusun Ilyasiq.

Ilyasiq adalah undang-undang atau hukum yang dibuat oleh Raja Tartar, Jengis Khan. Ia merupakan kumpulan hukum yang sebagiannya diambil dari Taurat, Injil, Al Qur’an dan semua keyakinan rakyat yang berada dalam wilayah kekuasaan Tartar. Bagi umat Islam, hukum seperti ini sama saja mencampuradukkan antara kebenaran dengan kebatilan.

Dalam Islam tetap disebut sebagai hukum jahiliyah. Allah Ta’ala berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum jahiliyah yang mereka cari. Dan siapakah yang lebih baik hukumnya dari Allah bagi kaum yang yakin?” (QS. Al Maidah :50)

Menafsirkan ayat di atas, Ibnu Katsir membuat perumpamaan bahwa hukum jahiliyah tersebut sama sebagaimana hukum ilyasiq yang disusun oleh Jengish Khan. Ia berkata, “Jengish Khan membuat undang-undang yang ia sebut Ilyasiq, yaitu sekumpulan peraturan perundang-undangan yang diambil dari banyak sumber, seperti sumber-sumber Yahudi, Nasrani, Islam dan lain sebagainya. Di dalamnya juga banyak terdapat hukum-hukum yang murni berasal dari pikiran dan hawa nafsunya semata. Hukum ini menjadi undang-undang yang diikuti oleh keturunan Jengis Khan, mereka mendahulukan undang-undang ini atas berhukum kepada Al Qur’an dan As Sunah. Barang siapa berbuat demikian maka ia telah kafir, wajib diperangi sampai ia kembali berhukum kepada hukum Allah dan Rasul-nya, sehingga tidak berhukum dengan selainnya baik dalam masalah yang banyak mau pun sedikit.(Tafsir Ibnu Katsir 3/131)

Syaikh Muhammad bin Ibrahim mengatakan, “Perhatikanlah ayat yang mulia ini, bagaimana Allah telah menunjukkan bahwa hukum itu hanya ada dua saja. Selain hukum Allah, yang ada hanyalah hukum Jahiliyah. Dengan demikian jelas, para perancang undang-undang merupakan kelompok orang-orang jahiliyah; diakui ataupun tidak. Bahkan mereka lebih jelek dan lebih berdusta dari pengikut jahillliyah. Orang-orang jahiliyah tidak melakukan kontradiksi dalam ucapan mereka, sementara para penetap undang-undang ini menyatakan beriman dengan apa yang dibawa Rasulullah namun mereka mau mencari celah.(Risalatu Tahkimil Qawanin hal. 11-12)

Bahkan ketika para ulama dan umat Islam saat sepakat untuk memerangi bangsa Tartar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata di tengah-tengah kumpulan umat Islam, “Jika kalian melihatku bersama mereka sementara di atas kepalaku ada mushaf, maka bunuhlah aku.(Majmu’ Fatawa 28/501-502)



Bisakah Menjadi Muslim Kaffah Tanpa Tegaknya Syariat?

Islam adalah agama yang sempurna. Mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. al-Qur’an dan Hadis merupakan pedoman hukum yang diperintahkan untuk diamalkan secara kaffah. Kandunganya tidak hanya perintah mengerjakan ibadah yang bersifa individual (ubudiyah), namun juga perintah untuk menjadikannya pedoman dasar dalam setiap aturan hidup bernegara.
Islam telah menentukan seluruh aturan hidup umatnya, mulai dari tentang bagaimana berpakaian, makan dan minum, menjalankan perdagangan, tuntunan dalam memperoleh harta serta distribusinya.

Kemudian tentang peradilan tindakan kriminal, mulai dari hukum hudud, ta’zir, amar makruf nahi mungkar, hingga ke perkara jihad. Belum lagi persoalan yang menyangkut pendidikan, budaya, sosial, politik dan seterusnya. Semua itu berupa sistem hukum yang Allah Ta’ala turunkan sebagai pedoman hidup untuk menjadi muslim yang kaffah.

Kemudian seberapa besar prosentase syariat Islam yang diatur dalam Undang-Undang Negara? Bagaimana dengan perintah Allah yang menyuruh kita untuk menerapkan hukum hudud, menjalankan amar makruf nahi mungkar, jihad serta amalan-amalan lain dimana tidak akan sempurna kecuali adanya peran negara yang mengaturnya.

Jika memang realita yang ada masih jauh dari pedoman syariat Islam, maka mari kita berusaha agar realita bisa sesuai dengan tuntunan agama. Secara pribadi, memaksimalkan diri untuk menjalankan seluruh syariat Islam, semua kita mungkin bisa melakukannya. Tidak ada halangan yag berarti.

Tapi bagaimana menjalankan syariat Allah dalam lingkup yang lebih besar—seperti menjalankan amar makruf nahi mungkar, jihad, menerapkan hukum hudud dan sebagainya—tentu masih banyak kekurangannya. Karena itu, perintah untuk masuk ke dalam ajaran Islam secara kaffah hanya mampu kita wujudkan ketika Syariat Islam tegak sebagai pedoman dalam seluruh sisi aturan hidup kita. Wallahu ‘alam bisshawab!


Sumber : disini

Related

Artikel Kajian Islam 4790590544615495780

Post a Comment

Anda Sedang Mencari Panduan Cara Meraih Penghasilan dari Internet..? KLIK DISINI

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

FOLLOW ME ON FANSPAGE

Translate

item