Penentu Status Sebuah Negeri (2)


Sebagian kalangan memandang bahwa faktor penentu status sebuah negeri disebut sebagai daarul Islam atau daarul kufri adalah syi’ar yang nampak di tengah-tengah masyarakatnya. Namun bagaimana pendapat para ulama dalam persoalan ini? Tentu perlu bagi kita untuk mengkajinya, agar kita tidak gegabah menghukumi sebuah negeri sebagai daarul Islam maupun daarul kufri.

Berikut ini hujjah yang digunakan untuk menguatkan pendapat mereka beserta tanggapan dan bantahan dari para ulama.

Perrtama, sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: ” كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُغِيرُ إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ، وَكَانَ يَسْتَمِعُ الأَذَانَ، فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا، أَمْسَكَ، وَإِلَّا أَغَارَ، فَسَمِعَ رَجُلًا، يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلَى الْفِطْرَةِ

Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah hendak menyerang suatu daerah ketika terbit fajar. Beliau menunggu suara adzan, jika beliau mendengar suara adzan maka beliau menahan diri. Namun jika beliau tidak mendengar, maka beliau menyerang. Lalu beliau pun mendengar seorang laki-laki berkata (mengumandangkan adzan), ‘Allaahu akbar Allaahu akbar.’ Rasulullah bersabda, ‘Di atas fithrah.” (HR. Muslim no. 382).

Hadits di atas tidak hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim, namun diriwayatkan pula oleh al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra, Imam at-Tirmidzi dalam sunannya serta ulama-ulama hadits yang lainnya.

Bantahan

Imam Muslim memberi judul bab hadits tersebut degan kalimat, 

باب الإِمْسَاكِ عَنِ الإِغَارَةِ عَلَى قَوْمٍ فِى دَارِ الْكُفْرِ إِذَا سُمِعَ فِيهِمُ الأَذَانُ

“Bab menahan serangan kepada suatu kaum di daarul kufri jika terdengar azan di tengah-tengah mereka.”

Dari judul bab diatas sangat jelas bahwa hadits tersebut tidak menjelakan bahwa setiap negara yang di dalamnya terdapat adzan termasuk negeri Islam, bahkan di sana terpampang jelas kalimat daarul kufri. Kenapa beliau menahan serangan ketika mendengar adzan di dalamnya?

Bukan karena daarul kufri tersebut sudah berubah menjadi daarul Islam tersebab adanya adzan di dalamnya, namun sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qadhi bahwa beliau menahan serangan karena sebagai bentuk kehati-hatian kalau-kalau di dalamnya terdapat orang yang beriman, kemudian beliau menyerang orang beriman tersebut karena lalai dan tidak mengetahui keadaannya (yang sudah beriman). Inilah yang disampaikan oleh Al-Qadhi ketika menjelaskan hadits tersebut (Al-Mubarakfuri, Tuhfatu al-Ahwadzi, 5/ 203).

Kedua, perkataan Ibnu Yahya al-Murtadha az-Zaidiy rahimahullah,

دار الإسلام ما ظهرت فيها الشهادتان، والصلاة ولم تظهر فيها خصلة كفرية ولو تأويلا إلا بجوار أو بالذمة والأمان من المسلمين. ودار الحرب هي الدار التي شوكتها لأهل الكفر، ولا ذمة من المسلمين عليها

“Daarul Islam adalah semua negeri yang nampak padanya dua kalimat syahadat dan shalat, serta tidak nampak padanya perkara-perkara kekufuran meskipun dilakukan secara ta’wiil, kecuali dengan izin atau perlindungan dan keamanan dari kaum muslimin. Sedangkan Daarul Harbi adalah negeri yang kekuatan atau kekuasaannya dimiliki oleh orang kafir tanpa adanya perlindungan dari kaum muslimin (umat Islam sudah tidak punya kendali terhadap mereka).”

Bantahan

Dari perkataan beliau diatas amat jelas yaitu “Tidak nampak di dalamnya perkara-perkara kekufuran walau dilakukan dengan takwil kecuali ada izin dari kaum muslimin.” Artinya, disebut sebagai negara Islam jika tampuk kekuasaan yang menentukan larangan dan perintah dipegang oleh kaum muslimin. Bukan semata-mata karena di dalamnya terdapat kalimat syahadat, dan ditegakkannya shalat.

Imam asy-Syaukani mengomentari pendapat beliau, “Yang dianggap sebagai patokan (dalam menentukan status suatu negara) adalah zhuhur al-kalimah yaitu jika kekuasaan (perintah dan larangan) yang berlaku di negeri tersebut dimiliki oleh orang Islam, maka negeri tersebut adalah daarul Islam dan tidak berpengaruh adanya perkara-perkara kekufuran di dalamnya. Karena ia (perkara-perkara kekufuran) tidak nampak disebabkan kekuatan kaum kafir (melainkan adanya izin dari kaum muslimin). Sebagaimana ahlu dzimmah dari kalangan Yahudi, Nashara dan orang-orang kafir yang menetap di negeri-negeri kaum muslimin karena terikat perjanjian. Sedangkan apabila kekuasaan berada di tangan kaum kafir maka dihukumi negara kafir. (as-Sail al-Jarar, 1/ 976).

Fenomena inilah yang terjadi pada negara-negara sekuler hari ini, roda pemerintahan dan kekuasaan memang dipegang oleh mereka yang mengaku muslim (meskipun sebenarnya tak lebih dari boneka atau pion yang dimainkan oleh kekuatan asing dan aseng), namun hukum yang diterapkan bukanlah hukum Islam, melainkan berupa undang-udang wad’iyah (hukum positif). Sebagaimana yang kita jumpai di negeri pertiwi ini, hukum yang diadopsi merupakan warisan dari orang-orang kafir Belanda, sehingga seakan-akan negara Indonesia dikendalikan oleh peraturan kafir.

Ketiga, pendapat ad-Dasuuqiy rahimahullah,

لِأَنَّ بِلَادَ الْإِسْلَامِ لَا تَصِيرُ دَارَ حَرْبٍ بِأَخْذِ الْكُفَّارِ لَهَا بِالْقَهْرِ مَا دَامَتْ شَعَائِرُ الْإِسْلَامِ قَائِمَةً فِيهَا….. بِلَادَ الْإِسْلَامِ لَا تَصِيرُ دَارَ حَرْبٍ بِمُجَرَّدِ اسْتِيلَائِهِمْ عَلَيْهَا بَلْ حَتَّى تَنْقَطِعَ إقَامَةُ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ عَنْهَا ، وَأَمَّا مَا دَامَتْ شَعَائِرُ الْإِسْلَامِ أَوْ غَالِبُهَا قَائِمَةً فِيهَا فَلَا تَصِيرُ دَارَ حَرْبٍ

“Hal itu dikarenakan negeri Islam tidak berubah menjadi Daarul Harb dengan sebab pengambilalihan kekuasaan oleh orang kafir secara paksa, selama syi’ar-syi’ar Islam tetap tegak di dalamnya.” (Hasyiyyah ad-Dasuuqiy ‘Alaa Syarh al-Kabiir, 2/ 188).

Bantahan

Pendapat beliau ini menyelisihi pendapat jumhur, Ibnu Qayyiim rahimahullah berkata,

قال الجمهور: دار الإسلام هي التي نزلها المسلمون وجرت عليها أحكام الإسلام وما لم تجر عليه أحكام الإسلام لم يكن دار إسلام وإن لاصقها

“Jumhur ulama berkata,  ‘Daarul-Islaam adalah negeri yang dikuasai kaum muslimin dan berlaku padanya hukum-hukum Islam. Dan negeri yang tidak berlaku padanya hukum-hukum Islam, maka ia bukan termasuk Daarul Islam meskipun ia berbatasan langsung (dengan Daarul Islam).” (Ahkaamu Ahli adz-Dzimmah, 2/ 728).

Jadi, syi’ar suatu agama yang tersebar di suatu negeri bukan manath untuk menetukan statusnya, sebagaimana dahulu sebelum hijrah Rasulullah men-dhahir-kan (menampakan) dien di Mekkah, menyeru kepadanya dan mengatakan dengan tegas permusuhan serta bara’nya terhadap kaum musyrikin beserta sesembahan-sesembahan selain Allah. Kendati demikian, tetap saja Mekkah pada saat itu bukan dari Darul Islam, begitu juga manakala ahlu dzimmah melakukan syi’ar-syi’ar mereka di negeri Islam tidak mempengaruhi status negeri tersebut berubah menjadi darul kufri.

Adapun perkataan al-Mawardi rahimahullah, Apabila seseorang mampu men-dhahir-kan dien dalam suatu negeri dari negeri-negeri kafir, maka berarti negeri tersebut menjadi negeri Islam, maka bertempat tinggal di situ lebih utama daripada meninggalkannya, karena diharapkan dengan keberadaannya yang lain akan masuk Islam. (Fathul Bari, 7/ 229). Imam asy-Syaukani menukil ucapan tersebut dan mengomentarinya, beliau berkata, “Sudah jelas bahwa pendapat tersebut bertentangan dengan hadits-hadits yang memutuskan akan haramnya bertempat tinggal di negeri kafir.” (Nailul Authar, 8/ 125).


Sumber : disini

Related

Artikel Kajian Islam 2262808469639614807

Post a Comment

Channel Dakwah di Facebook

Channel Dakwah di Facebook
Jendela Menuju Ilmu Syar'i

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Folow Me on Google Plus

FOLLOW ME ON FANSPAGE

Translate

item