Neraca Loyalitas, dari Abu Ubaidah bin Jarrah Hingga Donald Trump





Berbicara tentang loyalitas terhadap agama, kita teringat sahabat ini. Sebut saja Amir bin Abdullah bin al-Jarrah, atau lebih kita kenal dengan Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Salah satu sahabat yang dijamin Rasulullah dengan surga. Veteran Badar dan Uhud. Bukan itu saja, Rasulullah bahkan memuji beliau dengan sabdanya, “Sesungguhnya setiap umat memiliki alAmin (yang dipercaya), dan al-amin dari umat ini adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah.”

Sebagai as-sabiqun al-awwalun (orang yang pertama kali masuk Islam), Abu Ubaidah harus berhadapan dengan teman, relasi, sahabat, bahkan keluarganya. Orang-orang yang dulu begitu dekat dengannya, kini berseberangan dengan keyakinan yang ia pegang. Sahabat yang dulu tertawa bersama kini justru menjauh, menghardik, bahkan mencela. Tidak ada kedekatan seperti dulu.

Namun ujian terberat bagi Abu Ubaidah justru ada pada sosok al-Jarrah, ayahnya. Ia tetap tidak mau masuk Islam. Bahkan justru menjadi salah satu orang Quraisy yang paling membenci Islam. Hingga Abu Ubaidah bin al-Jarrah hijrah menuju Madinah, ayahnya tetap bersikukuh dengan keyakinannya.


Loyalitas Para Sahabat


Hingga pada Perang Badar Allah mempertemukan mereka dalam kubu yang berbeda. Kubu yang saling beradu pedang. Awalnya Abu Ubaidah sengaja menghindari ayahnya. Namun ternyata Allah ingin menguji keimanan Abu Ubaidah. Ia akhirnya dihadapkan dengan ayahnya tanpa bisa mengelak lagi.

Disinilah Abu Ubaidah harus memilih mana kawan dan mana lawan. Neraca yang ia gunakan bukanlah tali persaudaraan. Juga bukan persahabatan, apalagi uang dan jabatan. Hanya Islamlah neraca yang harus diikuti. Muslim yang taat adalah saudara seiman. Sementara musuh Islam, penentang syari’atnya, dan penyerang ulama-ulamanya maka ia adalah lawan, bahkan jika ia adalah ayah, ibu, atau kerabat dekat lainnya.

Al-Jarrah pun akhirnya tumbang karena pedang Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Iman menjadikan Abu Ubaidah tak gentar sedikit pun. Kisah ini bukan dongeng heroik pengantar tidur. Juga bukan cerita rakyat yang tak lebih dari sebuah mitos. Abu Ubaidah tercatat dalam sejarah sebagai seorang pejuang Islam yang benar-benar memahami mana kawan dan mana lawan.

Islam memang mengharuskan umatnya untuk benar-benar tahu mana kawan mana lawan, sehingga tidak ada yang abu-abu didalamnya. Kemana seseorang berpihak harus jelas.

Rasulullah pernah bersabda, “Tali keimanan yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR. Ahmad).

Ibnu Jarir meriwayatkan, Ibnu Abbas berkata, “Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, berloyalitas karena Allah, dan memusuhi karena Allah maka ia akan mendapatkan “wilayah Allah”. Dan seorang hamba tidak akan merasakan nikmatnya iman kecuali telah melakukannya. Dan ketika orang banyak mengikat persaudaraan karena perkara dunia, maka ia tidak akan mendapatkan apapun.

Syaikh al-Ghunaiman dalam kitabnya Syarhu Fathi al-Majid menjelaskan bahwa yang dimaksud wilayah Allah adalah persaudaraan, cinta, dan pertolongan. Sehingga jika kita mencintai dan membenci karena Allah, maka Allah akan mecintai kita dan memberi perlindungannya atas kita.

Dewasa ini tak jarang muslim yang membenci seseorang atau kelompok yang seharusnya ia cintai. Sebaliknya tak sedikit pula muslim yang mencintai seseorang atau kelompok yang seharusnya ia benci. Seakan-akan benci dan cinta menjadi hal yang paling dilematis bagi mereka. Mengaku muslim namun membenci, mem-bully, bahkan mencaci dengan cacian yang tidak pantas pada ulama-ulama Islam. Mengaku muslim namun tidak suka perda-perda yang berbau syariah.


‘Berguru’ Kepada Donald Trump

Dalam dilema panjang permasalahan kawan dan lawan, tampaknya yang mampu menentukan sikap justru Donald Trump; presiden Amerika terpilih tahun 2016, dan para pendukungnya. Dalam kampanyenya saja ia begitu menegaskan siapa yang menjadi kawan dan lawannya.

Sikap Donald Trump menjadi lebih jelas lagi ketika ia mengeluarkan kebijakan untuk melarang muslim masuk Amerika. Jika yang ia perangi adalah teroris atau ekstrimis, maka yang ia larang masuk ke negara tersebut pastilah hanya golongan para ekstrimis. Tapi fakta membuktikan bahwa memang musuh Donald Trump bukan mereka. Musuh presiden terpilih 2016 itu adalah Islam, apapun golongannya.

Hal itu diperjelas lagi dalam sebuah interview dengan CNN Maret 2016 silam. Saat itu ia ditanya apakah yang ia maksud dengan Islam adalah Islam itu sendiri atau “Islam Radikal? Ia menjawab, “Radikal, tapi sangat sulit untuk mendefinisikan. Sangat sulit untuk memisahkan.”


Saatnya Menentukan Kawan dan Lawan

Secara tersirat Donald Trump seakan ingin mengatakan bahwa yang ia musuhi adalah Islam secara umum, karena sulit untuk memisahkan antara yang radikal dengan yang tidak. Yang sebenarnya mau diputar-putar kemana pun, pada intinya musuh Donald Trump sangat jelas yaitu Islam. Nah, jika kita sebagai muslim justru masih terpenjara dalam kebingungan. Masih tenggelam dalam keabu-abuan sikap. Tak tahu mana kawan dan mana lawan. Tak sulit bagi musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam. Bahkan mudah saja musuh-musuh Islam itu menggunakan tangan umat Islam sendiri untuk menghancurkan agamanya dari dalam.

Tampaknya kita harus belajar dari Michael Ledeen, co-authors dari buku The Field of Light bersama dengan Michael T. Flynn, selaku penasihat keamanan nasional Donald Trump. Ia menulis dalam buku tersebut, sebagaimana yang dikutip dalam Lapsus Syamina edisi 2 Februari 2017, “Kita tidak bisa mengalahkan musuh yang tidak bisa kita definisikan. Dan dengan membuat Barat sulit bicara tentang Islam Radikal, justru akan membuat kita sulit merancang strategi untuk mengalahkan mereka.

Artinya, seseorang tak akan pernah bisa mengalahkan musuh jika ia saja tak tahu siapa musuhnya. Bak bison yang kuat nan tangguh, namun tak tahu mana gerombolannya, akhirnya justru bergabung dengan gerombolan singa kelaparan yang siap menerkamnya kapanpun. Ending yang terlalu tragis untuk panggung perjuangan.

Belajar dari Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Donald Trump akan betapa pentingnya neraca yang kita gunakan sebagai panduan loyalitas. Salah kita memilih neraca, maka salah pula kita dalam memilih teman. Allah telah memerintahkan kita untuk memilih-Nya sebagai neraca. Mencintai karena Allah dan membenci pun karena Allah. Memang dalam setiap perjalanan akan ada banyak sekali ujian. Namun Allah telah menyiapkan balasan yang setimpal dengan setiap pengorbanan kita.

Selesai membaca sekelumit tulisan ini, mari kita bermawas diri. Tengok sekeliling, perhatikan sekitar, dan lihat kemana kita berpihak. Tanya pada diri kita, kawan atau lawan, sudah benarkah neraca kita? Wallahu a’lam bis shawab.


Sumber : disini

Related

Artikel Kajian Islam 2679215232683950889

Post a Comment

Channel Dakwah di Facebook

Channel Dakwah di Facebook
Jendela Menuju Ilmu Syar'i

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Folow Me on Google Plus

FOLLOW ME ON FANSPAGE

Translate

item