Kata Siapa Syariat Islam Kejam?






Selama ini penerapan syariat islam sering dipahami sebatas penegakkan hudud (hukum pidana Islam). Syariat hanya digambarkan dengan hukuman cambuk, potong tangan, rajam, pancung dan sebagainya. Sepertinya kejam sekali. Maka tak heran jika kemudian ada anggapan di beberapa kalangan awam bahwa hukum Islam diskriminatif dan tidak manusiawi. Pemahaman seperti ini sengaja dihembuskan oleh mereka yang tidak menginginkan syariat Islam tegak.

Penerapan syariat hudud di beberapa wilayah mayoritas umat islam sering mendapat kecaman dari penggiat HAM. Hukum pidana seperti cambuk, potong tangan, rajam, hukuman mati dan sebagainya, mereka anggap kejam serta tidak sesuai HAM. Protes semacam ini pernah ramai diperbincangkan terutama sejak perda syariat Islam ditetapkan sebagai peraturan resmi yang berlaku di daerah Propinsi Aceh.

Laporan yang disusun oleh Christen Broecker misalnya, peneliti Divisi Asia Human Rights Watch ini menyoroti bahwa qanun (undang-undang) nomor 14 tahun 2003 tentang Khalwat (mesum) dan qanun nomor 11/2002 tentang pelaksanaan syariat Islam dalam bidang akidah, ibadah dan syiar Islam. Dalam laporan yang disampaikan kepada pemerintah pusat kala itu menyatakan bahwa peraturan Daerah Syariat Islam di Aceh melanggar HAM dan mendiskriminasi perempuan yang membuka peluang terjadinya kekerasan massal dengan dalih menegakkan Syariat Islam.


Penerapan Hukum Hudud Diskriminatif?

Untuk menepis tuduhan itu, kiranya penting bagi kita memahami tujuan dari penerapan syariat Islam. Tujuan dasar penerapan syariat adalah mendatangkan maslahat serta menolak kemudharatan yang berpotensi timbul di tengah-tengah masyarakat. Baik dalam urusan dunia maupun urusan akhirat. Dalam fikih Islam, tujuan syariat ini sering disebut dengan maqashidud syariah. (Lihat; Wahbah al-Zuhaili, Ushul Fiqh Islami, 2/225)

Dalam rangka mewujudkan kemashlahatan dunia dan akhirat, maka para ulama ushul fiqh merumuskan tujuan hukum Islam tersebut kedalam lima misi utama (baca; dhoruriyatul khamsah), yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta mereka. Maka setiap hal yang mengandung upaya menjaga lima misi utama tersebut itu adalah maslahat. Sebaliknya, setiap hal yang tidak mengandung lima misi utama tersebut adalah mafsadah, dan menolaknya termasuk maslahat. (Abu Hamid al-Ghazali, Al-Mustasyfā fī ‘Ilm al-Ushul, hal; 311)

Untuk menjaga kemaslahatan adh-dharuriyat al-khams, Islam menetapkan sanksi (uqubat) tegas demi menciptakan kemaslahatan publik. Sanksi tersebut ada yang berupa hukuman hudud (baca; hukum yang telah ditetapkan langsung oleh Allah Ta’ala), qishash (hukuman yang setimpal) dan ta’zir (hukuman yang ditetapkan oleh qadhi untuk pelanggaran yang tidak terkena hudud).

Bagi yang terbukti minum minuman keras misalnya, syariat menetapkan hukuman cambuk delapan puluh kali. Tujuannya agar si pelaku jera dan masyarakat menghindari meminum minuman keras agar masyarakat jauh dari hal yang merusak akibat minuman keras.

Sedangkan bagi pezina dihukum seratus kali cambuk bagi yang belum menikah (ghairu muhshan) dan rajam bagi yang sudah menikah (muhshan). Tujuannya untuk menjaga nasab dan menghindari dari penyakit yang berbahaya. Kemudian bagi pencuri yang mencapai nishab dipotong tangannya. Tujuannya agar menjaga harta. Sementara terhadap para pembunuh hukumannya di-qishash (dibalas dengan hukuman serupa). Tujuannya untuk menjaga jiwa manusia agar tidak tertumpah.

Sangat berbeda dengan hukum buatan manusia yang terbukti tidak memberi efek jera sama sekali. Misalnya pasal perzinahan yang diatur dalam pasal 284 KUHP, pelakunya hanya dikenai hukuman sembilan bulan penjara. Berlaku hanya kepada laki-laki atau perempuan yang sudah menikah saja dan bukan atas dasar suka sama suka. Alih-alih memberi efek jera, sanksi yang ringan ini justru menjadikan angka perzinahan semakin meningkat.
Contoh lainnya adalah pasal pembunuhan, seringkali keluarga korban marah dan tidak terima atas putusan hakim. Hal ini karena putusan yang diberikan tidak setimpal dengan kejahatan yang dilakukan. Belum lagi pelaksanaan hukum yang tebang pilih sehingga membuat dunia peradilan hukum positif jauh dari kata adil.

Penting juga untuk melihat syariat Islam secara komprehensif dan tidak terbatas pada hukuman saja. Sebelum menetapkan bentuk-bentuk sanksi, sebagai tindakan preventif, syariat Islam mengatur seluruh aspek kehidupan dengan cukup lengkap.

Sebagai contoh, agar tidak terjadi perzinahan, Islam memerintahkan umatnya untuk menjaga pandangan, menutup aurat, menjaga pergaulan, melarang khalwat dengan lawan jenis yang bukan mahram, dan seabrek perintah dan larangan lainnya yang menjadikan hamba terjauhkan dari perbuatan zina.
Contoh lainnya sebelum menjatuhkan sanksi potong tangan Islam telah menjaga harta umatnya dengan berbagai tuntunan. Seperti, melarang memakan harta orang lain secara batil, memperbolehkan berbagai akad jual beli, menghasung umatnya untuk meminjamkan harta kepada yang membutuhan dan seabrek ketentuan lainnya untuk menjaga harta kaum muslimin.

Demikianlah bentuk syumuliyah (komphrehensif) dan keadilan Islam. Sanksi-sanksi dan hukuman yang ada hanya merupakan salah satu faktor penjaga umat dari kemudharatan. Karena itu, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pernah menuturkan;
“Syariat Islam dibangun berdasarkan asas hikmah dan kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat.Ia merupakan keadilan yang bersifat mutlak, kasih sayang, kemaslahatan, dan hikmah. Oleh karenanya, setiap persoalan yang bertolak belakang dari keadilan menuju kezaliman, kasih sayang menuju kekerasan, maslahat menuju kemudaratan, serta hikmah menuju sesuatu yang bernilai sia-sia, maka itu semua bukanlah bagian dari syariat, sekalipun ditafsirkan sebagai syariat.” (I’lam al-Muwaqqi’in, 2/5)



Saat Vonis Harus Melewati Ketentuan yang Ketat


Dalam penerapan hukuman bagi pelaku kriminal, Islam menetapkan aturan yang cukup ketat. Tidak setiap orang yang ketahuan mencuri langsung dipotong tangan atau orang yang ketahuan berzina langsung dirajam dan sebagainya. Setiap keputusan hukum yang berkaitan dengan mencabut hak dari orang lain, harus diproses melalui pengadilan dengan proses yang ketat.

Qishas terhadap pelaku pembunuhan misalnya, nyawa dibayar nyawa. Setiap pelaku pembunuhan maka dia juga harus dibunuh. Namun penerapannya tidak sesederhana yang dibayangkan, bahkan hal itu tidak terlepas dari segala aturan yang terkait dengannya.

Sebagai contoh, di antara syarat seseorang boleh dibalas bunuh, pembunuh harus sudah mukallaf (berakal dan baligh), dilakukan dengan sengaja atau suka rela tanpa paksaan. Kemudian seluruh wali korban harus sepakat memilih qishash, bila ada salah satu saja yang memaafkan, maka gugurlah permintaan qishash.

Selain itu, bunuh juga bukan satu-satunya pilihan bagi keluarga korban, tetapi islam menentukan dua pilihan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قُتِلَ لَهُ قَتِيْلٌ فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ إِمَّا أَنْ يُفْدَى وَإِمَّا أَنْ يُقْتَل

“Barangsiapa yang keluarganya terbunuh maka ia bisa memilih dua pilihan, bisa memilih diyat dan bisa juga memilih pelakunya dibunuh (qishash).” (HR al-Jama’ah)

Bahkan Islam sangat menganjurkan bagi para wali korban untuk memaafkan, artinya tidak membalas bunuh tapi membayar diyat. Dan lebih baik lagi jika para wali korban tersebut memaafkan tanpa bayaran sama sekali. Allah Ta’ala berfirman:
فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ

“Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya maka hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula)…“ (Q.S. Al-Baqarah: 178)

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam sendiri senantiasa menyarankan para wali korban untuk mengutamakan maaf bagi pelaku. Anas bin Malik menceritakan, “Tidaklah didatangkan kepada Rasulullah satu urusan qishash pun kecuali beliau menyarankan untuk dimaafkan.” (HR. Ibnu Majah)

Namun demikian, keputusan akhir tetap berada pada wali korban. Agar keputusannya benar-benar memberikan keadilan bagi semuanya dan tidak ada pihak yang dikecewakan. Kemudian untuk menjaga kehati-hatian dalam proses pengadilan, wali korban juga harus benar-benar jujur dalam menggugat pelaku. Seandainya pelaku mengatakan bahwa dia tidak bermaksud membunuh, namun hakim tetap memutuskan sesuai dengan gugatan wali korban, jika pelaku tersebut jujur dan tetap dihukum qishas, maka wali korban yang meng-qishash dianggap telah melakukan pembunuhan terhadapnya dan balasannya nanti di neraka.

Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “Telah terjadi pembunuhan terhadap seseorang di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam, maka perkara tersebut diajukan kepada beliau. Setelah proses, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam  menyerahkan pembunuh tersebut kepada wali korban untuk dibalas bunuh. Ternyata si pembunuh mengatakan, “Wahai Rasulullah, demi Allah, saya tidak bermaksud membunuhnya.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam  pun mengatakan kepada keluarga korban, ”Kalau dia jujur, dan kamu tetap menghendaki agar qishash ini dilaksanakan, maka kamu masuk  neraka.” Akhirnya keluarga korban melepaskannya.” (HR. Abu Dawud)
Tidak hanya dalam penerapan hudud, dalam perkara lain, Islam juga berlaku demikian. Perintah jihad misalnya, tujuannya bukan untuk merebut kekuasaan atau melakukan penjajahan. Tetapi murni untuk meninggikan agama Allah. Juga bukan perang barbar layaknya suku-suku primitif, namun penuh dengan kasih sayang yang dipagari oleh banyak aturan, seperti larangan membunuh wanita dan anak-anak, larangan membunuh pendeta yang sedang beribadah di tempat ibadahnya, tidak menghancurkan rumah ibadah, tidak memaksa tawanan untuk masuk Islam, tidak pula memaksa untuk membayar jizyah yang tinggi, dan sederet aturan lainnya yang menunjukkan  islam benar-benar rahmatan lil ‘alamin.

Musuh-musuh Islam akan senantiasa mencitrakan buruk tentang syariat Islam. Hal ini mereka lakukan agar umat Islam menjauh dari syariatnya. Mereka ingin memadamkan cahaya Allah akan tetapi Allah ingin  menyempunakan caha-Nya dengan sederet tuntunan syariat yang paling adil dan syumul. keadilan dan ke-syumul-an Islam sudah termaktub dalam wahyu dan tergores dalam lintasan sejarah.Wallahu a’lam bis shawab!


Sumber : disini

Related

Artikel Kajian Islam 2653938540660450081

Post a Comment

Channel Dakwah di Facebook

Channel Dakwah di Facebook
Jendela Menuju Ilmu Syar'i

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Folow Me on Google Plus

FOLLOW ME ON FANSPAGE

Translate

item