Sebuah Rasa Penggerak Keimanan


Pemahaman telah terbalik dan timbangan telah berubah. Orang yang datang berjihad untuk membela dienullah, atau menentang penguasa thaghut, atau memerintah yang makruf dan melarang yang munkar serta menghadapi berbagai cobaan, dituduh kurang akal dan sentimental (peka perasaan). “Perasaan” (rasa peka) menjadi sesuatu yang tercela.

Orang yang terusik hatinya karena agamanya dicela dikatakan orang yang lebay. “Tuhan tidak perlu dibela”, katanya. Orang-orang seperti ini mengaku orang yang paling bertoleransi padahal mereka adalah orang-orang yang busuk hatinya, suka mencela dan mendengki.

Perasaan peka ini adalah bukti keimanan. Hanya orang peka sajalah yang dapat merasakan getaran keimanan dan bergerak atas dasar rasa di dalam hati. Maka dari itu, orang yang nyinyir karena perasaan peka ini tidak akan pernah bisa memahami manisnya iman di dalam hati.

Rasa Peka yang Menggerakkan Iman

Karena rasa peka inilah kaum muslimin generasi pertama berangkat berperang di atas ringkikan kuda-kuda mereka untuk menyelamatkan kemanusiaan. Apakah merekaberangkat berperang karena akal pikiran, pertimbangan, dan kebijaksanaan mereka?

Di mana orang-orang bijak dan cendekia mengklaim bahwa merekalah pemilik akal pikiran, pertimbangan dan kebijaksanaan. Ataukah “perasaan” itu justru yang menggerakkan mereka?

Jika bukan, akal pikiran macam apa sehingga membuat Abu Bakar mengirim 7.000 orang pasukan untuk menghadapi gelombang pasukan Persia yang tak terkira banyaknya, terputus dari bantuan, terputus dari basis, terputus dari qiyadah. Dan ia mengirim 7.000 orang pasukan atau 10.000 orang pasukan ke negeri Syam untuk menghadapi gelombang pasukan Romawi yang tak terbilang jumlahnya.

Tindakan ini dalam pandangan para cendekia dan para ahli militer dapat dianggap sebagai bunuh diri (tindakan konyol). Akan tetapi, itu semua adalah karena “peka rasa” tadi. Rasa peka yang terbangun di atas landasan tawakal kepada Allah. Rasa peka yang menggelegakkan darah  menjadi api. Rasa peka yang mengubah hati mereka menjadi bara.

Mereka diciptakan untuk menolong dienullah. Mereka hadir dalam kehidupan dunia adalah untuk menyampaikan risalah. Lantas, apa yang telah disampaikan oleh para cendekia dengan akal pikiran mereka yang beku? Apa yang telah dikerjakan oleh para bijak dengan hikmah mereka yang terbalik itu? Apakah mereka dapat memengaruhi orang-orang yang berada di sekitar mereka? Apakah mereka mampu membina masyarakat dalam kehidupan nyata mereka dan di bumi mereka?

Sesungguhnya mereka yang dapat mengubah keadaan adalah mereka yang memiliki “perasaan.” Mereka adalah figur-figur percontohan.


Figur-Figur Teladan

Jari telunjuk Bilal yang teracung ke atas langit disertai ucapan, “Ahad, Ahad”, bukanlah suara yang keluar dari akal pikiran, bukan suara yang berasal dari hikmah. Ia adalah suara yang bersumber dari “perasaan”, dari hati nurani.
Sebenarnya akal pikiran mendorongnya untuk menyerah pasrah dan berkompromi. Akal pikiran menyuruhnya untuk memperdaya Abu Jahal dan memperdaya Umayyah bin Khalaf. Tetapi, jiwa yang ada di dalam dadanya menggerakkan telunjuk jarinya untuk menentang seluruh dunia.

“Rasa peka“ yang mengubah darah menjadi api itulah yang menggerakkan telunjuk jari Bilal dan membuat ia menyerukan ucapan,
“Ahad, Ahad.” Ketika ia ditanya, “Apa yang membuatmu mengucapkan,
‘Ahad, Ahad’? Ia menjawab, “Sekiranya aku tahu ada kata-kata yang membuat marah mereka, pasti kuucapkan. Namun aku mengetahui betul bahwa ucapan itu akan membuat mereka marah.”

Siapakah mereka yang mampu mengubah? Akademi-akademi keilmuankah? Perpustakaan perpustakaankah? Atau ilmuwan-ilmuwan yang menulis di atas meja-meja merekakah?

Rak-rak perpustakaan telah penuh dengan buku, namun kita hanya menghendaki satu buku yang berjalan di atas bumi. Percetakan-percetakan telah sarat dengan mushaf cetakan, namun kita hanya memerlukan satu mushaf yang berjalan di muka bumi. Sesungguhnya mushaf-mushaf yang berjalan di atas bumi dalam wujud daging dan darah itulah yang berhasil mengubah generasi. Merekalah yang mendorong manusia. Merekalah yang membimbing manusia. Merekalah yang berhasil mengubah situasi.

Jari telunjuk Sayyid Quthb menuding ke arah penguasa Mesir ketika mereka mambujuknya supaya mau menerima jabatan pada satu kementrian. Ia berkata, “Sesungguhnya jari telunjuk yang teracung mempersaksikan keesaan Allah di dalam shalat ini, menolak menulis satu huruf pun untuk mengakui hukum thaghut!”

Inilah contoh. Sesungguhnya Sayyid Quthb telah melakukan perbuatan besar sendirian. Hal tersebut belum pernah dilakukan oleh ulama-ulama Al-Azhar selama ratusan tahun. Mengapa demikian? Suara “perasaan” itulah yang mendorongnya. Suara hati itulah yang mendorongnya.

Dalam bukunya, Sayyid Quthb mengatakan, “Bagaimana mungkin hati yang telah diliputi cahaya iman dapat diam dan tenang, sementara ia melihat jahiliyah bertengger di atas kepalanya? Bagaimana bisa tenang, tanpa berbuat sesuatu untuk mengubah keadaan.”

“Perasaan” adalah yang berperan pertama kali, sebagaimana kata Malik bin Nabi[1] pada masa permulaan dakwah Islam. Kemudian setelah dakwah mencapai kemenangan, dan prinsip-prinsip Islam menjadi tinggi dengan pengorbanan hati nurani dan jiwa, baru tiba peranan akal untuk melakukan penemuan-penemuan ilmiah dan menciptakan peradaban. Apabila akal didahulukan dari jiwa dalam penyebaran suatu dakwah, ia akan mati dalam masa kelahirannya dan terkubur di dalam bumi serta tidak akan pernah berpindah dari tempat jasadnya.


Akal tidak boleh sama sekali mendahului ruh. Rasionalitas modern tidak boleh mendahului rasionalitas abad dua puluh; hikmah modern, sebagaimana mereka katakan, tidak boleh mendahului suara hati nurani dan suara ruh.
Oleh karena itu, kita temui bahwa prinsip-prinsip yang diperjuangkan di bumi bisa menang ketika ditemukan pengikut-pengikut yang siap berkorban untuk membela dan berperang di jalannya. Salah seorang Mujahidin Afghanistan menceritakan kepada saya tentang seorang komunis.

Katanya, “Ucapkanlah, ‘Asyhadu an Lâ ilâha illallah ’.”
Namun orang komunis itu menjawab dengan sikap menantang,
“Saya harus mengucapkan, ‘Asyhadu an Lâ ilâha illallah?’ Ketahuilah saya telah memotong lidah para ulama karena mereka mengucapkan Lâ ilâha illallah . Saya telah merobek mulut pengikut ajaran tauhid karena mereka mengucapkan Lâ ilâha illallah . Lantas apakah kalian menghendaki saya mengucapkan Lâ ilâha illallah ?”

Orang komunis itu akhirnya dibunuh karena menolak masuk Islam. Ia tetap bersikukuh mempertahankan prinsipnya. Bukankah kita yang lebih layak untuk menantang jahiliyah dengan dien kita dan merasa bangga dengan prinsip-prinsip kita?

Inilah Abu Jahal. Sebelum ia menarik nafasnya yang terakhir pada Perang Badar, ia tersadar dari sekaratnya dan membuka kedua mata. Ia melihat Abdullah bin Mas’ud berjongkok di atas dadanya.
Ia bertanya, “Kemenangan di pihak siapa di hari itu?”
Abdullah bin Mas’ud menjawab, “Allah dan Rasul-Nya.”
Mendengar jawaban itu Abu Jahal berujar, “Huh!”

Sampai detik akhir kehidupannya, ia tetap menentang dan bersikukuh dalam kekufuran. Bukankah kita lebih pantas bersikukuh mempertahankan keyakinan kita daripada mereka? Kita tidak memperlihatkan sikap rendah dalam Din kita. Kita tidak hidup tertindas di muka bumi.

Kita sebagai umat pilihan seharusnya lebih layak berbangga karena dengan Islam. Karena dien inilah yang akan mengantarkan kita ke Jannah-Nya. Perasaan peka di hati ini lah yang menjadi bukti keimanan kita, manakala ada sentuhan perasaan keimanan, maka segera bangkitlah semangat kita untuk membela dien Allah yang mulia ini. Wallahu a’lam bi shawab.


Diinisiasi dari Tarbiyah JIhadiyah jilid ke-8 karya syaikh Abdullah Azzam rahimahullah.

(1) Malik bin Nabi adalah salah seorang pemikir Islam yang terkemuka abad kedua puluh. Beliau berasal dari Algeria. Sewaktu hidup beliau banyak menghabiskan waktunya untuk mencari penyelesaian terhadap isu-isu yang dihadapi oleh umat Islam, dengan mencadangkan suatu bentuk penyelesaian yang beradab untuk mengeluarkan umat dari kejatuhan.
Malik bin Nabi memiliki nama lengkap yaitu Malik bin el-Haj Umar binel-Hadlari bin Mustofa bin Nabi. Ia dilahirkan di Kota Konstantin, Aljazair pada tanggal 2 Januari 1905 M .



Sumber : disini

Related

Artikel Kajian Islam 3704558469967210410

Post a Comment

Teknik dan Strategi Menguasai Search Engine Google untuk Memenangkan Kompetisi Website Bisnis

http://picasion.com/

Software GO SMART AND FUN

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Belajar Import dari Cina

INDONESIAN 3D ARCHITECT COMMUNITY

Translate

item