Kunci Kemenangan itu Bernama Kesabaran


Masjid-masjid dan pemakmurannya; shalat-shalat dan rakaat-rakaatnya; pertemuan dan konferensi, semua itu dilindungi oleh pedang jihad. Yang menjamin eksistensinya adalah i’dad (persiapan) dan kesiapan. Tidak mungkin, ibadah akan tegak dan berlanjut; jamaah tidak mungkin stabil dan menetap, tanpa adanya jihad yang menjaganya, tanpa adanya ujian demi menjaga akidahnya, untuk membentuk perisai dan zirahnya.

Para ulama sepakat bahwa kenikmatan tidak diraih dengan kenikmatan. Kenikmatan hanya bisa diraih dengan ujian, jerih payah, kesempitan, dan pengorbanan. Dengan inilah kenikmatan bisa diraih pada akhirnya. Oleh karena itu, Allah berfirman berkenaan dengan orang-orang sabar dalam beberapa tempat, mencapai sembilan puluh tempat di dalam Al-Qur’an.

Allah merinci ada enam belas atau dua puluh faedah sabar. Faedah yang paling utama ialah:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

 “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang diberi pahala tanpa batas.” (Az-Zumar: 10).


Kesabaran

Apakah kesabaran itu? Sabar ialah sebagaimana kata ulama: menahan jiwa dari sikap putus asa, marah, dan sedih. Menahan lisan dari berkeluh kesah. Menahan jasmani dari gangguan. Menahan jiwa dari amarah. Sebab, kita marah, putus asa, dan sedih karena perkara yang Allah turunkan. Dan kita tidak tahu, boleh jadi perkara itu adalah kebaikan untuk kita, yang Allah peruntukkan bagi kita dari atas langit ke tujuh.

Akhir dari kesabaran ialah kemenangan yang besar. Bahkan malaikat bersiap menyambut dan memberi salam kepada mereka, serta mengingatkan bahwa keteguhan mereka adalah berkat kesabaran mereka.

وَالْمَلائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ, سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
“Dan malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), ‘Salamun ‘alaikum bima shabartum.’ Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Ar-Ra’d: 23-24).

Salamun ‘alaikum bima shabartum. Huruf ba’ dalam kalimat ini berfungsi ba’ sababiyah; yang menunjukkan sebab. Maksudnya, dengan sebab kesabaran kalian, kami (malaikat) memberi salam, menemui kalian, dan menyambut kalian dari setiap pintu-pintu surga.

Disebutkan di dalam sebuah atsar, perihal orang-orang sabar pada hari kiamat:
“Didatangkan ahlul bala’ pada hari kiamat. Maka mizan tidak ditegakkan untuk mereka, dan catatan amal tidak dibuka untuk mereka. Mereka dilimpahi banyak kenikmatan. Lalu penghuni surga bertanya, lantaran apa mereka menerima semua itu? Ahlu mauqif (orang-orang yang diberdirikan) bertanya, siapa mereka itu, merngapa mereka tidak di-hisab? Lalu mereka (malaikat) menjawab, ‘dengan sebab kesabaran mereka.’

Lalu orang-orang yang diberi banyak kenikmatan di dunia beranganangan andai saja badan-badan mereka dicincang dengan gancu karena mereka melihat kebaikan yang diberikan ahlul bala’ dan orang-orang yang bersabar menghadapinya.” (Majma’ Az-Zawa’id wa Manba’ Al-Fawa’id)

Oleh sebab itu, derajat ibadah yang paling utama dan yang paling tinggi adalah sabar. Sabar itu wajib. Sabar adalah bagian dari iman dan Islam sebagaimana kepala pada jasad. Sebagaimana tidak ada kehidupan bagi jasad yang tanpa kepala, demikian juga keimanan, keimanan tidak boleh tanpa kesabaran.

Bagi orang-orang yang sabar, Allah membuka bashirah-bashirah mereka terhadap ayat-ayat-Nya, dan mengajarkan hikmah-hikmah-Nya.

Dengan kesabaran itu, Allah membuka mata bashirah mereka. Apa itu mata bashirah? Mata bashirah yang dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

 “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.” (Saba’: 19).

Yang memahami dan merasakan ayat-ayat Allah ‘Azza wa jalla ialah orang-orang yang bersabar di atas jalan-Nya. Ada  seorang pemuda mengatakan sesuatu pada syaikh Abdullah Azzam, “Islam tidak mungkin bisa dipahami kecuali dengan jihad. Dan saya telah bergabung bersama mujahidin selama dua bulan. Dengan itu saya tahu bahwa agama ini tidak mungkin dipahami kecuali oleh para mujahidin.”

Semoga Allah merahmati Sayid Quthb yang mengatakan, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini, rahasia-rahasianya tidak akan dibukakan, dan komponen-komponennya tidak akan diberikan kepada seorang fakih yang qa’id (tidak berjihad). Agama ini tidak mungkin akan dipahami kecuali oleh mujahidin yang berjuang demi mengibarkan bendera lâ ilâha illallâh di atas bumi.”

Syaikh Abdullah Azzam menekankan bahwa pemahaman terhadap agama ini hanya akan terwujud bagi orang-orang yang bergerak di bumi ini, bersabar menghadapi musibah dan ujian, bersabar menjalankan ibadah, baik yang berupa (menjauhi) larangan maupun hal-hal yang makruh. Sampai Allah membukakan kemenangan-kemenangan di dalam hati. Mereka mendapati kemenangan-kemenangan itu di alam nyata dan di dalam kehidupan mereka. Kemenangan yang dekat dan kemenangan yang jauh.

Kemenangan di dunia dan kemenangan di dalam hati. Kemudian, setelah itu, mereka akan mendapatkan kemenangan yang besar bersama Al-Mala’ Al-A’la di langit dan di surga.

Oleh sebab itu, Ibnu Abbas menerangkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:

فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

 “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At-Taubah: 122)

Ibnu Abbas berkata—perkataan ini juga diambil oleh Sayid Quthb di dalam Adh-Dhilâl, orang-orang yang berangkat ialah orang-orang yang paham. Maka, orang-orang yang memahami agama ini ialah orang-orang yang berangkat (perang) untuk menerapkan perintah-Nya dalam realitas.

Bagaimana mereka memperingatkan kaumnya jika sudah kembali? Yaitu dengan apa yang mereka pahami dari rahasia-rahasia agama ini ketika mereka bergerak dan ketika mereka berjihad, dan kesungguhan mereka adalah demi meninggikan benderanya (agama) dan menerapkan syariatnya.


Al-Ma’iyah (Kebersamaan) Bersifat Khusus

Allah juga memberi kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, bahwa Dia bersama mereka. Tapi ini bukan kebersamaan yang umum. Sebab, Allah itu bersama kalian di mana pun kalian berada, yaitu dengan pendengaran-Nya, pengetahuan-Nya, dan penglihatan-Nya.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
  
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Qaf: 16).
Dia mendengar kita, melihat kita, dan mengetahui kita. Ini adalah mai’yah (kebersamaan) yang bersifat umum. Adapun kebersamaan yang bersifat khusus ialah hanya bagi ashfiya’ (orang-orang yang suci), auliyâ’ (para wali), atqiyâ’ (orang-orang bertakwa), dan Allah juga bersama dengan orang-orang yang sabar.

Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Kesabaran juga bermanfaat bagi kita. Dengan sabar dan takwa, Allah menjaga kita dari musuh, melindungi kita dari tipu daya mereka, dan mengembalikan makar dan tipu daya mereka kepada mereka sendiri.

Allah berfirman

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ
 اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak mendatangkan kemudaratan sedikit pun kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Ali ‘Imran: 120).

شَيْئًا (sedikit pun): ism nakirah berada di dalam kontek kalimat nafi (negative). Tipu daya mereka tidak mendatangkan kemudaratan sedikit pun kepadamu. Kalimat ini berkonteks umum. Para ushuliyun mengatakan, “(Ayat ini) berlaku umum meliputi segala macam yang mereka tipu dayakan bagi kalian. Dan kekejaman mereka tidak membahayakan kalian sedikit pun. Tipu daya mereka tidak membahayakan kalian sama sekali. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala yang mereka kerjakan.”

Bahkan turunnya malaikat bergantung pada kesabaran dan ketakwaan. Bendera dari malaikat ini mencakup lima ribu malaikat. Inilah jumlah (malaikat yang turun) bagi setiap pasukan yang sabar dan ikhlas, hingga hari kiamat.
بَلَى إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آلافٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُسَوِّمِينَ, وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلا بُشْرَى لَكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُمْ بِهِ

“Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya.” (Ali ‘Imran: 125-126).

Jadi, sabar dan takwa itu menyebabkan turunnya malaikat dari langit untuk memberikan kemenangan. Ketahuilah, kemenangan itu bersama kesabaran. Sabar dan takwa itu menyebabkan turunnya malaikat dari langit.
Sabar dan takwa itu yang menolak tipu daya musuh di bumi; membuka bashirah-bashirah di dalam jiwa dan hati yang terdalam. Sabar adalah kewajiban dari Allah ‘Aza wa Jalla.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Ali ‘Imran: 200).
Bersabarlah ketika mendapat kenikmatan; bersabarlah ketika menghadapi musibah; bersiap siagalah di perbatasan; bertakwalah kepada Allah dalam segala hal, niscaya kita beruntung di negeri abadi di sisi Rabbul ‘alamin.

“Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”


Diinisiasi dari Tarbiyah Jihadiyah jilid ke-8  karya syaikh Abdullah Azzam rahimahullah


 Sumber : disini

Related

Artikel Kajian Islam 7760423110196274574

Post a Comment

Teknik dan Strategi Menguasai Search Engine Google untuk Memenangkan Kompetisi Website Bisnis

http://picasion.com/

Software GO SMART AND FUN

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Belajar Import dari Cina

INDONESIAN 3D ARCHITECT COMMUNITY

Translate

item