Fatwa Ulama Disebut Bukan Hukum Nasional, GNPF MUI: Berarti Dia Lupa Sejarah



Foto: Ustadz Bachtiar Nasir diapit kedua putra KH Noer Alie di Masjid Attaqwa Bekasi pada Rabu, (25/01).


Ketua Umum Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF- MUI) Ustadz Bachtiar Nasir menyatakan jika ada yang mengatakan fatwa ulama bukan hukum nasional berarti ia lupa akan sejarah bangsa Indonesia.


“Kalau ada yang menyatakan fatwa ulama bukanlah hukum nasional maka dia salah secara historis dalam menafsirkan undang-undang. Sebelum negara ini ada, Islam telah menjadi ‘the living law’ , hukum yang telah dijalankan oleh mayoritas bangsa ini,” ujar Ustadz Bachtiar Nasir dalam diskusi kebangsaan dan deklarasi persatuan umat di Masjid Raya Attaqwa, Ujungharapan Bekasi Utara, Rabu, (25/01).

Alumnus Madinah ini melanjutkan, jika kita melihat peristiwa kebangsaan dari perspektif tadabbur, makna hikmah dalam sila keempat Pancasila tidak bisa dipahami tanpa mempelajari Islam.

“Makna ‘hikmah’ hanya bisa dipahami oleh ulama, maka jangan sampai mengkriminalisasi ulama,” tukasnya di hadapan ribuan jamaah yang hadir.
Ustadz Bachtiar mengungkapkan yang boleh memimpin bangsa Indonesia hanyalah orang yang memiliki hikmah. Sementara, definisi hikmah menurut syariat adalah ilmu yang bermanfaat dan amal soleh.

“Jadi yang boleh memimpin kedaulatan rakyat ini adalah pemimpin yang ilmunya bisa bermanfat dan beramal soleh. Tapi di Indonesia yang jadi pemimpin karena ilmu manfaat atau karena uang? Karena amal soleh atau pencitraan??” Tanyanya retoris.

Dilanjutkannya, dalam sila kedua Pancasila juga terdapat kata adil dan beradab. Maka, dua kata ini pun tidak mungkin dipahami oleh bangsa ini tanpa peran ulama.
Terkait adab, Pimpinan AQL Islamic Center ini menceritakan tidak ada aksi massa seberadab umat Islam di Indonesia seperti dicontohkan pada aksi 411 dan 212. Pada aksi tersebut umat Islam berhasil bergerak secara tertib dan tidak meninggalkan sampah. Berbeda dengan yang ditunjukkan massa aksi tandingan.

Adil dalam perspektif Islam, ialah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Namun, belakangan ini, menurut Ustadz Bachtiar banyak pihak yang tidak menginginkan Indonesia beradab dan berkeadilan.

Ia pun bertanya kepada jamaah, “Kira-kira kalau tidak ada aksi bela Islam, Ahok diperiksa atau tidak?”
Sontak ribuan jamaah itu menjawab, “Tidaak!”

Ustadz yang akrab disapa UBN ini kembali menegaskan, “Ada apa dengan hukum kita? Memang ada upaya penegakan hukum.. tapi bukan hukum yang berkeadilan, keadilan yang bukan berdasar hukum,” pungkas dia.

Pantauan Kiblatnet di lapangan, sekitar 5.000 kaum muslimin yang terdiri dari santri Pondok Pesantren Attaqwa, pelajar sekolah cabang Attaqwa dan umat Islam tumpah ruah menyambut Ustadz Bachtiar Nasir pada pagi ini, Rabu, 25 Januari 2017 di Masjid Attaqwa Ujungharapan, Bekasi.

Kedatangan Ustadz Bachtiar Nasir merupakan tamu undangan sebagai pembicara dalam dialog kebangsaan dan deklarasi umat Islam.

Pondok Pesantren Attaqwa Ujungharapan Bekasi merupakan pondok pesantren yang cukup berpengaruh di wilayah Jabodetabek. Pesantren ini didirikan oleh ulama kharismatik sekaligus pahlawan nasional dari Bekasi, KH Noer Alie.
Santri-santri Pondok Pesantren Attaqwa yang berjumlah ribuan konsisten melakukan pembelaan umat dan agama. Santri putra Attaqwa tak pernah absen dalam aksi bela Islam 411 dan 212. Mereka juga menunjukkan sikap tegas penentangan terhadap pembangunan gereja liar Santa Clara di Bekasi.

Sumber : disini

Related

Liputan Dakwah 7086104072574938159

Post a Comment

Teknik dan Strategi Menguasai Search Engine Google untuk Memenangkan Kompetisi Website Bisnis

http://picasion.com/

Software GO SMART AND FUN

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Belajar Import dari Cina

INDONESIAN 3D ARCHITECT COMMUNITY

Translate

item