Spirit 212, Karena Orang Kafir Tak Mungkin Tegakkan Syariat Allah

Hingga hari ini, semangat umat Islam Indonesia memperjuangkan surat Al-Maidah 51 masih membara. Sejak pertama kali ayat itu dilecehkan oleh Ahok, kesadaran umat untuk membela terus meluas hingga manyentuh masyarakat awam. 

Aksi menuntut pemerintah agar Ahok segera dihukum pun terus digalakkan. Ceramah para ulama yang bertemakan surat Al-Maidah masih terdengar di mana-mana. Mulai dari aksi damai satu, dua dan tiga, hingga berlanjut ke tempat-tempat pengajian, majlis taklim dan kegiatan-kegiatan pemersatu umat lainnya.




Akhirnya kita pun dibuat semakin sadar dengan kandungan surat Al-Maidah. Tidak hanya intisari dari ayat 51 saja. Lebih daripada itu, kajian Al-Maidah juga telah membangkitkan kesadaran kita mengamalkan perintah yang terdapat dalam surat kelima dari kitab suci tersebut—bahkan seluruh kandungan Al-Quran, yaitu kesadaran untuk menegakkan hukum Allah.

Secara global, dalam surat al-Maidah, Allah Ta’ala berulang kali mengingatkan hamba-Nya untuk menegakkan syariat Islam secara menyeluruh. Karena itu, Ketika menafsirkan surat tersebut, Sayyid Qutub mengawalinya dengan menjelaskan intisari surat tersebut.

“Al-Quran karim diturunkan ke dalam hati Rasulullah, sebagai petunjuk untuk membangun umat, menegakkan daulah, mengatur masyarakat serta membina hati nurani, akhlak dan akal pikiran.” demikian tulis Sayyid Qutub dalam Tafsir Fi Dzilalil Qur’an.”
“Selain itu, Al-Qur’an juga diturunkan untuk mengatur atau membingkai batas-batas hubungan masyarakat antar sesama mereka, hubungan satu negara dengan negara lainnya, hubungan satu bangsa dengan bangsa lainnya. Mengikat bingkai-bingkai tersebut menjadi satu ikatan kuat, menghimpun yang terpisah, mempersatukan bagian-bagiannya dan mengikat semuanya pada satu sumber, satu kekuasaan dan satu arah tujuan dan itulah yang disebut dengan agama (ad-din) dalam arti kata yang sebenarnya di sisi Allah.”

Lalu beliau menegaskan, “Semua aturan tersebut dilakukan dengan prinsip mentauhidkan Allah Ta’ala dengan tauhid uluhiyah, rububiyah, qawwamah dan sultan serta menerimanya sebagai manhaj kehidupan. Menerima syariatnya, peraturannya, norma-normanya dan tata nilainya yang datang dari Allah saja, tanpa mempersekutukan-Nya.” (Tafsir Fi Dzilali Qur’an, 2/825)
Al-Maidah seruan untuk menegakkan hukum Allah

Sebelum membicarakan Al-Maidah 51, Allah ta’ala telah berulang kali mengingatkan tentang kewajiban penegakkan hukum syariat atas seluruh umat manusia. Mulai dari bentuk seruan yang ditujukan kepada orang beriman, motivasi dengan menyebutkan keunggulan hukum Islam, hingga ungkapan dalam bentuk ancaman.

Tiga ayat sebelum al-Maidah 51 misalnya. Sebelum mengharamkan pengangkatan orang kafir sebagai pemimpin, dengan tegas Allah Ta’ala perintahkan kepada nabi-Nya untuk menegakkan hukum Allah serta meninggalkan segala macam bentuk pendapat yang bersumber dari hawa nafsu manusia. Firman-Nya:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…” (QS. Al-Maidah: 48)

Ibnu Katsir menuturkan bahwa maksud ayat ini adalah, “Hai muhammad putuskanlah perkara di antara manusia, baik yang arab maupun yang non arab (‘ajam), baik yang buta huruf maupun yang pandai baca tulis, dengan apa yang diturunkan oleh Allah kepadamu di dalam Al-Qur’an yang agung ini.”
“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, yaitu pendapat-pendapat mereka yang mereka beri istilah sendiri dan karena itu mereka meninggalkan apa yang apa yang diturunkan oleh Allah kepada rasul-Nya.” 

Lanjut Ibnu Katsir. karena itulah dalam ayat berikutnya Allah kembali tegaskan dengan ayat, “Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.

Yakni! Janganlah kamu berpaling dari kebenaran yang diperintahkan oleh Allah kepadamu,lalu cenderung kepada hawa nafsu orang-orang bodoh lagi celaka itu.

Berkenaan dengan asbabun nuzul ayat ini, dalam tafsirnya, Ibnu katsir menukil sebuah riwayat dari Ibnu Abbas, di mana ia menceritakan bahwa ka’ab Ibnu Asad, Ibnu Saluba, Abdullah Ibnu Suria dan Syas Ibnu Qois, sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain,

 “Marilah kita menghadap Muhammad, barangkali saja kita dapat memalingkan dia dari agamanya.”
lalu mereka datang kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Hai muhammad sesungguhnya kamu mengetahui sesungguhnya kami adalah rahib-rahib yahudi, orang yang terhormat di antara mereka adan pemuka-pemuka merekaJika kami mengikutimu, niscaya orang-orang yahudi juga akan mengikutimu dan tidak menentang kami.

Sekarang telah terjadi suatu perselisihan antara kami dan kaum kami, maka kami serahkan keputusan ini kepadamu, maka putuskanlah untuk kemenangan kami atas mereka, lalu kami mau beriman kepadamu dan membenarkanmu.” Tapi Rasulullah menolak tawaran tersebut, lalu Allah menurunkan firman-Nya berkenaan dengan mereka;

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.”  (QS. Al-Maidah: 49)

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka inginkan?

“Barangsiapa yang berhukum kepada selain hukum Alah maka itu dia berhukum dengan hukum jahiliyah.” Demikian kesimpulah Ibnu Abi Hatim yang ditulis oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya. Sebagai bentuk pengingkaran terhadap hukum jahiliyah, Allah ta’ala melanjutkan firman-Nya;
أَفَحُكْمَ 
الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”  (QS. Al-Maidah: 50)
“Melalui ayat ini, Allah ta’ala mengingkari orang yang keluar dari hukum-Nya yang muhkam (sudah pasti ketentuan hukumnya) yang memuat segala kebaikan dan melarang segala kerusakan, kemudian ia berpaling kepada hukum lain yang berupa pendapat-pendapat, hawa nafsu dan istilah-istilah yang dibuat oleh para tokoh penguasa tanpa bersandar kepada syariat Allah. Sebagaimana orang-orang pengikut jahiliyah Bangsa Tartar memberlakukan hukum yang berasal dari sistem perundang-undangan raja mereka, Jengish Khan.”

Kemudian Ibnu katsir meneruskan penjelasannya, “Jengish Khan membuat undang-undang yang ia sebut dengan Ilyasiq, yaitu sekumpulan peraturan perundag-undangan yang diambil dari banyak sumber, seperti sumber-sumber Yahudi, Kristen, Islam dan lain sebagainya. Di dalamnya juga banyak terdapat hukum-hukum yang murni berasal dari pikiran dan hawa nafsunya semata.
Hukum ini menjadi undang-undang yang diikuti oleh keturunan Jengis Khan, mereka mendahulukan undang-undang ini di atas berhukum kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Barang siapa berbuat demikian maka ia jatuh kepada kekufuran, wajib diperangi sampai ia kembali berhukum kepada hukum Allah dan Rasul-nya, sehingga tidak berhukum dengan selainnya baik dalam masalah yang banyak maupun sedikit.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/130)

Senada dengan pendapat di atas, Sayid Quttub juga menjelaskan bahwa pengertian hukum jahiliyah di sini adalah hukum buatan manusia untuk manusia. “Orang yang tidak menghendaki hukum Allah,” tulis beliau dalam kitab tasirnya, “berarti menghendaki hukum jahiliyah. orang yang menolak syariat Allah berarti menerima syariat jahiliyah dan hidup di dalam kejahiliyahan.”

“Lalu di ujung ayat tersebut, mereka ditanya dengan nada ingkar karena menghendaki hukum jahiliyah, Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-rang yang yakin?’ Ya, siapakah yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah? Siapakah gerangan yang berani mengatakan bahwa syariat dan hukum yang dibuatnya untuk manusia itu lebih baik daripada syariat dan hukum Allah? Apakah ia berani mengatakan bahwa dia lebih mengetahui daripada Pencipta manusia?” (lihat; Tafsir Fi Dzilalil Qur’an, 2/ 904-905)

Karena itu, semua ulama sepakat bahwa berhukum dengan hukum Allah adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim. Meyakini bahwa tidak ada hukum yang lebih baik daripada hukum Allah merupakan konsekuensi dari syahadat. Maka ketika umat islam meyakini sebaliknya; hukum manusia lebih baik daripada hukum Allah serta tidak wajib direalisasikan maka dia telah jatuh kepada kekufuran.

Imam Ibnu Abil Izz mengatakan, “Jika meyakini bahwa berhukum dengan apa yang diturunkan Allah itu tidak wajib dan ia boleh memilih (antara memakai hukum Allah atau tidak) atau meremehkan hal itu sekalipun ia meyakini bahwa itu hukum Allah, maka ia telah kufur akbar.” (Syarh Aqidah Thahawiyah, 2/446)

Perkataan serupa juga diungkapkan oleh sejumlah besar ulama-ulama lain. di antara Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, ia berkata, “Jika meyakini bahwa memutuskan perkara dengan hukum Allah hukumnya tidak wajib dan ia boleh memilih (mau memakai hukum Allah atau hukum positif), sekalipun ia meyakini hukum Allah maka ini adalah kufur akbar.” (Madarijus Salikin 1/337)

Jika melihat korelasi (munasabah) antara Al-Maidah 49-50 dengan Al Maidah 51, maka kita akan mengerti kenapa Allah melarang kita mengangkat orang kafir sebagai pemimpin dan teman setia. Al-Maidah 49-50 berbicara tentang wajibnya menerapkan syariat Allah. Al-Maidah 51 berbicara tentang larangan mengangkat pemimpin kafir, karena pemimpin kafir tidak akan mungkin menerapkan syariat Allah. Hanya orang Islam-lah yang memiliki kemungkinan untuk menerapkan syariat Allah.

Ringkasnya, semangat penegakkan Al-Maidah 51 memang berisi larangan mengangkat orang kafir sebagai pemimpin. Namun pelarangan itu karena sebuah alasan yang disebutkan di ayat sebelumnya, yaitu perintah untuk menjadikan hukum Allah sebagai aturan hidup manusia yang tidak mungkin dilakukan oleh orang kafir. Jadi, semangat memperjuangkan al-maidah adalah semangat memperjuangkan tegaknya hukum Allah. wallahu a’lam bis shawab!

Sumber : [Kiblat]

Related

Artikel Kajian Islam 8724268000251811

Post a Comment

Teknik dan Strategi Menguasai Search Engine Google untuk Memenangkan Kompetisi Website Bisnis

http://picasion.com/

Software GO SMART AND FUN

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Belajar Import dari Cina

INDONESIAN 3D ARCHITECT COMMUNITY

Translate

item