Persatuan Ini Janganlah Cepat berlalu

Setiap manusia yang bersungguh-sungguh mempelajari agama ini, mereka akan faham dan mengerti bahwa ada dua ruang lingkup di dalamnya. Lingkup pertama mencakup perkara-perkara yang semua orang satu suara tentangnya. Islam menyebutnya sebagai perkara yang qoht’i atau aksioma. 


Siapapun yang mengingkari dan ingin tampil beda di dalamnya, dipastikan gelombang celaan umat tak terbendung. Bagian pertama ini tidak mentolerir adanya kebinekaan, karena kebenaran hanya satu dan tak berbilang.

Akan tetapi, umat lupa atau mungkin dibuat lupa, bahwa Islam juga mencakup perkara-perkara yang bersifat dzoniyyah atau spekulatif. Tidak santun apabila hanya menyoal satu sisi tanpa mencoba melirik ke sisi lainnya. Jika setiap pembawa bendera organisasi mau jujur, merupakan keharusan bagi mereka menjelaskannya kepada umat. Agar umat lebih ‘legowo’ dengan warna-warni dalam tubuh umat ini.


Kewajiban Bersatu dan Larangan Berseteru

Persatuan kaum muslimin dan larangan berpecah-belah, merupakan prinsip yang agung dalam agama Islam. Namun layak disesalkan, kenyataan yang nampak di lapangan berbeda dengan teori yang diajarkan. Kita masih sering mendapati tontonan gratis ‘perkelahian’ antar saudara seiman. Menyakitkan? Jawabannya tentu iya, karena ketika musuh semakin solid dalam kebatilan guna memerangi pengusung kebenaran, justru kita masih sibuk ribut di kandang sendiri.

Fenomena 4 November 2016 bisa menjadi pelajaran penting bagi kaum muslimin. Jika kita fokus pada persamaan dan berhenti sejenak menegasikan orang lain, persatuan umat menjadi keniscayaan. Perbedaan-perbedaan yang selama ini menjadi sekat antara mereka bisa dikalahkan dengan  prinsip, akidah kita sama; menolak pemimpin orang kafir, Al-Qur’an kita juga sama dan tidak boleh ada yang menghinannya.


Ketika Musuh Samar dan Tak Jelas

Gelombang penolakan terhadap orang nomor wahid di DKI Jakarta terhitung sebagai upaya pembelaan terhadap agama Islam terbesar dalam sejarah Bangsa Indonesia pasca kemerdekaanya. Padahal kalau mau jujur, bukan kali pertama ini saja Al-Qur’an dihinakan. Akan tetapi karena pemeran antagonis kali ini diperankan oleh seorang kafir asli, maka semua elemen umat Islam bersatu untuk melawannya. Berbeda ketika tokoh jahat tersebut dimainkan oleh ‘musang berbulu domba’, umat Islam terkesan loyo untuk berdiri menentangnya.

Pelajaran terpenting dari fenomena pelecehan Al-Qur’an kali ini adalah, umat akan bersatu jika musuhnya jelas dan tak bias, namun akan berpecah ketika musuh samar. Dengan ‘kalah’nya mereka pada ronde pertama ini, akan mengharuskan para pengambil keputusan di kalangan mereka untuk mengubah srateginya. Apabila dengan umpan orang kafir umat Islam akan ganas, maka umpan harus didatangkan dari kalangan mereka sendiri, yang warna dan kulitnya sama.


Pinjam Tangan

Mengaca pada sejarah, seharusnya umat sadar dan hafal akan jurus lama para musuh Islam. Mereka kerap kali meminjam tangan orang lain guna menjalankan agendanya. Prinsipnya, jika ikon musuh berasal dari orang kafir umat akan bersatu, namun akan berpecah tatkala musuh dari orang Islam sendiri.

Dengan memahami kaidah yang dipakai musuh Islam tersebut, seharusnya kita lebih mengedepankan husnuzhan (baik sangka) kepada saudara seagama, tak gampang curiga dan diadu domba. Akan teapi bila saudara kita terbukti salah, janganlah pula fanatik golongan maupun organisasi menyebabkan kita tak berlaku adil. Meskipun para petinggi dan pembesar, namun mereka tetap punya hak untuk diingatkan ketika keliru.


Mengobati Lupa

Kasus penistaan Al-Qur’an memang digadang-gadang tengah diproses, namun umat jangan lupa, ketika korban dari pihak muslimin hukum sering kali tak tegak di negeri ini, kecuali hanya ramai di awal namun terlupakan di tengah  dan akhir. Jangan sampai umat Islam di bohongi pakai status tersangka sang pencela.

Semoga Allah senantiasa menanamkan kecintaan pada diri kaum muslimin dalam pembelaan terhadap agamanya; menjauhkan kita semua dari perpecahan dan menyatukan kita semua di atas persatuan hakiki yang berasaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah dengan pemahaman Salafush Shalih, bukan persatuan semu yang dibangun di atas kepentingan kelompok, organisasi, pemimpin, maupun partai. Aamiin Ya Mujibas Saailiin.

[Kiblat]

Related

Artikel Kajian Islam 8389231441665966400

Post a Comment

Channel Dakwah di Facebook

Channel Dakwah di Facebook
Jendela Menuju Ilmu Syar'i

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Folow Me on Google Plus

FOLLOW ME ON FANSPAGE

Translate

item