Momentum Edukasi 4 Dimensi


Kita mengenal istilah 2, 3 dan 4 dimensi dalam dunia visual. Semakin tinggi angka dimensi, semakin lengkap sudut pandangnya. Keterlibatan penonton juga lebih intens.

Film 4 dimensi sebagai contoh. Penonton memakai kacamata khusus, dan kursi penonton ikut bergoyang kanan kiri ketika film yang ditonton menampikkan adegan mobil berjalan zigzag di medan off road. Bahkan saat ada adegan ular menyerang, kaki penonton disabet benda lentur seperti ular. Sontak penonton kaget.



Ini semua dimaksudkan agar penonton seperti terlibat langsung dalam pertunjukan, merasa seperti bagian darinya. Berasa di ruang yang sama, tak ada jarak psikologis dengannya.

Demikian pula dalam dunia pendidikan. Mendengar presentasi monolog dari guru, bisa dianggap teknologi 2 dimensi. Ketika murid melakukan simulasi, itu semacam teknologi 3 dimensi. Ketika peserta didik mengalami langsung sebuah peristiwa nyata dan natural, bukan simulasi pendidikan, ia seolah mengikuti pendidikan dengan teknologi 4 dimensi.

Itulah rahasia pendidikan pada zaman Nabi saw. Para sahabat dididik dengan kombinasi antara teks wahyu dengan realita natural. Karenanya hasil pendidikan mereka top, cepat dan meresap hingga tulang sumsum. Semua pendidikan yang mereka alami menggunakan semacam teknologi 4 dimensi sehingga hasilnya maksimal.

Terkait aksi 212, ini merupakan momentum edukasi terbaik untuk umat. Pendidikan dengan teknologi 4 dimensi. Pelajaran tentang cinta Al-Quran dan membelanya tak meresap jika hanya diceramahkan. Perlu ruang belajar yang hakiki, bukan simulasi.

Bahwa penistaan agama itu nyata dan hakiki, bukan simulasi. Bahwa hambatan dari aparat juga hakiki. Dan bahwa rasa lelah peserta aksi, haus, keringat dan suasana kemeriahan saat semua orang hadir untuk membela Islam, itu juga hakiki.

Semunya direkam secara live oleh mata kepala sendiri, bukan rekaman kamera. Cuaca panas dirasakan nyata oleh kulitnya. Rasa letih direkam oleh seluruh persendiannya. Inilah ruang belajar yang paling ideal, untuk sebuah hasil yang maksimal. Momentum edukasi yang tak tergantikan.

Sekiranya kelak sang penista lolos dari hukuman sekalipun, padahal tuntutan sudah dilakukan demikian masif dengan gemuruh di seantero negeri, itu tak perlu ditafsirkan sebagai kegagalan. Justru akan melahirkan momentum edukasi baru yang lebih tinggi karena pasti umat akan terus diasuh oleh semangat pembelaan Islam.

Mereka ditantang untuk lebih kreatif dalam melawan, lebih keringatan dan lebih solid dalam persatuan. Dan efek psikologis yang dihasilkan adalah lahirnya generasi tangguh yang hakiki dan teruji, bukan sekedar mengaku tangguh.

Maka gunakan momentum ini untuk mengedukasi diri, keluarga dan umat Islam. Belum tentu momentum edukasi live dan natural akan datang lagi. Kalaupun ada momentum baru, mungkin mata pelajarannya berbeda, bukan lagi tentang bela Islam karena Al-Quran dinista orang. Dan boleh jadi tak lagi berlabel super damai.

Sumber : @elhakimi

Channel : https://telegram.me/islamulia


Join channel : @suaramedia



Join channel : https://telegram.me/suaramedia

Related

Oase 8097756061568046752

Post a Comment

Teknik dan Strategi Menguasai Search Engine Google untuk Memenangkan Kompetisi Website Bisnis

http://picasion.com/

Software GO SMART AND FUN

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Belajar Import dari Cina

INDONESIAN 3D ARCHITECT COMMUNITY

Translate

item