Menistakan Al-Quran, Ciri Kafir Kuadrat

Manusia diciptakan Allah SWT dengan dikaruniai akal sehat dan kehendak. Dengan akal sehat, manusia bisa menimbang apa yang baik dan apa yang buruk bagi dirinya, apa yang bermanfaat bagi dirinya dan apa yang merugikan bagi dirinya. Dengan kemauan, manusia memiliki semangat untuk meraih hal yang baik dan bermanfaat bagi dirinya, dan menghindari hal yang buruk dan merugikan bagi dirinya. Dengan adanya tambahan nikmat panca indera dan fisik yang normal, maka manusia mampu bekerja untuk memenuhi keinginan-keinginannya.

Melengkapi semua nikmat dasar tersebut, Allah menurunkan nikmat dien kepada umat manusia. Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab suci sebagai pedoman hidup manusia. Dengan bimbingan wahyu Allah tersebut, manusia bisa meraih cita-cita kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat.
Dalam hal ini, Allah “hanya” memberikan segala nikmat dan sarana yang dibutuhkan manusia; baik nikmat dunia maupun nikmat agama. Bagaimana respon terhadap semua nikmat tersebut, manusia sendiri yang memutuskannya. Allah sama sekali tidak memaksakan kehendak-Nya kepada manusia.

Dari sinilah secara alami manusia terbagi menjadi dua golongan. Satu golongan mengedepankan cita-cita kebahagiaan hidup yang abadi di akhirat, dengan cara menaati para rasul-Nya dan kitab suci-Nya. Mereka adalah orang-orang Islam. Satu golongan lainnya lebih mengejar kesenangan hidup yang semu di dunia, dengan menolak rasul-Nya dan kitab suci-Nya. Mereka adalah orang-orang kafir. Masing-masing golongan akan mendapatkan balasan sesuai pilihan dan amal perbuatannya.
Allah SWT berfirman:
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ
“Maka katakanlah, ‘Kebenaran itu dari Rabb kalian. Barangsiapa ingin beriman, hendaklah ia beriman dan barangsiapa ingin kafir, hendaklah ia kafir!’ (QS. Al-Kahfi [18]: 29)
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ
Dialah Yang telah menciptakan kalian, maka di antara kalian ada orang kafir dan di antara kalian ada orang beriman. (QS. At-Taghabun [64]: 2)
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepada manusia jalan hidup, maka ada di antara mereka yang bersyukur (beriman) dan adapula yang kufur.”(QS. Al-Insan [76]: 3)

Kafir “Semata”

Setiap orang yang tidak memeluk agama Islam adalah orang kafir. Penyebab kekafiran bisa saja berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya. Ada yang kafir karena menyembah selain Allah seperti patung, dewa, setan, manusia, matahari, bulan, bintang, api, dan lainnya. Ada yang kafir karena tidak meyakini kenabian dan kerasulan Muhammad SAW. Ada yang kafir karena mengingkari Al-Qur’an sebagai wahyu Allah. Ada yang kafir karena tidak meyakini kebangkitan setelah mati, surga, dan neraka. Dan banyak sebab lainnya yang menghalangi orang dari masuk Islam.

Orang kafir, apapun agama dan kepercayaannya, secara umum apabila ditinjau dari kejahatannya terhadap agama Allah bisa dikelompokkan menjadi dua kelompok. Pertama, orang-orang kafir semata. Kedua, orang-orang kafir kuadrat.

Orang kafir semata adalah orang kafir “biasa”. Ia disebut kafir karena menganut suatu keyakinan kufur, mengucapkan ucapan kekufuran, atau melakukan perbuatan kekufuran. Secara ringkas, ia orang kafir karena sama sekali belum pernah masuk ke dalam agama Islam. Kesalahannya di hadapan Allah “hanya” satu, yaitu kekafiran dan kesyirikan. Ia tidak menambahi kesalahan besar tersebut dengan kesalahan lainnya terhadap agama Allah dan orang-orang beriman.

Contoh orang kafir semata adalah orang-orang yang difirmankan oleh Allah SWT berikut ini:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَم
Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan Allah adalah Al-Masih putra Maryam.” (QS. Al-Maidah [5]: 17)
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ
Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan Allah adalah satu dari tiga oknum ketuhanan.” (QS. Al-Maidah [5]: 73)
Allah menjelaskan balasan untuk orang-orang kafir “semata” tersebut dengan firman-Nya:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah [2]: 39)
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ خَالِدِينَ فِيهَا لا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلا هُمْ يُنْظَرُونَ
Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, niscaya mereka itu mendapat laknat Allah, para Malaikat, dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalam laknat (neraka) itu, tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh. (QS. Al-Baqarah [2]: 161-162)


Kafir “Kuadrat”

Adapula orang-orang kafir kuadrat. Mereka adalah orang-orang kafir yang menambahi dosa kekafiran dan kesyirikannya dengan dosa berat lainnya terhadap agama Allah SWT dan orang-orang beriman. Mereka tidak puas menjadi orang-orang kafir semata. Lebih dari itu, mereka juga membenci, memusuhi, melecehkan, menistakan, menyiksa, dan memerangi orang-orang yang beriman. Mereka bekerja keras siang dan malam untuk menghalang-halangi manusia dari memeluk dan mengamalkan agama Allah, Islam.

Mereka adalah orang-orang kafir kelas berat. Kekafiran dan kesyirikan yang mereka lakukan merupakan dosa yang paling berat. Ditambah dengan kejahatan-kejahatan mereka terhadap agama Allah dan orang-orang yang beriman, maka kekafiran mereka menjadi berlipat-lipat. Itulah kekafiran kuadrat.
Kejahatan mereka di dunia dan balasan Allah terhadap mereka ditegaskan dalam firman Allah berikut ini:
الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ
Orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan [yaitu siksaan yang berlipat ganda] disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan. (QS. An-Nahl [16]: 88)
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ قَدْ ضَلُّوا ضَلَالًا بَعِيدًا () إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَظَلَمُوا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا () إِلَّا طَرِيقَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا ()
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya.
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni dosa mereka dan tidak pula akan menunjukkan jalan kepada mereka. Kecuali jalan ke neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. An-Nisa’ [4]: 167-169)
الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ أَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ
Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka[1391]. (QS. Muhammad [47]: 1)

Maksud ayat di atas adalah semua amal perbuatan orang-orang kafir tersebut tidak mendapat bimbingan dari Allah, tidak dihargai-Nya, dan tidak mendapat pahala di sisi-Nya. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, Jiezah: Muassasah Qurthubah, cet. 1, 1421 H, juz XIII hlm. 58)

Dosa Menistakan Al-Quran

Di antara kejahatan orang-orang kafir kuadrat adalah mengejek, mengolok-olok, dan menistakan Al-
Qur’an. Tidak hanya mengkufuri Al-Qur’an, mereka juga melemparkan beragam tuduhan dusta terhadap Al-Qur’an. Seperti menuduh Al-Qur’an hanyalah dongeng masa silam, ketinggalan zaman, karangan Muhammad, contekan dari Injil dan Taurat, Al-Qur’an tidak otentik, atau Al-Qur’an mngandung kebohongan.

Tuduhan-tuduhan keji yang menistakan Al-Qur’an tersebut adalah kejahatan luar biasa terhadap Allah, kitab suci-Nya, dan agama-Nya. Allah menyebut pelaku penistaan seperti itu sebagaiAimmatul kufri, gembong kekufuran. Jadi, pelaku penistaan seperti itu bukanlah orang kafir semata. Mereka adalah orang-orang kafir kuadrat. Mereka adalah penjahat-penjahat agama kelas kakap. Mereka selevel dengan Abu Jahal, Abu Lahab, Al-Walid bin Mughirah, dan lain-lain.
Allah memberikan tuntunan sikap yang harus diambil oleh umat Islam terhadap para pemimpin kekafiran tersebut dengan firman-Nya:
وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ
Jika mereka merusak sumpah janjinya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, (perangilah mereka) agar supaya mereka berhenti (dari mencerca agamamu). (QS. At-Taubah [9]: 12)

Imam Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr Al-Qurthubi berkata, “Sebagian ulama berdalil dengan ayat ini atas wajibnya hukuman mati bagi orang yang mencerca agama Islam. Karena mencerc agama Islam adalah kekafiran. Mencerca (ath-tha’nu) adalah menyatakan hal yang tidak layak terhadap agama Islam, atau membantah dengan cara melecehkan perkara yang merupakan bagian dari agama Islam.” (Al-Qurthubi, Al-Jaami’ li-Ahkamil Qur’an, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, cet. 1, 1427 H, juz X hlm. 122-123)

Wallahu a’lam bish-shawab. []
Penulis : Fauzan
Sumber : disini






Related

Artikel Kajian Islam 7393938398056714468

Post a Comment

Teknik dan Strategi Menguasai Search Engine Google untuk Memenangkan Kompetisi Website Bisnis

http://picasion.com/

Software GO SMART AND FUN

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Belajar Import dari Cina

INDONESIAN 3D ARCHITECT COMMUNITY

Translate

item