Meneladani Generasi Unik Binaan Nabi

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kalian mencari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat: 12)

Berprasangka buruk kepada orang muslim hukumnya haram. Demikian pula memata-matai atau mencari-cari kesalahan mereka. Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian memata-matai orang lain, jangan saling bersaing, jangan saling mendengki, jangan saling membelakangi, jangan saling membenci, dan jadikanlah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR Shahihain).

Ghibah itu haram. Allah telah menerangkan kepada kaum muslimin bahwa perbuatan itu sangat dibenci dan diserupakan dengan memakan jenazah saudaranya sendiri. Sungguh menjadi pemandangan yang sangat menjijikkan dan memuakkan, melihat seseorang memotong-motong jenazah saudaranya dan kemudian memakannya.

Ibnu Katsir berkata, “Sebagaimana kalian benci memakan daging saudara kalian yang telah mati, tentunya kalian harus pula membenci hal yang sama menurut pandangan syar’i. Menggunjing seorang muslim jauh lebih besar keharamannya di sisi Allah daripada mendatangi mayat dan memotong-motong tubuh serta memakannya.”

Rasulullah Membina Masyarakat

Rasulullah menetapkan larangan ghibah dalam banyak hadits. Beliau bermaksud membangun masyarakat Islam yang individunya mempunyai hubungan yang sangat rapat dan saling mencintai. Rasa kasih saying tersebut tidak akan terwujud dalam suatu masyarakat, apabila keadaan mereka seperti yang dikatakan Hudzaifah bin Yaman kepada Mu’adz,

“Sesungguhnya aku menjumpai zaman, di mana aku melihat orang-orang hanya bersaudara pada lahirnya, namun batinnya bermusuhan.”

Ketika ia berjumpa denganmu, ia menyambutmu dengan muka berseri, memelukmu rapat-rapat, dan menciummu. Namun, begitu Anda berlalu dari sisinya sedetik saja, lidahnya telah berkata lancang terhadapmu. Tidak ada lagi yang luput dari celanya. Inilah yang dinamakan saudara luarnya dan musuh dalamnya. Mereka mendatangi orang dengan satu wajah dan mendatangi orang lain dengan wajah yang berbeda. Orang yang paling keras siksaannya pada hari Kiamat adalah orang-orang yang bermuka dua.
Rasulullah mengerti dan tanggap akan pengaruh lisan dan kefasihannya dalam mengoyak daging para kaum muslimin dan menjilat kehormatan mereka. Beliau mengetahui bahwa lisan merupakan alat terbesar yang dapat menghancurkan masyarakat dan memporak-porandakannya.

Oleh karena itu, beliau berpesan kepada kaum muslimin supaya menyebar kata-kata yang baik.
(والكلِمةُ الطَّيِّبَةُ صدَقَةٌ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Perkataan yang baik adalah sedekah. (Muttafaq ‘alaih).‎

Generasi Unik

Maka dari itu, generasi yang dibina oleh Rasulullah di mata kita tampak sebagai generasi yang unik dan jalinan sesama mereka sangat kokoh. Musuh-musuh Allah yang paling sengit dan yang paling besar kekuatannya di muka bumi sekali pun tidak mampu menarik keluar salah seorang dari jalinan masyarakat mereka yang kokoh. (Karena dalam hati mereka tertanam betul ajaran Nabinya yang bersabda).
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya yang ia suka untuk dirinya.”

Cukuplah melihat kemuliaan masyarakat muslim dengan mengetahui ketika Kaisar Romawi pernah berupaya membujuk seseorang yang diisolir di tengah masyarakat tersebut agar mau berpihak kepadanya, namun ia tidak mampu membujuknya.

Ketika itu Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Murarah bin Rabi’ diisolir dari lingkungan masyarakat muslim karena tidak ikut serta dalam Perang Tabuk. Dari jumlah pasukan Perang Tabuk yang 30.000 orang, hanya 3 orang yang tertinggal; dengan demikian tiap 10.000 orang hanya 1 yang tertinggal. Hukuman yang mereka terima dari Allah adalah diisolir oleh seluruh masyarakat muslim selama 50 hari. Istri-istri mereka bahkan turut pula mengisolir mereka atas perintah Rasulullah. Al-Qur’an menuturkan keadaan mereka
وَعَلَى الثَّلاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka. Hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah (pula terasa) sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (At-Taubah: 118)

Ketika Ka’ab hidup terasing, ia berharap seseorang mau memandangnya, dan berharap seseorang mau mengajaknya berbicara. Namun, tak seorang lelaki saleh pun dalam masyarakat tersebut yang mau menunjukkan rasa simpati padanya. Ia menuturkan, “Aku pun teringat pada putra pamanku, namanya Abu Qatadah. Ia adalah orang yang paling aku cintai, demikian pula perasaannya padaku sebelum terjadi pengisolasian itu.

Aku memanjat dinding rumahnya (sebab jika ia mengetok pintu rumahnya, pasti Abu Qatadah tidak mau membukakan pintu untuknya) dan berseru, ‘Hai Abu Qatadah, demi Allah aku bersumpah kepadamu, tahukah kamu bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?’ Ia tak menjawab. Kemudian aku mengulanginya sekali lagi dan sekali lagi. Namun ia tetap tak mau bicara dan hanya berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Maka berlinanglah air mataku dan kembali dengan perasaan hancur.”

Dalam masa pengisolasian yang menyesakkan ini, Raja Ghassan mengiriminya surat yang berisi pesan:
“Sesungguhnya kami telah mendengar bahwa sahabatmu telah menjauhimu. Allah tidak menjadikanmu untuk hidup di negeri yang hina. Maka ikutlah kami.”

Maka aku (Ka’ab) berkata dalam hati, “Demi Allah, ini adalah musibah. Kemudian aku pergi ke dapur dan membakar surat itu.” Ia membakarnya agar godaan atau bujukan apa pun yang menyelusup ke dalam hatinya tak tersisa lagi. Ia membakarnya agar isi surat tersebut tidak memengaruhi pikirannya. Pikiran yang melintas ke dalam benaknya untuk menerima tawaran dalam surat tersebut.

Kalau kita menerima surat dari George Bush, Reagan, Gorbachev, atau dari pemimpin dunia yang lain, pasti kita akan menyimpannya dalam arsip dokumen resmi. Namun, Ka’ab memandang remeh dunia dan mengabaikannya. Ia tidak mau menjawab permintaan seorang pemimpin dunia lantaran bangga dengan keislamannya dan berpegang pada keimanannya.

Masyarakat yang Solid

Masyarakat yang mendapat gemblengan langsung dari Rasulullah ini sangat kokoh. Bahkan seorang yang sudah terisolir dari lingkungannya, tidak diajak berbicara oleh seorang pun, bahkan oleh istrinya sendiri, tetap menolak ajakan Raja Ghassan untuk berpihak padanya. Masyarakat yang menampilkan Abu Bakar dan Umar pada hari Saqifah. Abu Bakar mengulurkan tangannya kepada Umar dan berkata, “Wahai Umar ulurkan tanganmu, aku akan berba’iat kepadamu.”

Umar menjawab, “Andai leherku kau ulurkan di bawah mata pedang dan kemudian memenggalnya dalam hal yang bukan maksiat adalah lebih aku sukai daripada aku memimpin manusia sedang antara mereka ada Abu Bakar.”

Oleh karena itu, tidak aneh jika masyarakat ini berkembang dengan kokohnya. Para pemuka orang-orang saleh, orang-orang zuhud terbaik, para imam fiqih dari golongan Tabi’in, dan pengikut mereka dengan baik bergabung dalam rombongan ini sampai hari kiamat. Bahkan, kita mendapati para fuqaha’ yang saling sepadan, sampai mencurahkan kecintaan kepada yang lain. Dengan bentuk kecintaan yang hampir-hampir tak terlintas dalam benak.

Imam Asy-Syafi’i mengatakan tentang Imam Ahmad (Imam Ahmad adalah murid Imam Syafi’i).
Orang bilang, Ahmad mengunjungimu
Dan Engkau mengunjunginya
Kujawab, kemuliaan tak tinggalkan tempatnya
 Kalau ia mengunjungiku, itu karena kemuliaannya
Kalau aku mengunjunginya, itu untuk kemuliaannya
 Keutamaan dalam dua keadaan itu miliknya

Beliau senang mengunjungi Imam Ahmad untuk memperkuat rasa cintanya pada Sang Imam, dengan harapan ia mendapatkan doa yang baik darinya. Berapa banyak sudah terjadi, doa yang baik dari seorang untuk saudaranya di saat ghaibnya, dapat menolak banyak hal yang tidak disukainya; melapangkan kesulitan dan kesusahan yang menghimpit dadanya. Memperbanyak saudara adalah hiasan; hiasan di dunia dan simpanan di akhirat.

Ketika beliau meninggalkan kota Baghdad, beliau berkomentar, “Saya tinggalkan Baghdad, dan saya tak meninggalkan di sana seorang pun yang lebih zuhud, lebih wara’, lebih takwa, dan lebih faqih daripada Ahmad bin Hanbal.”

Sedangkan Imam Ahmad sendiri, meski banyak disanjung, mengatakan,
“Tidaklah saya memanjatkan doa kepada Allah sejak tiga puluhan tahun yang lalu, melainkan pasti saya turut pula memanjatkan doa untuk AsySyafi’i.” Anaknya bertanya, “Wahai ayah, siapakah Asy-Syafi’i itu, sehingga engkau mendoakan untuknya?”

Imam Ahmad menjawab, “ Asy-Syafi’i bagaikan mentari bagi dunia dan seperti kesehatan bagi badan. Maka apakah ada yang tidak memerlukan dua hal ini?” Demikian hubungan mereka dengan yang lainnya.

Wallahu a’lam bi shawab
Penulis : Dhani El_AShim

Diinisiasi dari Tarbiyah Jihadiyah jilid ke-7 karya syaikh Abdullah Azzam rahimahullah




Sumber : disini






Related

Artikel Kajian Islam 2049486947073154852

Post a Comment

Teknik dan Strategi Menguasai Search Engine Google untuk Memenangkan Kompetisi Website Bisnis

http://picasion.com/

Software GO SMART AND FUN

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Belajar Import dari Cina

INDONESIAN 3D ARCHITECT COMMUNITY

Translate

item