Beginilah Ketika Ulama Harus Menegur Penguasa

Ulama Salaf dalam Menasihati Pemimpin

Ulama salaf biasa menyampaikan kebenaran dan nasihat kepada imam-imam zalim secara langsung di hadapan mereka, meski mereka yakin akan disiksa karenanya. Mereka tidak takut celaan siapa pun juga selagi karena Allah, karena mereka tahu bahwa siapa yang terbunuh karena hal itu, ia mati syahid.

Mati syahid merupakan cita-cita paling mahal bagi seorang mukmin yang memercayai janji Allah. Tidak heran jika mereka berani bertaruh nyawa dan menanggung berbagai macam siksa. Mereka menghadapi semuanya dengan sabar karena Allah, seraya mengharap pahala di sisi Allah atas nyawa yang mereka korbankan.

Abu Sulaiman Al-Khathabi meriwayatkan dengan sanadnya hingga Abdullah bin Bakar As-Sahmi, ia berkata, “Aku mendengar sebagian sahabat-sahabat kami berkata, Umar bin Hubairah—saat menjabat sebagai gubernur Irak—mengirim surat untuk memanggil sejumlah fuqaha Bashrah dan Kufah. Di antara fuqaha Bashrah yang hadir; Hasan Al Bashri, sementara dari fuqaha Kufah yang hadir adalah Asy-Sya’bi.

Para fuqaha masuk lalu Umar bin Hubairah berkata, ‘Amirul Mukminin Yazid mengirim surat kepadaku memerintahkan sejumlah hal yang harus aku lakukan, lantas bagaimana menurut kalian berdua?’
Asy-Sya’bi berkata, ‘Semoga Allah memperbaiki kondisimu, wahai Amir. Engkau mendapat perintah dan kau harus memenuhi orang yang memerintahmu.’ Umar bin Hubairah menghadap ke arah Hasan Al Bashri lalu berkata, ‘Bagaimana menurutmu?’ Hasan berkata, ‘Dia—Asy-Sya’bi—sudah memberikan jawaban.’ Umar berkata, ‘Menurutmu bagaimana?’

Hasan Al Bashri berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah, wahai Umar. Seakan malaikat datang menghampirimu lalu menggulingkanmu dari tahtamu itu, mengeluarkanmu dari luasnya istana menuju sempitnya kuburan. Allah menyelematkanmu dari Yazid, dan Yazid tidak bisa menyelamatkanmu dari siksa Allah. Jangan sampai kau memperlihatkan kemaksiatan kepada Allah, karena makhluk tidak berhak ditaati dalam mendurhakai Sang Khaliq.’

Setelah itu Hasan Al Bashri pergi dan diikuti ajudan Umar. Ajudan itu berkata, ‘Wahai syaikh! Kenapa kau menyampaikan hal itu kepada amir?’ Hasan menjawab, ‘Karena Allah mengambil perjanjian dari ulama terkait ilmu yang mereka miliki.’ Setelah itu Hasan membaca:

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu), ‘Hendaklah kamu benar-benar menerangkannya (isi Kitab itu) kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya,’ lalu mereka melemparkan (janji itu) ke belakang punggung mereka.”(Âli-‘Imrân: 187)

Kisah di atas hanya salah satu teladan para ulama yang mengungkapkan ketegasan mereka dalam menyampaikan nasihat kepada para pemimpin. Mereka tidak terlalu mempedulikan kekuasaan para sultan. Mereka berserah diri sepenuhnya kepada Allah, menjalankan kewajiban yang dibebankan Allah kepada mereka, dan meniti jalan menuju mati syahid.

Menasihati pemimpin, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, tidak tepat kalau hanya dipandang mana yang salah dan mana yang benar. Karena ia hanyalah sebagai uslub (metode) dalam meluruskan kebijakan pemimpin. Ketika menasihati pemimpin dengan cara keteladanan, doa dan lisan tersembunyi tidak lagi efektif maka menasihati secara terang-terangan menjadi sebuah kebutuhan. Terlebih ketika kezaliman pemimpin semakin merajalela di tengah-tengah umat. Wallahu a’lam bis shawab!


Sumber : disini






Related

Artikel Kajian Islam 4554585923660747124

Post a Comment

Teknik dan Strategi Menguasai Search Engine Google untuk Memenangkan Kompetisi Website Bisnis

http://picasion.com/

Software GO SMART AND FUN

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Belajar Import dari Cina

INDONESIAN 3D ARCHITECT COMMUNITY

Translate

item