Demonstrasi Damai Sebagai Jihad Kalimat

Situasi politik nasional selama sebulan terakhir diwarnai oleh semarak demonstrasi damai umat Islam. Mereka menuntut diadilinya gubernur non-muslim yang melecehkan Al-Qur’an. 

Demonstrasi damai tersebut melibatkan mayoritas elemen umat Islam. Mayoritas umat Islam sudah sadar untuk membela keagungan Al-Qur’an yang dilecehkan. Hanya segelintir elemen dan oknum ber-KTP muslim saja yang pasang badan, guna membela tokoh peleceh Al-Qur’an tersebut.

Demonstrasi Damai: Bukan Manhaj Kami?

Di kalangan umat Islam sendiri, ada beberapa elemen yang tidak melibatkan diri dalam arus demonstrasi tersebut. Sebagian elemen tersebut beralasan, demonstrasi damai adalah perbuatan bid’ah, tasyabbuh dengan orang-orang kafir, dan bughat alias pemberontakan terhadap penguasa Islam yang adil. Kita telah mendiskusikan argumentasi mereka tersebut dalam artikel terdahulu.

Selain mereka, ada juga sebagian aktivis jihad yang kurang sependapat dengan aksi demonstrasi damai. Menurut mereka, satu-satunya jalan untuk memperbaiki kekufuran dan kebobrokan pemerintah adalah dengan jihad fi sabilillah. Pelecehan Al-Qur’an oleh gubernur non-muslim hanyalah salah satu wujud dari kekufuran dan kebobrokan pemerintah. Mereka berargumentasi dengan hadits dari Ubadah bin Shamit RA tentang isi bai’at para sahabat Anshar kepada Rasulullah SAW,

“…dan agar kami tidak merebut kekuasaan dari para pemimpin.” Rasulullah SAW bersabda, “Kecuali jika kalian melihat sebuah kekafiran yang terang-terangan (pada diri pemimpin), yang kalian memiliki bukti nyata (dalil syar’i) atasnya dari sisi Allah.” (HR. Bukhari 7056 dan Muslim no. 1709)

Dari hadits ini, mereka menyimpulkan bahwa jihad fi sabilillah adalah satu-satunya jalan dalam melakukan perubahan. Tidak ada jalan lain atau sarana lain yang islami. Menurut mereka, jika tidak ada kemampuan untuk berjihad, maka kewajiban umat Islam adalah melakukan i’dad fi sabilillah. Menurut mereka, pada kondisi tersebut umat Islam tidak boleh menempuh jalan lain atau sarana lain, kecuali jika ada dalil syar’i atasnya.

Dari keyakinan inilah, mereka menganggap demonstrasi damai yang dilakukan umat Islam adalah jalan yang keliru. Kadang-kadang, mereka mengungkapkan istilah “demonstrasi damai bukan jalan perjuangan kami”, atau “demonstrasi damai bukan manhaj kami”.

Jihad Sebagai Sarana, Bukan Tujuan

Secara umum, pendapat sebagian aktivis jihad di atas adalah pendapat yang benar. Namun, pendapat tersebut tidak seratus persen benar. Jihad fi sabilillah dan melawan kebatilan dengan kekuatan adalah sarana yang diperintahkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan jihad-lah Allah menyebarluaskan kebenaran dan menolak kebatilan di muka bumi.

Namun, perintah menempuh jalan jihad fi sabilillah tidak berarti larangan menempuh sarana-sarana atau jalan-jalan lain yang lebih ringan, jika memang menyampaikan kepada tujuan Islam, dalam beberapa keadaan tertentu.

Secara umum, umat Islam diperintahkan untuk menempuh jalan jihad fi sabilillah dan tidak boleh berpaling kepada jalan-jalan lain. Misalnya, perjuangan lewat jalur pemilu dan parlementer sesuai sistem demokrasi.

Namun dalam beberapa keadaan tertentu dan kasus tertentu yang sifatnya parsial, bukan sebagai sebuah jalan umum (manhaj) perjuangan, umat Islam juga diperintahkan untuk menempuh jalan atau sarana yang lebih ringan dan lebih kecil resikonya. Tujuannya adalah merealisasikan kemaslahatan yang lebih besar dan menolak kemadharatan yang lebih besar.

Jihad fi sabilillah yang artinya berperang demi menegakkan syariat Allah di muka bumi adalah SARANA (wasilah, maqshud li-ghairih), bukan TUJUAN (maqshud li-dzatihi). Hal itu telah ditegaskan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah Ta’ala menegaskan hal itu dengan firman-Nya:

“Dan perangilah mereka itu,sehingga tidak ada fitnah (kesyirikan dan kekafiran) lagi dan sehingga ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kalian), maka tidak ada permusuhan lagi, kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 193)
“Dan perangilah mereka supaya tidak ada lagi fitnah lagi dan supaya seluruh agama (ketundukan umat manusia) itu semata-mata untuk Allah.” (QS. Al-Anfal [8]: 39)

Rasulullah SAW juga telah menegaskan hal itu dengan sabdanya:

“Dari Ibnu Umar RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mereka mendirikan shalat dan mereka menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan ketiga hal tersebut, maka mereka telah melindungi nyawa dan harta mereka dariku kecuali jika mereka melanggar hak Islam, dan perhitungan amal mereka terserah Allah.” (HR. Bukhari no. 25 dan Muslim no. 22)

Dari Ibnu Umar RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang sehingga Allah semata yang disembah dan tidak ada sekutu bagi-Nya, rizkiku dikaruniakan di bawah bayangan tombakku, kehinaan dan kerendahan ditakdirkan atas orang yang menyelisihi dienku, dan barangsiapa menyerupai sebuah kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad no. 5114, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dan Musnad Asy-Syamiyyin, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, dan lain-lain. Al-Haitsami dalam Majmauz Zawaid berkata, “Dalam sanadnya ada perawi bernama Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban. Ia dinyatakan tsiqah oleh Imam Ali bin Al-Madini, Abu Hatim Ar-Razi, dan lain-lain. Adapun Imam Ahmad dan lainnya melemahkannya. Sedangkan seluruh perawi lainnya tsiqah.” Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Irwaul Ghalil fi Takhrij Ahadits Manaris Sabil, Shahih Jami’ Shaghir dan Takhrij Ahadits Musykilatil Faqr)   

Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih di atas menegaskan bahwa tujuan utama jihad fi sabilillah adalah merealisasikan tauhid dan ketundukan seluruh umat manusia kepada dien Allah. Inilah tujuan utama disyariatkannya jihad fi sabilillah.

Jihad Tidak Menghalangi Penggunaan Sarana Damai

Jika tujuan syariat ini bisa dicapai dengan sarana-sarana damai, maka tidak mengapa menempuh sarana-sarana damai tersebut selama sarana-sarana damai tersebut tidak dilarang oleh syariat Islam.
Bahkan dalil-dalil syar’i ‘hanya’ memperbolehkan untuk membunuh orang kafir asli dan orang murtad setelah ditempuh sarana-sarana damai. Terhadap orang-orang kafir asli yang belum sampai dakwah Islam kepada mereka, sarana-sarana damai tersebut adalah mendakwahi mereka untuk masuk Islam atau membayar jizyah. Adapun terhadap orang kafir murtad, sarana damai tersebut adalah proses klarifikasi penyebab kemurtadan dan pemberian kesempatan bertaubat selama tiga hari, sebelum dijatuhkannya hukuman mati bagi orang yang murtad.

Maka perang di jalan Allah adalah sarana, bukan tujuan. Dalam hal tujuan umat Islam tidak boleh berpaling darinya dan beralih kepada selainnya. Adapun dalam hal sarana, sudah selayaknya umat Islam menempuh sarana yang paling ampuh dan sukses mengantarkan kepada tercapainya tujuan. Jika terdapat beberapa sarana yang sama-sama ampuh dan sukses mengantarkan kepada tercapainya tujuan, maka sudah selayaknya didahulukan sarana yang biaya, tenaga, dan resikonya paling kecil.

Oleh karena itu meskipun Allah mewajibkan jihad atas mujahidin secara khusus dan kaum muslimin secara umum, Allah juga memerintahkan kepada mereka untuk menahan diri dan tidak berperang dalam sebagian kondisi. Seperti firman Allah Ta’ala:

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan berserah diri-lah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal [8]: 61)

Di antara contoh lainnya adalah perjanjian Hudaibiyah. Allah menyebutnya sebagai sebuah kemenangan yang nyata, dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan dosamu yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus. Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (QS. Al-Fath [48]: 1-3)

Kemenangan yang nyata dalam ayat di atas adalah perjanjian damai (gencatan senjata) Hudaibiyah, sebagaimana ditegaskan oleh para sahabat Muhajirin dan Anshar yang turut serta dalam peristiwa Bai’atur Ridhwan dan Shulhul Hudaibiyah.

Imam Ibnu Katsir berkata, “Allah menjadikan perjanjian damai tersebut sebagai sebuah kemenangan, berdasarkan kemaslahatan yang terkandung di dalamnya dan kesudahan baiknya. Sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Mas’ud RA dan lainnya, yang berkata ‘Sesungguhnya kalian menganggap kemenangan itu adalah Fathu Makkah (pembebasan Makkah). Namun kami menganggap kemenangan itu adalah Shulhul Hudaibiyah’.”

Jabir bin Abdullah Al-Anshari RA berkata, “Kami tidak menganggap kemenangan (dalam ayat ini) kecuali hari perjanjian Hudaibiyah.”

Imam Bukhari dan Ahmad bin Hambal meriwayatkan dari Barra’ bin Azib RA, ia berkata, “Kalian (generasi tabi’in) menganggap kemenangan (dalam ayat ini) adalah fathu Makkah. Fathu Makkah memangg sebuah kemenangan. Namun kami (generasi sahabat) menganggap kemenangan (dalam ayat ini) adalah Bai’at Ridwan pada hari Hudaibiyah.”
Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik RA, tentang ayat tersebut, ia berkata, “Yaitu perjanjian Hudaibiyah.”

Ibnu Katsir menyebutkan hadits-hadits shahih riwayat Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya tentang riwayat turunnya surat Al-Fath. Lalu beliau menyimpulkan, “Maksudnya adalah perjanjian damai Hudaibiyah, karena dengannya tercapai kebaikan yang sangat besar, manusia masuk Islam, sebagian manusia berkumpul dengan sebagian lainnya sehingga orang beriman bisa berkomunikasi dengan orang kafir. Akibatnya, tersebar luaslah ilmu yang bermanfaat dan keimanan.” (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, juz XIII hlm. 84-88)

‘Allamah Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi menyebutkan lima pendapat tentang makna kemenangan yang nyata dalam ayat di atas. Pertama, pembebasan Makkah. Kedua, kemenangan atas Romawi dan bangsa lain. Ketiga, perjanjian damai Hudaibiyah. Keempat, kemenangan Islam dengan argumentasi dan senjata. Kelima, keputusan dari Allah yang menetapkan pihak mana yang berada di atas kebenaran.
Lalu beliau menyimpulkan, “Tidak samar lagi bahwa semua pendapat yang disebutkan di atas termasuk dalam cakupan makna kemenangan dari Allah. Kebenaran dari semua pendapat tersebut juga telah terbukti. Hanya saja, asbab nuzul ayat yang diriwayatkan para ulama yang tsiqah telah menjelaskan makna ayat di atas dengan sebuah penjelasan yang tidak menyisakan perbedaan pendapat lagi, bahwasanya maknanya adalah pendapat ketiga yang disebutkan di atas (yaitu perjanjian Hudaibiyah).” (Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi, Mahasinut At-Ta’wil, juz XV hlm. 5395)
‘Allamah Muhammad Thahir bin Asyur At-Tunisi menulis, “Mayoritas ulama tafsir berpendapat yang dimaksud dengan kemenangan dalam surat Al-Fath adalah perjanjian Hudaibiyah.” (Muhammad Thahir bin Asyur, At-Tahrir wa At-Tanwir, juz XXVI hlm. 145)

Disyariatkannya gencatan senjata dan perdamaian damai dengan orang-orang kafir selama jangka waktu tertentu merupakan dalil disyariatkannya tidak berperang dalam sebagian kondisi. Maka penggunaan sarana-sarana damai tidak lain merupakan salah satu bentuk dari sekian banyak bentuk tidak berperang.

Jalan Damai Terkadang Membawa Maslahat Lebih Besar

Terkadang dalam sebagian kondisi, tidak berperang justru membawa kemaslahatan yang lebih besar bagi kaum muslimin. Seperti ditegaskan oleh firman Allah Ta’ala tentang perang Ahzab,

“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Ahzab [33]: 25)

Juga seperti ditegaskan dalam hadits dari Abdullah bin Abi Aufa RA, dalam sebagian peperangan, Rasulullah SAW menunggu sampai waktu matahari tergelincir ke arah barat. Kemudian beliau berdiri dan menyampaikan khutbah, “Wahai orang-orang, janganlah kalian mengharapkan pertemuan dengan musuh, dan mohonlah keselamatan kepada Allah! Namun jika kalian telah bertemu dengan musuh, maka hadapilah dengan kesabaran dan ketahuilah bahwa sesungguhnya surga berada di bawah naungan pedang.” (HR. Bukhari no. 2966 dan Muslim no. 1742)

Sekiranya dalam segala kondisi kaum muslimin secara umum dan mujahidin secara khusus wajib berperang, tentulah kaum muslimin dan mujahidin tidak boleh mundur dari medan peperangan meskipun untuk bergabung dengan induk pasukan di negeri Islam. Allah SWT berfirman,

“Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk siasat perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan Islam yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. Al-Anfal [8]: 16)

Dalam ayat di atas, Allah memperbolehkan pasukan Islam mundur dari medan perang dan menghindar dari musuh, untuk tujuan taktik pertempuran atau demi bergabung dengan induk pasukan Islam. Padahal mundur dan menghindar dari pasukan musuh itu bertolak belakang dengan kewajiban menghadapi mereka.

Jika hal itu diperbolehkan, tentu Allah lebih memperbolehkan penggunaan sarana-sarana damai selain jihad dalam kondisi tertentu demi merealisasikan tujuan-tujuan Islam. Dengan syarat, penggunaan sarana tersebut tidak mengakibatkan ditinggalkannya jihad sebagai jalan utama (manhaj) perjuangan.
Orang-orang kafir asli dan orang-orang musyrik asli yang menjajah negeri-negeri kaum muslimin wajib diperangi. Orang-orang murtad yang memerintah negeri-negeri kaum muslimin dengan sistem jahiliyah juga wajib diperangi.

Namun disyariatkannya memerangi orang-orang kafir, musyrik, dan murtad tersebut bukan berarti tidak disyariatkannya menolak kekufuran dan kerusakan mereka dengan sarana-sarana damai lainnya yang lebih ringan biaya, tenaga, dan resikonya.

Disyariatkannya sarana yang lebih berat (yaitu berperang di jalan Allah), memiliki pengertian lebih disyariatkan lagi penggunaan sarana lainnya yang lebih ringan. Tentunya selama sarana lain tersebut tidak menyelisihi syariat Islam.

Demonstrasi Damai Sebagai Jihad Kalimat

Syariat Islam sendiri memerintahkan kaum muslimin untuk merubah kemungkaran penguasa dengan segala sarana yang dimampui oleh kaum muslimin, selama sarana tersebut tidak menyelisihi ketentuan syariat.

Demonstrasi damai adalah salah satu sarana tersebut. Ia adalah sarana yang legal dan diperintahkan oleh Nabi SAW. Ia adalah jihad dengan kalimat, sebagaimana ditegaskan oleh hadits dari Anas bin Malik RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

“Berjihadlah kalian melawan orang-orang musyrik dengan harta kalian, nyawa kalian, dan lisan kalian!” (HR. Abu Daud no. 2504, An-Nasai no. 3096, Ahmad no. 12246, Ad-Darimi no. 2431, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan lain-lain. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Nashiruddin Al-Albani menshahihkannya)

Obyek jihad dalam hadits di atas bersifat umum, baik mereka adalah penguasa maupun rakyat jelata. Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam untuk secara khusus melawan kemungkaran pemimpin, walaupun hanya dengan kalimat semata.

Dari Ummu Salamah RA dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya kelak akan diangkat atas kalian para pemimpin yang kalian melihat perbuatan baik dan perbuatan mungkar mereka. Maka barangsiapa membenci kemungkaran yang mereka lakukan, niscaya ia telah berlepas diri dari dosa mereka. Dan barangsiapa yang mengingkari kemungkaran mereka, niscaya ia telah selamat.” (HR. Muslim no. 1854)

Lebih jauh dalam hadits dari Abdullah bin Mas’ud RA, Nabi SAW bersabda:
“Kemudian sepeninggal mereka akan muncul generasi penerus, yang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan dan mereka mengerjakan hal yang tidak diperintahkan (oleh Allah dan Rasul-Nya) kepada mereka. Maka barangsiapa berjihad melawan mereka dengan tangannya, niscaya ia adalah seorang mukmin. Barangsiapa berjihad melawan mereka dengan lisannya, niscaya ia adalah seorang mukmin. Dan barangsiapa berjihad melawan mereka dengan hatinya, niscaya ia adalah seorang mukmin. Di belakang itu, tiada lagi keimanan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim no. 50)

Dalam sebagian kondisi, terutama di zaman kelemahan umat Islam dan ketidakmampuan mereka melaksanakan kewajiban jihad dengan jiwa, jihad dengan lisan menempati kedudukan yang sangat tinggi.  Sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih berikut ini.

Dari Thariq bin Syihab RA, ia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan bertanya ‘Jihad apakah yang paling utama?’ Beliau bersabda, “Mengatakan kebenaran di sisi penguasa yang zalim.” (HR. Ahmad no. 18828 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 7582. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata: Sanadnya shahih)

Pemaparan di atas menjelaskan kepada kita bahwa mengambil jihad sebagai jalan iqomatuddintidak bisa diartikan secara kaku dengan berkata, “kalau bukan jihad berarti bukan jalan kami.” Jihad harus dipahami sebagai sarana ilahi yang Allah berikan kepada umat ini sebagai sarana melakukan perubahan. Namun, pada kondisi tertentu ada kalanya sarana lain digunakan seagai alat melakukan perubahan tanpa mengesampingkan jihad.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis : Fauzan

Referensi:
Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi, Mahasinu At-Ta’wil, Beirut: Darul Fikr, cet. 1, 1376 H.
Muhammad Thahir bin Asyur At-Tunisi, Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir, Tunis: Dar At-Tunisiyah, cet. 1, 1984 M.
Ismail bin Katsir Ad-Dimasyqi, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, Jizah: Muassasah Qurthubah, cet. 1, 1421 H.
Dr. Ahmad Ar-Raisuni, Fiqhu Ats-Tsaurah: Muraja’at fi Al-Fiqh As-Siyasi Al-Islami, Kairo: Darul Kalimah, cet. 1, 1434 H.
Dr. Musthafa bin Karamatullah Makhdum, Qawa’id Al-Wasail fi Asy-Syari’ah Al-Islamiyah, Riyadh: Dar Isybiliya, cet. 1, 1419 H.



Sumber : disini






Related

Artikel Kajian Islam 8456931980944349398

Post a Comment

Channel Dakwah di Facebook

Channel Dakwah di Facebook
Jendela Menuju Ilmu Syar'i

Channel Dakwah Telegram

Channel Dakwah Telegram
Jendela Menuju Ilmu Syar'i

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Folow Me on Google Plus

FOLLOW ME ON FANSPAGE

Translate

item