Demonstrasi Dalam Timbangan Fiqih Islam

Selama beberapa pekan terakhir, umat Islam Indonesia dibuat marah oleh pernyataan seorang gubernur kafir yang menistakan Al-Qur’an. Gubernur itu menyebut keharaman memilih pemimpin kafir (non-muslim) merupakan bentuk pembodohan. Ia menunjuk surat Al-Maidah ayat 51.

Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam, ulama-ulama Islam, dan tokoh-tokoh Islam menuntut pemerintah untuk menangkap dan mengadili gubernur atas tuduhan menistakan Al-Qur’an. Namun pemerintah terkesan melindungi gubernur non-muslim tersebut. Suara jutaan umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk negeri ini tidak digubris pemerintah. Tak ayal, para ulama, ormas, dan tokoh Islam pun mengajak umat Islam untuk melakukan demonstrasi demi membela kemuliaan Al-Qur’an.

Fatwa Ganjil Segelintir Juru Dakwah

Dalam suasana tersebut, hal yang cukup mengherankan adalah adanya segelintir juru dakwah yang justru getol memfatwakan keharaman demonstrasi. Sebagian di antara mereka bahkan menyamakan massa demonstran dengan kelompok sesat Khawarij dan Bughat (pemberontak terhadap khalifah Islam yang adil).

Fatwa mereka seolah tidak relevan dengan kondisi umat Islam di Indonesia. Bagaimana tidak? Indonesia sendiri adalah sebuah negara republik yang menganut sistem demokrasi sekuler. Sebagaimana umumnya negara-negara demokrasi lainnya di dunia, aksi demonstrasi untuk menyuarakan hak adalah tindakan legal yang diakui dan dilindungi oleh hukum sekuler yang berlaku di Indonesia. Menurut UU yang berlaku di Indonesia, aksi demonstrasi itu sah-sah saja dan tidak masalah.

Sebelum menjatuhkan vonis haram, Khawarij, dan bughat kepada massa demonstran; tentunya para juru dakwah tersebut harus lebih dahulu bersikap jujur dan obyektif. Mereka harus lebih dahulu membahas dan mengeluarkan fatwa atas beberapa persoalan yang melatar belakangi demonstrasi umat Islam tersebut.

Beberapa persoalan tersebut adalah:
  1. Menurut syariat Islam, bolehkah orang-orang sekuler ber-KTP Islam dan orang-orang kafir asli menjadi pemimpin atas umat Islam?
  2. Menurut syariat Islam, bagaimana hukum pemimpin yang mencampakkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan menggantinya dengan hukum sekuler dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?
  3. Menurut syariat Islam, bolehkah orang-orang sekuler ber-KTP Islam dan orang-orang kafir asli menistakan dan melecehkan Al-Qur’an?
Kejujuran dalam mengkaji dan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas berdasarkan syariat Islam, akan menuntun seorang juru dakwah untuk menyikapi realita umat Islam secara benar pula.  

Demonstrasi Dalam Kaidah Fikih

Seandainya pemerintah bersikap pro-aktif dan melindungi hak-hak umat Islam, tentulah umat Islam tidak akan repot-repot melakukan demonstrasi. Menistakan Al-Qur’an dalam pandangan syariat Islam jelas-jelas merupakan sebuah kekafiran dan kejahatan luar biasa. Jika pelakunya muslim, maka ia menjadi murtad akibat perbuatan tersebut. Jika pelakunya orang kafir asli, maka ia menjadi gembong kekafiran akibat perbuatan tersebut.

Syariat Islam memvonis pelaku perbuatan tersebut dengan hukuman mati, sebagaimana panjang lebar dibahas oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Al-Hambali (wafat tahun 728 H) dalam kitabnya,Ash-Sharim Al-Maslul ‘ala Syatim Ar-Rasul dan Taqiyuddin Ali bin Abdul Kafi As-Subki Asy-Syafi’i (wafat 756 H) dalam kitabnya, As-Saif Al-Maslul ‘ala Man Sabba Ar-Rasul.

Aksi demonstrasi umat Islam untuk membela Al-Qur’an dari penistaan pemimpin non-muslim adalah perkara yang sah dan dibenarkan. Dari tinjauan fikih Islam, demonstrasi adalah perkara duniawi yang hukum asalnya boleh. Ia bisa berubah menjadi sunnah atau wajib, jika kondisi menuntut hal itu. Kaedah fikih menegaskan ( اَلْأَصْلُ فِي اْلأَشْيَاءِ اْلإِبَاحَةُ ) Hukum asal segala sesuatu (selain ibadah) adalah kebolehan.

Mayoritas ulama menegaskan kaedah fiqih yang menyebutkan “Hukum asal ibadah adalah dilarang sampai ada dalil syar’i yang memerintahkannya, dan hukum asal segala sesuatu (selain ibadah) adalah boleh sampai ada dalil syar’i yang melarangnya”. (As-Suyuthi Asy-Syafi’i, Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 60; Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah, hlm. 31; Muhammad Shidqi Al-Burnu, Al-Wajiz fi Idhah Qawa’id Al-Fiqh Al-Kulliyah, hlm. 191)

Hukum asal segala sesuatu selain ibadah adalah halal dan boleh, sampai ada dalil syar’i yang melarang dan mengharamkannya. Segala sesuatu selain ibadah itu bersifat umum, mencakup makanan, minuman, pakaian, mu’amalah, adat istiadat, perbuatan, kemanfaatan, dan lain-lain. Tidak dikecualikan dari kaedah ini kecuali perkara-perkara ibadah mahdhah.

Hukum asal makhluk adalah halal, maka semua jenis tumbuhan atau hewan, di darat maupun di laut pada asalnya halal, diperbolehkan untuk mengonsumsinya selama tidak ada dalil syar’i yang mengharamkannya.

Hukum asal hal-hal yang bermanfaat adalah halal, maka manusia boleh memanfaatkan apapun yang Allah ciptakan di bumi selama tidak ada dalil syar’i yang mengharamkan pemanfaatan tersebut.
Hukum asal pekerjaan adalah halal selama bukan ibadah, maka semua jenis perbuatan, aktivitas, dan gerakan pada asalnya halal, selama tidak ada dalil syar’i yang mengharamkannya.

Demonstrasi adalah aktifitas dan perbuatan manusia yang hukum asalnya adalah boleh. Tidak ada dalil syar’i dari Al-Qur’an dan as-sunnah yang melarang demonstrasi, sehingga hukum asalnya adalah boleh sampai ada dalil syar’i yang melarangnya. Ia tetap berada dalam hukum asal boleh dan disyariatkan. Barangsiapa mengklaim demonstrasi adalah haram, ia harus mendatangkan dalil syar’i yang shahih.

Kaedah fiqih ini didasarkan kepada dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-sunnah.


Dalil-dalil dari Al-Qur’an

Dalil-dalil dari Al-Qur’an yang melandasi kaedah fikih di atas antara lain adalah sebagai berikut.
  1. Firman Allah:
وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ

Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kalian apa yang diharamkan-Nya atas kalian(QS. Al-An’am [6]: 119)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Penjelasan secara rinci (at-tafshil) adalah keterangan secara jelas. Allah menyatakan bahwa Dia telah menjelaskan secara rinci hal-hal yang haram. Maka apa yang tidak dijelaskan oleh Allah keharamannya bukanlah hal yang haram, dan apa yang tidak haram berarti halal, karena hanya ada halal atau haram saja.” (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, juz XXI hlm. 536)
  1. Firman Allah:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

Dia-lah yang telah menciptakan untuk kalian apa yang ada di bumi semuanya. (QS. Al-Baqarah [2]: 29)

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً مِنْهُ

Dan Dia menundukkan untuk kalian apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. (QS. Al-Jatsiyah [45]: 13)

Allah menyatakan hal itu secara umum, kemudian Allah menegaskan keumuman tersebut. LafalMaa (apa) dalam ayat di atas adalah isim maushul yang memiliki makna umum, lalu ia dikuatkan dengan firman Allah jami’an (semuanya).

Imam Al-Qurthubi berkata, “Para ulama yang berpendapat bahwa hukum asal dalam hal-hal yang diambil manfaatnya adalah halal, berdalil dengan ayat (Al-Baqarah [2]: 29) ini dan ayat-ayat yang semisalnya, seperti firman-Nya Al-Jatsiyah [45]: 13, sampai ada dalil yang melarang. Mereka menguatkan pendapatnya dengan mengatakan makanan-makanan yang disenangi diciptakan padahal Allah mampu untuk tidak menciptakannya, sehingga makanan-makanan tersebut tidak diciptakan secara sia-sia, ia pasti memiliki manfaat. Manfaat tersebut tentu tidak kembali kepada Allah karena Allah Maha Kaya tidak membutuhkan apapun. Maka manfaat tersebut kembali kepada kita.” (Al-Qurthubi, Al-Jami’ li-Ahkam Al-Qur’an, juz I hlm. 377)

Syaikh Muhammad Shidqi Al-Burnu menjelaskan bahwa ayat di atas menunjukkan bahwa hokum asal segala sesuatu adalah boleh, dengan dua alasan. Pertama, ayat di atas berada dalam konteks penyebutan nikmat Allah kepada manusia. Tingkatan pemberian nikmat yang paling tinggi adalah kebolehan memanfaatkan nikmat tersebut. Kedua, Allah SWT menisbahkan semua ciptaan-Nya tersebut kepada manusia dengan huruf lam (lakum = bagi kalian). Huruf laam tersebut memberikan faedah kepemilikan. Tingkatan paling rendah dari memiliki suatu barang adalah kebolehan menikmati barang tersebut. (Al-Burnu, Al-Wajiz fi Idhah Qawa’id Al-Fiqh Al-Kulliyah, hlm. 191)
  1. Firman Allah:
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” (QS. Al-A’raf [7]: 32)
Imam Asy-Syaukani berkata, “Allah mengingkari orang yang mengharamkan perkara-perkara itu. Maka telah pasti ketidak haramannya, dan jika ketidak haramannya telah pasti maka tidak bisa keharamannya berlaku atas salah satu bagiannya, karena hal yang mutlaq (tidak dibatasi) itu bagian dari hal yang muqayyad (dibatasi). Seandainya keharamannya tetap atas salah satu bagiannya, niscaya tetap pula keharaman atas perhiasan yang dikeluarkan Allah dan rizki yang baik-baik. Jika keharamannya sama sekali tidak ada, maka telah pastilah kehalalannya.” (Asy-Syaukani, Irsyadul Haq Ila Tahqiqil Haq min Ilmil Ushul, juz II hlm. 1158)
  1. Firman Allah:
قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.  (QS. Al-An’am [6]: 145)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah menjadikan hukum asal segala sesuatu (selain ibadah) adalah mubah dan Allah menjadikan hukum haram sebagai pengecualian. (Asy-Syaukani, Irsyadul Fuhul, juz II hlm. 1159)

Dalil-dalil dari As-Sunnah 

Adapun dalil-dalil dari As-Sunnah yang menegaskan kaedah fikih di atas antara lain adalah:


[1]. Hadits Sa’ad bin Abi Waqash RA:

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ فِي الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا، مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ عَلَى الْمُسْلِمِينَ، فَحُرِّمَ عَلَيْهِمْ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ»

Dari Sa’ad bin Abi Waqash RA bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya orang muslim yang paling besar dosanya terhadap kaum muslimin adalah seorang muslim yang menanyakan sesuatu hal yang tidak diharamkan atas kaum muslimin, lalu sesuatu hal tersebut diharamkan atas kaum muslimin oleh sebab pertanyaan darinya.” (HR. Bukhari no. 7289 dan Muslim no. 2358)
Hadits ini menunjukkan bahwa sesuatu itu tidak menjadi haram sampai ada dalil syar’i yang mengharamkannya.


[2]. Hadits Ibnu Abbas RA:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: «كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَأْكُلُونَ أَشْيَاءَ وَيَتْرُكُونَ أَشْيَاءَ تَقَذُّرًا،» فَبَعَثَ اللَّهُ تَعَالَى نَبِيَّهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْزَلَ كِتَابَهُ، وَأَحَلَّ حَلَالَهُ، وَحَرَّمَ حَرَامَهُ، فَمَا أَحَلَّ فَهُوَ حَلَالٌ، وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ، وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ ” وَتَلَا {قُلْ لَا أَجِدُ فِيمَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا} إِلَى آخِرِ الْآيَةِ

Dari Ibnu Abbas RA berkata, “Orang-orang pada zaman jahiliyah memakan beberapa hal dan tidak memakan beberapa hal karena merasa jijik terhadapnya. Maka Allah SWt mengutus Nabi-Nya SAW, menurunkan kitab suci-Nya, menghalalkan apa yang dihalalkan-Nya, dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya. Maka apa yang Allah halalkan adalah halal, apa yang Allah haramkan adalah haram, dan apa yang Allah diamkan adalah boleh.” Ibnu Abbas RA lantas membaca ayat: “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali.” (QS. Al-An’am [6]: 145) (HR. Abu Daud no. 3800, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi. Imam Ibnu Katsir, Syaikh Syu’aib Al-Arauth, dan Nashiruddin Al-Albani menyatakan sanadnya shahih)'


[3]. Hadits Abu Darda’ RA:

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ حَلَالٌ، وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ، وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ، فَاقْبَلُوا مِنَ اللَّهِ عَافِيَتَهُ ; فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُنْ لِيَنْسَى شَيْئًا ” ثُمَّ تَلَا ” (وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا) “

Dari Abu Darda’ RA berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Apa yang Allah halalkan di dalam kitab-Nya adalah halal. Apa yang Allah haramkan di dalam kitab-Nya adalah haram. Adapun apa yang Allah diam atasnya adalah boleh. Maka terimalah dari Allah apa yang diperbolehkannya. Sebab, Allah tidaklah lupa sesuatu pun.“ Beliau SAW lalu membaca ayat, “…dan Rabbmu bukanlah pelupa…” (QS. Maryam [19]: 64) (HR. Ath-Thabarani dan Al-Bazzar. Al-Haitsami berkata: Sanadnya hasan)


[4]. Hadits Salman Al-Farisi RA:

عَنْ سَلْمَانَ قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّمْنِ وَالجُبْنِ وَالفِرَاءِ، فَقَالَ: «الحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ، وَالحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ، وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ»

Dari Salman Al-Farisi RA berkata, “Rasulullah SAW ditanya tentang minyak samin, keju dan …. Maka beliau SAW bersabda, “Halal adalah apa yang Allah halalkan dalam kitab-Nya, haram adalah apa yang Allah haramkan dalam kitab-Nya, dan apa yang Allah biarkan adalah apa yang Allah perbolehkan.” (HR. Tirmidzi no. 1726, Ibnu Majah no. 3367, Ath-Thabarani, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi. Sanadnya lemah dan pendapat yang lebih benar menyatakan hadits ini mauquf (perkataan sahabat), bukan marfu’ (sabda nabi SAW). Namun hadits ini dikuatkan oleh dua hadits shahih yang telah disebutkan sebelumnya)

Wallahu a’lam bish-shawab.
Penulis : Fauzan

Referensi:

Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Asybah wa An-Nazhair fi Qawa’id wa Furu’ Fiqh Asy-Syafi’iyyah, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cet. 1, 1403 H.
Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Al-Qawa’id Al-Fiqhiyah, Alexandria: Darul Bashirah, cet. 1 1422 H.
Muhammad Shidqi Al-Burnu, Al-Wajiz fi Idhah Qawa’id Al-Fiqh Al-Kulliyah, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, cet. 4, 1416 H.
Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jami’ li-Ahkam Al-Qur’an, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, cet. 1, 1427 H.
Muhammad bin Ali Asy-Syaukani, Irsyadul Haq Ila Tahqiqil Haq min Ilmil Ushul, Riyadh: Darul Fadhilah, cet. 1, 1421 H.



Sumber : disini






Related

Artikel Kajian Islam 3502787540208725522

Post a Comment

Teknik dan Strategi Menguasai Search Engine Google untuk Memenangkan Kompetisi Website Bisnis

http://picasion.com/

Software GO SMART AND FUN

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Belajar Import dari Cina

INDONESIAN 3D ARCHITECT COMMUNITY

Translate

item