Belajar Bersatu dari Katak?



Menjelang aksi Bela Islam jilid 3  tanggal 2 Desember 2016 yang biasa disingkat dengan aksi 212, beredar potongan video kajian ustadz Nganu melalui media sosial. Al-ustadz adalah tokoh terkenal di tengah jamaah Kelompok Salafi (KS). Meski tidak jelas kapan kajian dilakukan, namun timing dan isinya terkesan diarahkan untuk aksi 212, setidaknya oleh penyebarnya.

Pengajian al-ustadz Nganu  berisi kritik tajam terhadap upaya persatuan umat Islam yang bersifat parsial. Fenomena persatuan parsial dicontohkan oleh al-ustadz seperti bersatunya umat saat melakukan satu program bersama. Usai program dilaksanakan, kembali cakar-cakaran.

Kritik tersebut wajar dan biasa. Tapi yang luar biasa saat al-ustadz menyebut fenomena itu sebagai "persatuan kebun binatang" dengan tekanan intonasi yang menohok. Meski al-ustadz tidak menyebut aksi 212, tapi publik tak pelak mengaitkkannya. Agaknya banyak yang tersinggung dengan pilihan kata itu.

Kritik tajam tersebut lalu dirangkai dengan tawaran solusi konkrit.  Menurut al-ustadz, persatuan yang benar dan total hanya jika dilandasi ilmu, aqidah dan manhaj yang benar.

Tawaran solusi ini substansinya bagus. Tapi jika tawaran ini dibarengi hujatan bahwa upaya persatuan umat melalui sebuah program sebagai "persatuan kebun binatang" jelas tidak bijak. Cermin arogansi majelis ilmu terhadap gerakan pembelaan Islam di lapangan.

Persatuan tak bisa hanya bertumpu pada aspek konseptual semata; ilmu, aqidah dan manhaj. Sebagaimana persatuan juga tak bisa bertumpu pada program lapangan (amal) saja. Tapi bahwa umat perlu dilatih bersatu membela Islam merupakan hal yang baik, sama sekali tak menyelisihi Islam yang benar.  Meski sesudahnya masih bertengkar, bukan berarti latihan bersatu dalam program bersama menjadi ikut salah.

Unsur persatuan terlalu kompleks untuk disederhanakan menjadi aspek konseptual semata. Dan tiap bagian perlu pembelajaran, sebagaimana majlis taklim menjadi wahana belajar ilmu.

Saat umat Islam belajar bersatu dalam agenda bersama dengan latar belakang yang relatif bersih; tak terkotori kepentingan partai politik, fanatisme mazhab atau golongan, murni bela Islam karena marah atas penghinaan terhadap Al-Quran, jamaah KS cenderung ingin merobohkan bangunan persatuan itu. Jamaah KS terus melakukan upaya sistematis menjauhkan umat darinya.

Mereka maunya umat duduk bersimpuh menimba ilmu di hadapan para dai KS. Apapun yang diajarkan diaminkan. Lalu persatuan tercipta dengan sendirinya, tanpa perlu latihan, upaya, sapaan, dan pelibatan dalam program keumatan di lapangan.

Karena solusi itu tidak sesuai sunnatullah persatuan, maka Allah buka kedok fanatisme mereka. Para dai KS gagal mencontohkan persatuan dengan landasan ilmu semata. Para dai KS saling cela, saling cakar dan saling tahdzir sesama mereka padahal mereka baru duduk mengajarkan ilmu, belum berjihad dengan senjata. Jargon mereka sama; mendakwahkan manhaj salaf, tapi ternyata lidah mereka terlatih untuk tajam saling menyerang.

Ujung-ujungnya, resep persatuan ala KS itu sederhana: umat disuruh bersimpuh bersatu mengelilingi mereka dalam majelis ilmu maka mendadak persatuan tercipta. Terbukti saat umat bersatu memprotes penghinaan terhadap Al-Quran, mereka malah menjauh darinya, bahkan ingin membubarkannya.

Kritik terhadap fenomena "persatuan kebun binatang" jangan lantas solusi yang ditawarkan adalah menjadi katak dalam tempurung. Wajar katak tidak konflik, lha wong dia sendirian di dalam tempurung tak sudi berbaur dengan umat dalam aksi-aksi keumatan. Katak hanya asyik dengan dunianya sendiri. Kasihan.



Sumber : @elhakimi

Channel : https://telegram.me/islamulia




Join channel : @suaramedia

Join channel : https://telegram.me/suaramedia

Related

Oase 6420977211492442431

Post a Comment

Teknik dan Strategi Menguasai Search Engine Google untuk Memenangkan Kompetisi Website Bisnis

http://picasion.com/

Software GO SMART AND FUN

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Belajar Import dari Cina

INDONESIAN 3D ARCHITECT COMMUNITY

Translate

item