Download Kajian Islam Gratis dari Ust Oemar Mita Lc : Jembatan Untuk Bertemu di Akherat

Dalam kitab Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, suatu hari Imam Ahmad  pernah ditanya tentang maksud zuhud, “Bagaimana cara zuhud terhadap dunia?”

Jawab Imam Ahmad, “Tidak berpanjang angan-angan. Ketika berada di pagi hari, maka ia tidak berkata, “Ahh … Tunggu sore saja.”

Sufyan juga pernah bertanya pada Imam Ahmad, “Bagaimana agar kita tidak panjang angan-angan?” Jawab beliau, “Bisa seperti hanya taufik dari Allah.”


Setiap kita  semua pasti butuh bekal untuk menghadapi hari akhirat. Bekal ini perlu kita siapkan sejak dini sebelum kita memasuki kehidupan alam akhirat.

Sebab dunia ini bukanlah tempat kita menetap dan bukanlah negeri kita sesungguhnya.

Karena itu seyogyanya  setiap mukmin berada pada salah satu dari dua keadaan berikut.


Pertama:

Hidup seperti orang asing yang tinggal di negeri asing. Yang ia lakukan:
  1. Hatinya tidak bergantung pada dunia. Hatinya bergantung pada kampung sesungguhnya yang nanti ia akan kembali, yaitu negeri akhirat.
  2. Mukim di dunia hanya untuk menyiapkan bekal menuju ke kampung akhirat.
  3. Tidak pernah bersaing yaitu antara orang asing tadi dan penduduk asli (penggila dunia).
  4. Tidak pernah gelisah ketika ada yang mendapatkan dunia. Itulah orang asing.
Al-Hasan Al-Bashri berkata,“Seorang mukmin di dunia seperti orang asing. Tidak pernah gelisah terhadap orang yang mendapatkan dunia, tidak pernah saling berlomba dengan penggila dunia. Penggila dunia memiliki urusan sendiri, orang asing yang ingin kembali ke kampung akhirat punya urusan sendiri.”

Kedua:
Hidup seperti seorang musafir atau pengembara yang tidak punya niatan untuk menetap sama sekali. Orang seperti hanya ingin terus menelusuri jalan hingga sampai pada ujung akhirnya, yaitu kematian. Yang ia lakukan:
  1. Terus mencari bekal untuk safarnya supaya bisa sampai di ujung perjalanan.
  2. Tidak punya keinginan untuk memperbanyak kesenangan dunia karena ingin sibuk terus menambah bekal.
Suatu hari Al-Fudhail bin ‘Iyadh. Beliau pernah mengatakan pada seseorang,“Berapa umur yang telah kau lewati?”

Ia menjawab, “Enam puluh tahun.”

Fudhail menyatakan, “Selama 60 tahun ini engkau sedang berjalan menuju Rabbmu dan sebentar lagi engkau akan sampai.”

Orang itu menjawab, “Segala sesuatu milik Allah dan akan kembali pada Allah.”

Fudhail balik bertanya, “Apa engkau tahu arti kalimat yang engkau ucapkan tersebut?” Fudhail lantas melanjutkan, harusnya engkau katakan pula,
“Sesungguhnya aku adalah hamba di sisi Allah dan akan kembali pada-Nya. Siapa saja yang mengetahui Allah itu memiliki hamba dan akan kembali pada-Nya, maka tentu ia tahu bahwa hidupnya akan berakhir. Kalau tahu hidupnya akan berakhir, tentu ia tahu bahwa ia akan ditanya. Kalau ia tahu akan ditanya, maka ia tentu akan mempersiapkan jawaban dari pertanyaan yang ada. ”

Orang itu bertanya pada Fudhail, “Adakah alasan yang bisa dibuat-buat untuk melepaskan diri?”

Fudhail menjawab, “Itu mudah.”

Ia balik bertanya,“Apa itu?”

Fudhail menjawab, “Hendaklah beramal baik di sisa umur yang ada, maka akan diampuni kesalah-kesalahanmu yang terdahulu. Karena jika engkau masih berbuat jelek di sisa umurmu, engkau akan disiksa karena kesalahanmu yang dulu dan sisa umurmu yang ada.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 383)

Lebih lanjut, berkenaan dengan dunia sebagai sarana sekaligus Jembatan Untuk Bertemu di Akherat ini, silahkan simak dalam kajian Ust Oemar Mita  Lc dalam video berikut :




Download Kajian Islam Gratis dari Ust Oemar Mita Lc : Jembatan Untuk Bertemu di Akherat  di sini






Related

Video Kajian Islam 8489583774247528438

Post a Comment

Teknik dan Strategi Menguasai Search Engine Google untuk Memenangkan Kompetisi Website Bisnis

http://picasion.com/

Software GO SMART AND FUN

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

Belajar Import dari Cina

INDONESIAN 3D ARCHITECT COMMUNITY

Translate

item