Buku Ilusi Negara Islam, Teriakan Sia-sia Kaum Sepilis

Kaum Sepilis melontarkan aneka kecaman kasar lewat buku. Hamper dapat dipastikan: Simpati yang mau diraih kaum Sepilis tidak tercapai, sedang makin bertambahnya jumlah yang memusuhi mereka sudah pasti. Itulah kerja sia-sia terbaru kaum Sepilis yang melibatkan para dedengkotnya. Bahkan bukan sekadar sia-sia, namun rugi besar, masih pula menunjukkan jati diri mereka yang kurang bisa membawa diri, hingga jatuhlah harga diri mereka.


 Buku yang berjudul Ilusi Negara Islam itu diluncurkan pada hari Sabtu tanggal 16 Mei 2009. Di dalamnya ada pengantar atau tulisan-tulisan orang yang dikenal nyeleneh bahkan kadang berkata kasar terhadap Islam atau Ummat Islam, di antaranya: Gus Dur, Ahmad Syafi’I Ma’arif, dan A Mustofa Bisri.

Buku Negara Tuhan

Pada tahun 2004, pernah diluncurkan sebuah buku berjudul Negara Tuhan: The Thematic Encyclopaedia yang diterbitkan oleh SR-Ins Publishing — Jogjakarta. Penulisnya (atau yang tercantum namanya, ikut menulis di situ) keroyokan (SR-Ins Team), yaitu Abd Salam Arif, A. Yani Abeveiro, Hamim Ilyas, N.A. Abafaz, A. Maftuh Abegebriel, M. Ishom El-Saha, Mukhlas Syarkun, W. Ghorara, Ibida Syitaba, Muhammad Iqbal Ahnaf, Murba Abu, dan Machasin.

Buku setebal 1000 halaman itu, menyoroti tentang bahaya gagasan negara Islam, bahaya wacana penegakan syari’ah Islam, bahaya fundamentalisme Islam, terorisme Islam yang direpresentasikan melalui Jama’ah Islamiyah. Ketika itu, yang disoroti adalah MMI (Majelis Mujahidin Indonesia), HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), dan JI (Jama’ah Islamiyah).

Secara khusus, pada Bab 10 buku tersebut, diulas tentang MMI dan HTI, dengan judul MMI dan HTI; The Image of The Others yang ditulis oleh Muhammad Iqbal Ahnaf. Sedangkan mengenai JI diulas pada Bab 13 dengan judul Ada Apa Dengan Dokumen JI? Sebuah Penghampiran Hermeneutik yang ditulis oleh A. Maftuh Abegebriel, sang komandan.

Saat itu, PKS (Partai Keadilan Sejahtera) sama sekali luput dari pembahasan buku Negara Tuhan. Meski di tahun 2004 perolehan suara PKS naik secara signifikan dibanding lima tahun sebelumnya. Kemungkinan, PKS (sebelumnya bernama Partai Keadilan dan disingkat PK) tidak diperhitungkan karena dianggap tidak akan mampu melampaui kebesaran partainya orang-orang NU (PKB) dan Muhammadiyah (PAN).

Apalagi, buku Negara Tuhan yang diluncurkan September 2004, merupakan apa yang mereka sebut sebuah ijtihad dan mujahadah kolektif yang dilakukan lebih dari setahun, sebagaimana diakui penggagasnya. Dengan demikian, proses penggarapan buku itu boleh jadi dimulai antara tahun 2002-2003. Di tahun itu (2002-3003), PKS masih bukan siapa-siapa. Sehingga, yang disorot ‘hanya’ MMI dan HTI plus JI yang sedang naik daun akibat kasus terorisme yang melanda sebagian wilayah Indonesia.

Barulah ketika hasil Pemilu 2004 diumumkan, dan menyodorkan fakta mengejutkan bahwa PKS mampu mengungguli perolehan suara partainya orang-orang NU dan Muhammadiyah, keberadaannya menjadi menarik perhatian, terutama bagi para penjaja kesesatan dan bid’ah dholalah yang selama ini sudah terlanjur dicitrakan dan diposisikan sebagai representasi ummat Islam. Apalagi, PKS di tahun 2004 berhasil menguasai DKI Jakarta (DPRD). Belum lagi pada beberapa pilkada, calon dari PKS mengungguli calon dari partai lainnya. Maka hati siapa yang tak terluka. Ibarat gurubesar senior kalah bersaing melawan lulusan strata satu.

Fakta lain yang membuat PKS harus ‘dikuliti’ adalah bahwa HTI tidak punya parpol resmi yang bertarung di arena pemilihan umum. Sedangkan MMI yang sempat dikhawatirkan tumbuh kembang, justru redup sendiri .

Sebelum buku Negara Tuhan diluncurkan, terjadi peristiwa yang memilukan: tokoh-tokoh dari ormas dengan kaliber “gurubesar senior” tadi, ternyata tidak laku di pasaran. Disebut memilukan, karena meski mereka sudah menjual akidahnya, menggadaikan harga dirinya untuk sebuah kekuasaan, namun rakyat tidak berminat menjadikan mereka sebagai pemimpin ummat.

Pada pemilu legislatif 2009, perolehan suara PKS memang tidak mengalami kenaikan mengejutkan sebagaimana pernah terjadi lima tahun sebelumnya. Namun relatif stabil. Boleh jadi, perolehan yang relatif stabil tadi merupakan suara yang murni dari loyalis PKS. Berbeda dengan lima tahun sebelumnya, keberhasilan PKS memperoleh lonjakan suara, diduga berasal dari swing voters yang kecewa terhadap partai-partai lainnya.

Meski tidak ada peningkatan tajam di dalam perolehan suara, faktanya PKS merupakan partai Islam yang paling tinggi perolehan suaranya, dibandingkan dengan partai-partai lain yang mengaku-aku sebagai partai Islam. Bahkan nasib PKS amat sangat jauh lebih baik dibanding dengan PBB (Partai Bulan Bintang), partai Islam yang salah satu pencetusnya adalah Ahmad Soemargono, yang pernah dijuluki fundamentalis oleh media massa.

Dibandingkan dengan PAN, PKB, PPP dan sejumlah partai gurem yang berlabel Islam, PKS memang jauh lebih well-organized, konstituennya jauh lebih kongkrit. Terutama yang berbasis jamaah tarbiyah. Tidak semua massa PKS merupakan jamaah tarbiyah. Massa PKS yang non tarbiyah biasanya terlihat lebih ‘sekuler’ dibandingkan dengan yang berasal dari jamaah tarbiyah. Bisa dilihat dari cara berpakaian, dan sebagainya.

Eksistensi PKS di ranah politik yang relatif stabil meski hanya mampu meraup suara sekitar delapan persen saja, rupanya mampu mengguncang jagad persilatan. Juga, mampu membuat khawatir dan ketar-ketir para pesilat senior dari perguruan sepilis yang kalibernya gurubesar senior.

Oleh karena itu, PKS harus dilawan, kalau perlu dihabisi. Pertama, sebarkan isu Wahabi yang anti Tahlilan dan Maulidan. Bagi penjaja bid’ah dholalah, Tahlilan dan Maulidan dipraktekkan bagai kewajiban agama. Padahal, sepanjang hidupnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengerjakan upacara tahlilan (memperingati orang mati) dan maulidan.

Kedua, bikin penelitian, kemudian hasilnya diterbitkan dalam bentuk buku, kemudian memanfaatkan nama-nama yang dianggap sebagai orang besar sebagai editor dan sebagainya, sehingga bukunya laku tidak hanya di Indonesia tetapi juga di mancanegara. Hal itu perlu ditempuh, mengingat buku Negara Tuhan yang diluncurkan tahun 2004 lalu, kurang sukses di pasaran, sehingga sang penerbit mewakafkan buku tersebut dalam jumlah besar kepada PBNU dan masyarakat luas lainnya. Daripada menuh-menuhin gudang, khan mendingan dibagi-bagi.

Buku Ilusi Negara Islam

Nah, bila kehadiran buku Ilusi Negara Islam yang diluncurkan pada hari Sabtu tanggal 16 Mei 2009 ini dikaitkan dengan kondisi psikologis para “guru besar senior” tadi, para penjaja kesesatan dan bid’ah dholalah, para pesilat dari perguruan sepilis, sama sekali tidak bisa disalahkan.

Menurut laporan media massa, buku tersebut berisi tentang ekspansi gerakan Islam transnasional di Indonesia, dan merupakan hasil penelitian selama lebih dari dua tahun. Buku ini mengungkap asal usul, ideologi, dana, agenda dan gerakan transnasional dan kaki tangannya di Indonesia.

Di dalam prolog-nya, Ahmad Syafi’i Ma’arif mengatakan, “… Masalah Indonesia, bangsa Muslim terbesar di muka bumi, tidak mungkin dipecahkan oleh otak-otak sederhana yang lebih memilih jalan pintas, kadang-kadang dalam bentuk kekerasan…” (hal. 10).

Ahmad Syafi’i Ma’arif memang gemar menggunakan kosakata pejoratif (merendahkan) bagi lawan ideologisnya, antara lain istilah otak-otak sederhana tadi. Tapi jangan lupa, meski seseorang itu hanya memiliki otak sederhana, namun bila ia mendapat ridho dan barokah Allah Subhanahu wa Ta’ala, masih jauh lebih baik dibandingkan dengan otak-otak setan sebagaimana dimiliki para fundamentalis sepilis transnasional yang menjadi kaki tangan neo imperialis, neo kolonialis dan zionis Israel.

Sedangkan A. Mustofa Bisri dalam epilog-nya antara lain mengatakan, “Kebodohan adalah bahaya tersembunyi yang ada dalam setiap orang, mengatasinya adalah dengan terus belajar dan terus mendengarkan orang lain. Karena kebodohan pula ada orang-orang yang berusaha menyenangkan Nabi dengan hanya meniru penampilan lahiriahnya namun mengabaikan aspek khuluqiyahnya…Mereka berpikir, Kanjeng Nabi Muhammad saw., akan bahagia jika umatnya memakai busana sebagaimana beliau pakai empat belas abad yang lalu…” (hal. 235)

Jadi, bagi Mustofa Bisri, seseorang yang mengikuti cara berbusana ala Rasulullah adalah orang yang bodoh. Padahal, seharusnya hal itu ditafsirkan sebagai bagian dari kebebasan berekspresi. Setiap orang bebas mengekspresikan cara berbusananya, yang sesuai dengan ketentuan agama dan keinginan hatinya. Kalau seseorang itu memilih untuk berbusana ala Rasulullah, mengapa ia harus dikatakan bodoh? Apakah seorang Mustofa Bisri diberi wewenang untuk menghakimi pilihan berbusana seseorang?

Siapa sesungguhnya yang dijadikan sasaran tembak Mustofa Bisri dengan untaian kalimat yang menghakimi itu? Rasanya bukan komunitas PKS. Masyarakat luas tahu, sejumlah tokoh yang gemar mencontoh gaya berbusana ala Rasulullah empat belas abad yang lalu adalah para pendiri ormas terbesar yang berbau Islam, juga para elitenya. Kalau pendiri dan elitenya saja dinilai bodoh oleh Mustofa Bisri, bagaimana pula dengan pengikutnya?

Melalui kalimat-kalimat yang dirangkainya itu, Mustofa Bisri nampaknya sedang mengejek kalangannya sendiri. Juga, mengejek para agamawan lain seperti ulama agama Budha, Biarawati, Pastor dan Pendeta. Karena busana yang mereka kenakan sudah ketinggalan zaman, sebab sudah berusia belasan bahkan puluhan abad silam. Toleransi apa sebenarnya yang sedang dijajakan Mustofa Bisri?

Sebuah Perlawanan

Sebenarnya tidak perlu berpayah-payah membaca keseluruhan isi buku berjudul Ilusi Negara Islam ini, karena dengan membaca bab Pengantar Editor berjudul Musuh Dalam Selimut yang ditulis Abdurrahman Wahid, isi hati para guru besar senior itu sudah bisa dipahami.

Selama ini mereka diserang habis-habisan dari kiri dan kanan, bukan hanya oleh PKS dan HTI, tetapi oleh sejumlah komponen ummat Islam yang waras, secara personal-individual maupun institusional. Mereka diposisikan sebagai antek asing yang menjajakan sepilis, pemurtadan, bahkan berbau faham atheisme dan komunisme. Intinya mereka diposisikan sebagai orang-orang yang justru membahayakan Islam dan kesatuan bangsa.

Kini, giliran mereka yang melakukan perlawanan balik. Karena yang paling menonjol dan kongkrit adalah PKS, apalagi PKS berhasil memasuki ranah politik, maka para penjaja kesesatan dan bid’ah dholalah ini seperti kesetanan menguliti PKS.

PKS bersama HTI diposisikan sebagai bagian dari gerakan Islam garis keras transnasional yang meresahkan ormas NU dan Muhammadiyah. Sebagaimana ditulis Abdurrahman Wahid di halaman 23 buku tersebut, dikatakan bahwa “Gerakan garis keras transnasional dan kaki tangannya di Indonesia sebenarnya telah lama melakukan infliltrasi ke Muhammadiyah. Dalam Muktamar Muhammadiyah pada bulan Juli 2005 di Malang, para agen kelompok-kelompok garis keras, termasuk kader-kader PKS dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), mendominasi banyak forum dan berhasil memilih beberapa simpatisan gerakan garis keras menjadi ketua PP Muhammadiyah…” Di halaman 28 Abdurrahman Wahid mengatakan, “Selain terhadap Muhammadiyah, penyusupan juga terjadi secara sistematis terhadap NU…”

Melalui tulisan Abdurrahman Wahid (pengantar editor) itu, kita juga bisa menemukan informasi, bahwa PKS dan HTI berhasil ‘merebut’ sejumlah mesjid yang dikelola komunitas NU dan Muhammadiyah.

Bagi kami yang bukan jamaah Tarbiyah (atau konstituen PKS), bukan pula anggota HTI, bukan juga anggota ormas Muhammadiyah dan apalagi NU, berita itu justru ada makna tersendiri. Karena, sejumlah orang telah berhasil dibebaskan dari kegelapan bid’ah dholalah.

Bagi kami, orang Islam yang tidak partisan, ketika masjid Muhammadiyah dimakmurkan oleh aktivis yang anti bid’ah, justru terasa lebih semarak. Ada pengajian Ahad pagi dengan narasumber yang menarik. Jamaah yang hadir juga cukup semarak, bahkan sebagian dari jamaah datang dengan anggota keluarganya. Khotbah Jum’at di masjid Muhammadiyah juga lebih berbobot. Selama ini, dalam beberapa periode, sejumlah mesjid Muhammadiyah kerap diisi oleh narasumber (khotib) yang berasal dari ormas penjaja bid’ah dholalah. Padahal, Muhammadiyah didirikan justru untuk membersihkan takhayul, bid’ah, dan khurafat (TBC).

Kalau ada aktivis Muhammadiyah yang kemudian menganut dual membership, jangan keburu dimaknai negatif. Karena, mereka yang sejak kecil akrab dengan Muhammadiyah, namun dalam perjalanan waktu melihat kenyataan pahit bahwa Muhammadiyah menjadi lebih ‘toleran’ terhadap TBC. Bahkan akomodatif terhadap aliran sangat sesat: Syi’ah dan sepilis. Bagi mereka, Muhammadiyah sudah melenceng dari garis perjuangannya dan terkesan jumud, padahal seharusnya reformis.

Sedangkan NU (Nahdlatul Ulama) terlihat lebih konsisten dengan “garis perjuangannya” menjajakan TBC, sehingga terlihat lebih ‘berhasil’ menjalankan misinya dibandingkan Muhammadiyah. Kehadiran unsur-unsur pemberantas bid’ah dan sebagainya di Muhammadiyah, seharusnya jangan ditafsirkan sebagai kanker. Seharusnya dimaknai sebagai vaksin TBC yang diperlukan untuk treatment.

Begitu juga bila ada sejumlah jamaah NU yang ‘bedol deso’ masuk ke barisan yang tak mengusung bid’ah, bagi kami yang bukan partisan, itu peristiwa yang mengesankan sekali. Sebab, peristiwa itu memberi makna bahwa sejumlah orang telah terbebas dari kegelapan bid’ah dholalah. Begitulah cara kami memandang.

NU dan Muhammadiyah hanyalah alat, bukan tujuan. Masalahnya, selama ini sejumlah orang telah menjadikan ormasnya itu sebagai tujuan bahkan sumber penghidupan. Sehingga, mereka tidak lagi bisa melihat secara objektif apakah perahu yang ditumpanginya sudah melenceng jauh atau tidak? Bahkan, karena saking tingginya rasa memiliki (dalam makna yang negatif), mereka tidak bisa menerima kehadiran ‘orang lain’ meski bermanfaat. Ini sebenarnya masalah penyakit hati.

Bahkan, boleh dibilang, buku Ilusi Negara Islam, merupakan cetusan isi hati dari orang-orang yang sedang sakit. Apalagi bila kondisi sakit tadi mendapat sandaran berupa hasil penelitian berbagai lembaga asing tentang adanya gerakan Islam garis keras transnasional, yang kemudian berusaha dilokalkan dengan menyelenggarakan penelitian sejenis.

Dari pengantar editor, pemahaman dan pemaknaan tentang gerakan Islam garis keras transnasional, merujuk kepada narasumber bukan lokal. Fakta ini sangat bisa dipahami, karena tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya memang selama ini dikenal sebagai antek asing. Kehadiran buku Ilusi Negara Islam tentu saja sangat bermanfaat, karena melalui buku ini kita bisa ikut merasakan betapa sakitnya hati mereka: sudah habis-habisan menjual akidah dan harga diri, masih saja kurang laku di pasaran.

Related

Peristiwa 1956109037251273673

Post a Comment

Anda Sedang Mencari Panduan Cara Meraih Penghasilan dari Internet..? KLIK DISINI

Total Pageviews

Paling Banyak Dikunjungi

FOLLOW ME ON FANSPAGE

Translate

item